Penulis: kuswanda

  • Perjalanan tanpa Suara

    Perjalanan tanpa Suara

    Kereta Api Pasundan melaju perlahan meninggalkan stasiun Kiara Condong. Suara gesekan roda dengan rel menjadi irama konstan yang mengisi ruang, berpadu dengan dengung halus AC di langit-langit gerbong. Di luar jendela, pemandangan berjalan seperti lukisan panjang yang digeser perlahan: sawah, kebun, rumah-rumah kecil, dan langit yang sedikit berawan.

    Saya berada di gerbong ekonomi 3, duduk di kursi 5A, anak saya di sebelah, 5B. Hari itu kami dalam perjalanan menuju Ciamis. Ada rasa yang sulit dijelaskan—antara lega, haru, dan kehilangan kecil—karena saya akan mengantarkannya kembali ke pondok pesantren. Baru beberapa hari di rumah, rasanya terlalu cepat untuk berpisah lagi.

    Di depan kami, tepatnya di kursi 4A, 4B, 3A, dan 3B, duduk satu keluarga: sepasang suami istri dengan dua anak balita. Di sebelah kiri saya, di kursi 4C dan 4D, ada pasangan lain. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, hingga saya menyadari sesuatu yang berbeda.

    Mereka semua berbicara tanpa suara.

    Tangan-tangan mereka bergerak cepat, wajah mereka penuh ekspresi, mata mereka hidup. Namun tak satu pun kata terdengar. Saya baru mengerti: mereka adalah penyandang tunawicara, mungkin juga tunarungu. Enam orang, dua keluarga, terhubung dalam percakapan yang begitu ramai—namun sunyi.

    Sunyi, setidaknya bagi telinga saya.

    Gerbong hari itu memang sepi. Hanya belasan penumpang yang tersebar jauh di belakang. Tak ada suara riuh anak-anak lain, tak ada percakapan keras seperti biasanya. Yang terdengar hanya kereta… dan keheningan yang anehnya terasa penuh.

    Saya memperhatikan mereka lebih saksama.

    Seorang ayah di depan saya menggerakkan tangannya dengan cepat, diselingi senyum lebar. Istrinya menanggapi dengan ekspresi pura-pura marah, lalu tertawa—meski tanpa suara. Anak kecil di sampingnya menirukan gerakan tangan orang tuanya, lalu tertawa dengan cara mereka sendiri—suara yang lebih seperti hembusan napas ringan.

    Pasangan di sebelah kiri saya pun tak kalah hidup. Sang suami tampak bercerita panjang lebar, sementara istrinya sesekali menepuk lengannya, seolah menyela atau menggoda. Mereka terlihat akrab, hangat, dan… bahagia.

    Saya menoleh ke anak saya. Ia juga memperhatikan mereka.

    “Ayah,” bisiknya pelan, “mereka ngomong apa ya?”

    Saya tersenyum kecil. “Ayah juga nggak tahu.”

    Kami kembali diam. Tapi diam yang kali ini terasa berbeda. Ada rasa ingin mengerti, ingin masuk ke dalam dunia yang sedang mereka jalani.

    Dunia tanpa suara.

    Awalnya, saya merasa dunia itu sunyi. Sepi. Bahkan mungkin menyedihkan. Tapi semakin lama saya memperhatikan, persepsi itu mulai berubah.

    Sunyi, ternyata, bukan berarti kosong.

    Tangan-tangan mereka seperti kata-kata yang menari. Setiap gerakan punya arti. Setiap ekspresi punya emosi. Bahkan mungkin lebih jujur daripada kata-kata yang sering kita ucapkan tanpa berpikir.

    Saya mulai menyadari sesuatu yang selama ini luput.

    Selama ini, saya hidup di dunia yang penuh suara. Tapi sering kali, suara itu tidak benar-benar berarti. Kita berbicara, tapi tidak selalu mendengar. Kita mendengar, tapi tidak selalu memahami.

    Di depan saya, mereka tidak punya suara. Tapi mereka… saling memahami.

    Salah seorang anak tiba-tiba berdiri di kursinya, lalu menunjuk ke arah jendela. Ia menarik tangan ibunya, mengajak melihat sesuatu. Ibunya menoleh, lalu tersenyum lebar. Sang ayah ikut melihat, kemudian mengangguk-angguk.

    Mereka bertiga tertawa. Lagi-lagi tanpa suara. Namun entah mengapa, saya bisa “mendengar” tawa itu.

    Ada kehangatan yang terasa sampai ke tempat duduk saya. Ada kebahagiaan yang menular, meski tanpa satu pun kata.

    Anak saya menyenggol lengan saya pelan. “Ayah…”

    Saya menoleh.

    “Kayaknya mereka bahagia sekali, ya.”

    Saya mengangguk perlahan. “Iya.”

    Kami kembali terdiam, tapi kali ini bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan. Justru karena terlalu banyak yang sedang kami rasakan.

    Kereta terus melaju. Waktu berjalan tanpa terasa. Sesekali, salah satu dari mereka melirik ke arah saya, lalu tersenyum. Saya membalas dengan anggukan kecil. Ada rasa canggung, tapi juga ada rasa… terhubung, meski tanpa bahasa yang sama.

    Saya mulai berpikir—betapa seringnya saya mengeluh tentang hal-hal kecil. Tentang lelah, tentang pekerjaan, tentang hidup yang terasa berat. Padahal di depan saya ada orang-orang yang hidup tanpa suara, tanpa mendengar dunia seperti saya… tapi mereka tetap bisa tertawa, bercanda, dan menikmati kebersamaan.

    Mungkin, bukan suara yang membuat hidup terasa penuh. Mungkin, justru rasa yang kita bagi.

    Anak saya tiba-tiba berdiri sedikit dari kursinya. Ia melihat ke arah anak kecil di depan, lalu mengangkat tangannya dengan canggung. Ia mencoba meniru gerakan sederhana—melambaikan tangan.

    Anak kecil itu melihatnya. Sejenak mereka saling menatap.

    Lalu, anak itu tersenyum lebar dan membalas lambaian tangan anak saya.

    Sederhana. Tapi entah kenapa, hati saya terasa hangat.

    Dua anak dari dunia yang berbeda—yang satu hidup dalam dunia penuh suara, yang satu dalam dunia tanpa suara—bertemu di satu titik yang sama: senyum.

    Saya merasakan sesuatu mengganjal di dada. Perjalanan ini seharusnya tentang mengantar anak kembali ke pesantren. Tentang perpisahan kecil yang selalu terasa berat. Tapi tanpa saya sadari, perjalanan ini memberi saya pelajaran lain.

    Tentang memahami. Tentang mendengar—bukan dengan telinga, tapi dengan hati.

    Kereta mulai melambat. Stasiun Tasikmalaya sudah dekat. Saya melihat keluarga di depan mulai bersiap. Mereka merapikan barang, menggendong anak, dan saling memberi isyarat cepat.

    Sebelum turun, sang bapak menoleh ke arah saya. Ia tersenyum, lalu sedikit menundukkan kepala.

    Saya spontan membalas dengan hal yang sama. Tak ada kata terucap. Tapi saya mengerti maksudnya. Dan mungkin, ia juga mengerti apa yang ingin saya sampaikan.

    Kereta berhenti. Pintu terbuka. Mereka turun satu per satu, tetap dalam dunia mereka yang sunyi—atau mungkin justru dunia yang penuh dengan cara mereka sendiri.

    Saya memperhatikan hingga mereka menghilang di peron. Gerbong kembali terasa kosong. Namun anehnya, kali ini keheningan itu tidak terasa sepi.

    Saya menoleh ke anak saya.

    “Ayah,” katanya pelan, “kalau kita nggak bisa dengar… kita masih bisa bahagia nggak?”

    Saya tersenyum, lalu mengusap kepalanya.

    “Bisa,” jawab saya. “Selama kita masih bisa saling mengerti.”

    Kereta kembali bergerak. Suara roda kembali terdengar. Tapi di dalam hati saya, ada sesuatu yang berubah.

    Hari itu, di dalam gerbong yang sunyi, saya justru belajar arti komunikasi yang sesungguhnya. Bukan tentang suara. Tapi tentang rasa.

  • Lebaran tanpa Cerita

    Lebaran tanpa Cerita

    Lebaran selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan kenangan. Bagi sebagian orang, ia datang dengan aroma opor ayam dan gema takbir bersahutan di langit malam. Tapi bagi saya, Lebaran tahun ini datang dengan sesuatu yang berbeda, sunyi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

    Pagi hari Lebaran tahun lalu, selepas shalat Ied di lapangan kampung, Bapak masih berdiri tegap di depan rumah. Mengenakan baju koko putih yang sudah agak kusam, tapi selalu disetrika rapi. Sarungnya dililit dengan khas, dan peci hitam itu tidak pernah lepas dari kepalanya. Ia menyambut tamu dengan senyum yang hangat, suara yang mantap, dan cerita-cerita yang selalu sama, tapi entah kenapa, tak pernah membosankan.

    Tahun ini, Bapak masih duduk di kursi yang sama di ruang tamu. Tapi sorot matanya berbeda. Kosong, seperti sedang mencari sesuatu yang tak ia temukan.

    “Pak, ini siapa?” tanya saya pelan, sambil menunjuk diri sendiri.

    Bapak menatap saya lama. Lama sekali. Lalu tersenyum.

    “Siapa ya?” katanya balik bertanya dengan raut bingung.

    Dada saya sesak. Saya hanya bisa tersenyum kembali, meskipun rasanya seperti ada yang runtuh di dalam diri saya. Bapak saya, seorang pensiunan guru SD, orang yang paling saya kagumi, kini mulai lupa dengan dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.

    *****

    Bapak sering bercerita tentang masa kecilnya. Tentang bagaimana ia dulu tidak mau sekolah. Katanya, sekolah itu membosankan. Duduk diam, mendengarkan guru, menghafal pelajaran, semua itu menjadi beban baginya. Makanya, selepas lulus SMP ia lebih memilih berjualan kerupuk keliling desa.

    “Dulu Bapak itu bandel,” katanya sambil tertawa. “Pagi-pagi pura-pura berangkat sekolah, tapi sebenarnya belok ke pabrik kerupuk Mang Dullah.”

    Saya selalu tertawa setiap mendengar cerita itu. Sulit membayangkan seorang guru seperti Bapak dulunya suka membolos sekolah.

    “Kenapa Bapak lebih pilih jualan kerupuk?” tanya saya dulu.

    “Karena di jalan itu hidup,” jawabnya. “Ada banyak orang, ada cerita, ada uang juga tentunya,” tambahnya sambil mengedipkan mata.

    Tapi ada satu hal yang membuat saya kagum.

    Meski tidak mau melanjutkan sekolah, Bapak justru ikut kursus bahasa Inggris di kota, Seminggu dua kali, Bapak membawa kerupuk jualannya ke arah ibu kota kabupaten. Jalan sepanjang 12 kilometer ditempuhnya, bukan sekedar jualan kerupuk. Tapi tujuan akhirnya adalah sebuah lembaga kursus bahasa paling tua di kota.

    “Lho, katanya tidak suka belajar?” tanya saya.

    “Itu beda,” katanya. “Bahasa Inggris itu seru. Seperti punya kunci untuk membuka dunia.”

    Saya tidak pernah benar-benar mengerti maksudnya waktu itu. Sampai suatu hari, saya melihat sendiri. Seorang turis asing datang ke Astana Gede, saya dan Bapak kebetulan sedang jalan-jalan di sana. Orang-orang hanya menatap bingung, tapi Bapak maju dengan percaya diri.

    Can I help you?” katanya dengan logat yang tidak sempurna, tapi jelas dan berani.

    Turis itu tersenyum dan mulai berbicara. Bapak melayani dengan lancar. Saya berdiri di sampingnya, terpukau. Sejak saat itu, saya tahu, Bapak memang berbeda.

    *****

    Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kakak tertua Bapak, yang saya panggil Wa Suryo, tidak setuju dengan pilihan hidupnya.

    “Kamu itu harus sekolah!” kata Wa Suryo suatu hari, seperti yang sering diceritakan Bapak.

    “Tapi saya sudah bisa cari uang,” bantah Bapak.

    “Ini bukan soal uang. Masa depanmu itu penting,” jawab Uwa tegas.

    Akhirnya, dengan setengah hati, Bapak dipaksa melanjutkan sekolah ke SPG, Sekolah Pendidikan Guru.

    Awalnya, ia menjalani semuanya dengan ogah-ogahan. Tapi seperti yang sering terjadi, sesuatu berubah di tengah jalan.

    “Waktu pertama kali praktik mengajar, Bapak lihat anak-anak itu… polos,” katanya suatu malam. “Mereka butuh orang yang bisa mendidik, bukan cuma mengajarkan pelajaran, tapi juga membekali mereka cara hidup.”

    Dari situlah, katanya, ia mulai menemukan makna. Bapak yang dulu sering kabur dari sekolah, justru menjadi guru. Dan bukan sekadar guru biasa. Ia dikenal sebagai guru yang sabar, yang tidak hanya mengajar dengan buku, tapi dengan hati. Ia sering mengajak murid-muridnya bermain sambil belajar, bahkan sesekali menyelipkan bahasa Inggris sederhana dalam pelajaran.

    Good morning!” katanya setiap pagi di kelas, yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya dengan penuh semangat.

    Saya tumbuh dengan cerita-cerita itu. Dengan sosok Bapak yang tidak sempurna, tapi penuh perjuangan. Ia bukan orang yang lahir dari keluarga berada, bukan pula yang selalu berada di jalur lurus. Tapi justru dari belokan-belokan itulah, ia menemukan jalannya. Dan saya bangga. Sangat bangga.

    *****

    Lebaran tahun ini, rumah Bapak tetap ramai. Saudara datang silih berganti. Tawa terdengar, makanan tersaji, anak-anak bermain berlarian di halaman yang luas.

    Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang berbeda. Bapak tidak lagi menjadi pusat cerita. Ia duduk diam, sesekali tersenyum, tapi tidak benar-benar terlibat.

    Seorang tamu datang, muridnya waktu SD.

    “Pak Guru!” sapa pria itu dengan wajah sumringah. “Masih ingat saya? Dulu saya murid Bapak di SD Cieurih 2!”

    Bapak menatapnya. Lama. Lalu tersenyum.

    “Maaf, kamu siapa ya?” katanya pelan.

    Pria itu terdiam. Senyumnya perlahan memudar, tapi ia berusaha tetap tegar.

    “Saya… murid Bapak, Pak.”

    “Oh…” jawab Bapak singkat.

    Saya melihat mata pria itu berkaca-kaca. Ia menunduk, mencium tangan Bapak dengan takzim, lalu berpamitan. Saya ingin menghentikannya, ingin menjelaskan, tapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokan.

    *****

    Malam harinya, setelah tak ada lagi tamu berkunjung, saya duduk di samping Bapak.

    “Pak,” kata saya pelan, “dulu Bapak ingin jadi apa?”

    Bapak menatap saya. Kali ini, matanya sedikit lebih hidup.

    “Jadi… penjual kerupuk,” jawabnya sambil tersenyum kecil.

    Saya tertawa pelan.

    “Terus kenapa jadi guru?”

    Ia terdiam sejenak. Lalu berkata, “Karena…dipaksa sama Uwa kamu.”

    Kami sama-sama tertawa.

    Untuk sesaat, rasanya seperti Bapak yang dulu kembali. Saya menggenggam tangan Bapak. Tangan yang dulu kuat menggandeng saya ke sekolah. Tangan yang terampil menulis dengan kapur tulis di papan tulis, yang membimbing murid-muridnya, yang bekerja tanpa lelah.

    Kini, tangan itu terasa lebih rapuh.

    “Pak,” kata saya, “terima kasih ya.”

    “Untuk apa?” tanyanya.

    “Untuk semuanya.”

    Bapak tersenyum, tanpa benar-benar mengerti.

    Tapi tidak apa-apa.

    Karena saya tahu, meskipun ingatannya memudar, semua yang telah ia lakukan akan tetap hidup. Di dalam diri saya, dalam diri murid-muridnya, dalam setiap cerita yang pernah ia bagikan.

    Lebaran kali ini memang berbeda. Tidak ada lagi cerita panjang dari Bapak di ruang tamu. Tidak ada lagi tawa kerasnya yang memenuhi rumah. Tidak ada lagi nasihat-nasihat sederhana namun selalu tepat sasaran. Tapi ada sesuatu yang tetap tinggal.

    Kenangan.

    Dan mungkin, itulah makna Lebaran yang sesungguhnya, bukan hanya tentang kembali ke rumah, tapi juga kembali ke hati. Mengingat, menghargai, dan menerima perubahan yang tidak bisa kita hindari. Saya menatap Bapak yang kini terlelap di kursinya.

    “Selamat Lebaran, Pak,” bisik saya pelan.

    Dan untuk pertama kalinya, saya sadar, tidak semua kehilangan harus terasa pahit. Selama kita masih mengingat, mereka tidak pernah benar-benar pergi.

  • Jangan Sampai Terlewat! 5 Cara Mengisi Liburan Idulfitri yang Seru dan Bermanfaat bagi Siswa

    Jangan Sampai Terlewat! 5 Cara Mengisi Liburan Idulfitri yang Seru dan Bermanfaat bagi Siswa

    Libur Idulfitri menjadi salah satu momen yang paling ditunggu oleh para siswa, selain libur semester dan libur akhir tahun. Setelah menjalani berbagai aktivitas belajar di sekolah, mengerjakan tugas, serta mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik, seperti Pesantren Kilat, akhirnya datang juga waktu untuk beristirahat sejenak. Biasanya libur Idulfitri berlangsung cukup panjang, bahkan bisa mencapai dua minggu. Waktu yang cukup lama ini tentu menjadi kesempatan yang sangat baik bagi kita semua untuk menyegarkan pikiran, berkumpul bersama keluarga, sekaligus melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat.

    Namun demikian, liburan bukan berarti waktu untuk bermalas-malasan tanpa arah. Justru liburan yang baik adalah liburan yang tetap memberikan nilai positif bagi diri kita. Oleh karena itu, penting bagi setiap siswa untuk memanfaatkan masa libur Idulfitri ini dengan kegiatan yang bermanfaat, menyenangkan, sekaligus tetap membangun karakter yang baik.

    Pertama, gunakan waktu liburan untuk mempererat hubungan dengan keluarga. Idulfitri identik dengan kebersamaan dan silaturahmi. Setelah satu bulan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, hari raya menjadi momen untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan kekeluargaan. Para siswa dapat memanfaatkan waktu ini untuk membantu orang tua di rumah, berkumpul bersama keluarga besar, serta menjaga hubungan baik dengan tetangga dan kerabat. Hal-hal sederhana seperti membantu membersihkan rumah, menyiapkan hidangan untuk tamu, atau sekadar menemani orang tua berbincang bisa menjadi kegiatan yang sangat berarti.

    Kedua, manfaatkan liburan untuk tetap menjaga kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan Ramadhan. Selama Ramadhan, kita terbiasa bangun lebih pagi, melaksanakan ibadah dengan lebih disiplin, serta menjaga perilaku dan ucapan. Kebiasaan baik ini seharusnya tidak berhenti setelah Ramadhan berakhir. Liburan Idulfitri bisa menjadi waktu yang tepat untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Misalnya dengan tetap menjaga shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, atau melakukan kegiatan positif lainnya yang dapat memperkuat nilai-nilai spiritual dalam diri kita.

    Ketiga, liburan juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan diri. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh siswa selama liburan, seperti membaca buku, mempelajari keterampilan baru, atau mencoba hal-hal kreatif. Bagi siswa yang memiliki minat di bidang teknologi, misalnya, liburan bisa digunakan untuk mencoba membuat proyek sederhana, belajar pemrograman dasar, atau mempelajari hal-hal baru yang belum sempat dipelajari di sekolah. Sementara itu, siswa yang menyukai kegiatan kreatif dapat mencoba menulis, menggambar, membuat kerajinan, atau membuat konten edukatif yang bermanfaat.

    Keempat, jangan lupa untuk menjaga kesehatan. Liburan sering kali identik dengan berbagai hidangan lezat, terutama saat Idulfitri. Makanan seperti ketupat, opor, rendang, dan berbagai kue kering tentu sangat menggoda. Namun demikian, kita tetap perlu menjaga pola makan agar kesehatan tetap terjaga. Selain itu, usahakan untuk tetap melakukan aktivitas fisik ringan seperti berolahraga, berjalan santai, atau membantu pekerjaan rumah agar tubuh tetap bugar.

    Kelima, manfaatkan liburan untuk merefleksikan diri dan mempersiapkan langkah ke depan. Liburan dua minggu merupakan waktu yang cukup baik untuk melakukan evaluasi diri. Para siswa dapat merenungkan kembali apa saja yang telah dicapai selama belajar di sekolah, serta apa yang masih perlu diperbaiki. Dengan melakukan refleksi, kita dapat menyusun rencana yang lebih baik untuk menghadapi kegiatan belajar setelah liburan berakhir.

    Selain itu, penting juga bagi siswa untuk tetap menjaga sikap dan perilaku selama masa liburan. Meskipun tidak berada di lingkungan sekolah, dan lepas dari atribut seragam sekolah, setiap siswa tetap membawa nama baik dirinya, keluarga, dan sekolah. Oleh karena itu, jagalah perilaku yang baik di masyarakat, baik dalam pergaulan langsung maupun dalam penggunaan media sosial. Gunakan media sosial secara bijak dan hindari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

    Liburan Idulfitri harus menjadi momen untuk kembali dengan semangat yang baru. Setelah menikmati waktu bersama keluarga dan melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat, para siswa diharapkan dapat kembali ke sekolah dengan pikiran yang lebih segar, semangat belajar yang lebih tinggi, serta motivasi yang lebih kuat untuk meraih prestasi.

    Mari kita jadikan liburan Idulfitri sebagai waktu yang menyenangkan dan penuh makna. Gunakan waktu dengan bijak, isi hari-hari dengan kegiatan positif, dan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

    Selamat menikmati liburan Idulfitri. Semoga kebersamaan dengan keluarga membawa kebahagiaan, dan semoga kita semua dapat kembali ke sekolah dengan semangat baru untuk belajar dan berkarya. Liburan ini menjadi kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih disiplin, dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

    Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir & Bathin.

  • Konsisten Juara! Raya Tambah Koleksi Prestasi Taekwondo

    Konsisten Juara! Raya Tambah Koleksi Prestasi Taekwondo

    Prestasi membanggakan ditorehkan oleh salah satu siswa SMKN 4 Padalarang. Raya Dwi Haryadi, siswa kelas XI Teknik Elektronika B, kembali mengharumkan nama sekolah melalui capaian gemilang di cabang olahraga beladiri Taekwondo.

    Pada ajang ITN Open IX yang digelar di Gymnasium UPI, Jalan Setiabudhi, Kota Bandung, pada 14–15 Februari 2026, Raya sukses mempersembahkan medali dari dua kelas berbeda.

    Adapun prestasi yang diraih adalah:

    • 🥇 Juara 1 Poomsae Freestyle U-17 Individu Putra
    • 🥉 Juara 3 Poomsae U-30 Team Putra Prestasi

    Kejuaraan Taekwondo antarunit se-Jawa Barat ini diselenggarakan oleh Institut Taekwondo Nusantara (ITN), dan dikenal sebagai salah satu kejuaraan terbesar, paling konsisten, serta paling diminati oleh para taekwondoin maupun Unit Taekwondo di Jawa Barat. Pada tahun ini saja, ajang tersebut diikuti oleh 2.000-an taekwondoin yang berasal dari 24 Pengcab Taekwondo Indonesia dan 188 unit se-Jawa Barat. Tingginya jumlah peserta menunjukkan ketatnya persaingan yang harus dihadapi setiap atlet, termasuk Raya.

    Keberhasilan meraih juara di kelas Poomsae Freestyle U-17 Individu Putra menjadi bukti kemampuan teknik, kreativitas, serta penguasaan gerakan yang sangat baik. Sementara itu, raihan juara 3 di kelas Poomsae U-30 Team Putra Prestasi menunjukkan kemampuan kerja sama tim dan kekompakan yang solid.

    Pada apel pagi tanggal 25 Februari 2026, Kepala SMKN 4 Padalarang, Dr. Edi Gunawan, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi yang tinggi kepada Raya atas prestasi yang diraihnya. Penghargaan tersebut menjadi bentuk dukungan sekolah terhadap siswa yang berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

    Prestasi ini tentu bukan yang pertama bagi Raya. Selama ini, ia memang dikenal sebagai siswa yang konsisten menorehkan berbagai pencapaian di bidang Taekwondo. Tambahan dua medali ini semakin memperkaya koleksi prestasi yang telah ia raih sebelumnya, sekaligus mengukuhkan namanya sebagai salah satu atlet muda berbakat yang dimiliki SMKN 4 Padalarang.

    Keberhasilan Raya diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus mengembangkan potensi diri di bidang masing-masing. Dengan disiplin, kerja keras, dan dukungan dari sekolah, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi dan membawa nama baik sekolah ke tingkat yang lebih tinggi.

    Selamat dan sukses untuk Raya Dwi Haryadi. Semoga prestasi ini menjadi langkah menuju pencapaian yang lebih besar di masa mendatang.

    konsisten juara taekwondo

    SMKN 4 Padalarang — Terdepan, Berprestasi, Berkarya, dan Membanggakan.

  • Resolusi: Jangan Cuma Janji, Tunjukkan Aksi

    Resolusi: Jangan Cuma Janji, Tunjukkan Aksi

    Setiap awal tahun, kita sering mendengar atau bahkan membuat resolusi. Ada yang ingin nilainya naik, lebih rajin belajar, lebih disiplin, atau lebih aktif di sekolah. Resolusi biasanya ditulis dengan penuh semangat di awal tahun, tapi sayangnya, banyak yang terlupakan sebelum tahun itu benar-benar berjalan jauh.
    Memasuki tahun 2026, ada satu hal penting yang perlu kita pahami bersama: resolusi bukan sekadar janji, tapi rencana yang harus dijalankan. Lebih dari itu, resolusi seharusnya diawali dengan refleksi, bukan hanya harapan.

    Mengapa Resolusi Sering Gagal?
    Banyak siswa merasa resolusinya tidak tercapai. Beberapa alasannya sederhana, tetapi sering terjadi:
    • Resolusi terlalu umum, misalnya “ingin rajin belajar”
    • Tidak punya rencana yang jelas
    • Semangat hanya di awal tahun
    • Tidak konsisten menjalankan kebiasaan kecil
    Tanpa disadari, kita sering mengulangi pola yang sama setiap tahun: menulis resolusi baru, tetapi lupa mengevaluasi yang lama.

    Langkah Awal: Evaluasi Diri
    Sebelum membuat resolusi 2026, coba luangkan waktu sejenak untuk bertanya pada diri sendiri:
    • Apa target saya tahun lalu?
    • Mana yang tercapai?
    • Mana yang belum tercapai?
    • Apa penyebabnya?
    Evaluasi bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi untuk belajar dari pengalaman. Dari sini, kita bisa membuat resolusi yang lebih masuk akal dan bisa dijalankan.

    Menentukan Resolusi yang Jelas
    Resolusi yang baik adalah resolusi yang jelas dan spesifik. Bandingkan dua contoh berikut:
    • “Saya ingin belajar lebih giat.”
    • “Saya akan belajar minimal 30 menit setiap hari setelah magrib.”
    Resolusi kedua lebih jelas dan mudah dilakukan. Agar lebih rapi, resolusi bisa dibagi ke beberapa bidang:
    • Akademik (nilai, keterampilan)
    • Sikap dan karakter (disiplin, tanggung jawab)
    • Kesehatan (istirahat, olahraga)
    • Pengembangan diri (hobi, kreativitas)
    Tidak perlu terlalu banyak. Dua atau tiga resolusi utama sudah cukup, asalkan dijalankan dengan konsisten.

    Buat Strategi Sederhana
    Setelah resolusi ditentukan, langkah berikutnya adalah memikirkan caranya. Inilah yang disebut strategi.
    Contoh:
    • Resolusi: nilai matematika meningkat
    • Strategi: Mencatat ulang materi penting, Bertanya jika tidak paham, Latihan soal sedikit tapi rutin
    Strategi tidak harus rumit. Justru strategi yang sederhana lebih mudah dijalankan.

    Turunkan ke To-Do List Harian dan Mingguan
    Resolusi besar akan terasa berat jika tidak dipecah menjadi langkah kecil. Karena itu, buatlah:
    • To-do list harian, misalnya: Mengerjakan PR tepat waktu, Membaca ulang catatan 15 menit
    • To-do list mingguan, misalnya: Merangkum satu bab pelajaran, Mengulang materi yang sulit
    Langkah kecil yang dilakukan setiap hari jauh lebih efektif daripada belajar keras tapi jarang.

    Bangun Kebiasaan, Bukan Nunggu Mood
    Sering kali kita menunggu mood atau semangat untuk belajar. Padahal, kebiasaan lebih penting daripada motivasi. Motivasi bisa naik turun, tetapi kebiasaan akan tetap berjalan jika sudah terbentuk.
    Contohnya:
    • Belajar di jam yang sama setiap hari
    • Menyimpan buku di tempat yang mudah dijangkau
    • Mengurangi distraksi saat belajar
    Dengan kebiasaan yang baik, resolusi tetap berjalan meskipun sedang malas.

    Pantau dan Evaluasi Secara Berkala
    Resolusi tidak harus ditunggu sampai akhir tahun untuk dievaluasi. Coba lakukan evaluasi sederhana:
    • Setiap minggu: apa yang sudah saya lakukan?
    • Setiap bulan: apakah resolusi masih berjalan?
    • Jika belum, apa yang perlu diperbaiki?
    Evaluasi ini membantu kita tetap sadar pada tujuan dan tidak kehilangan arah.

    Gagal Itu Wajar, Menyerah Itu Pilihan
    Akan ada hari ketika kita malas, lupa, atau tidak sesuai rencana. Itu wajar. Yang penting adalah tidak berhenti hanya karena satu kegagalan. Bangkit kembali dan lanjutkan.
    Ingat, resolusi bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi lebih baik dari sebelumnya.

    Penutup
    Resolusi tahun 2026 seharusnya bukan sekadar tulisan di awal tahun, tetapi langkah nyata yang dijalani setiap hari. Dengan evaluasi, tujuan yang jelas, strategi sederhana, dan kebiasaan kecil yang konsisten, resolusi bukan lagi mimpi, melainkan proses perubahan. Tahun baru adalah kesempatan baru.
    Sekarang pertanyaannya: resolusi 2026-mu sudah siap dijalankan, atau masih sekadar rencana?

  • Febby Syahrul Fahrurodzi: Melangkah Pelan, Tumbuh Pasti di Era Teknologi

    Febby Syahrul Fahrurodzi: Melangkah Pelan, Tumbuh Pasti di Era Teknologi

    Di tengah derasnya perkembangan teknologi, selalu ada sosok-sosok muda yang tumbuh perlahan tapi pasti, menapaki jalannya sendiri. Salah satunya adalah Febby Syahrul Fahrurodzi, alumni SMKN 4 Padalarang kelahiran 11 Februari 2002. Lahir dari keluarga sederhana, dengan orang tua yang bekerja sebagai karyawan swasta, Febby tumbuh dengan nilai yang kuat: kerja keras, tekun, dan tidak cepat menyerah. Nilai-nilai itu menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia teknologi yang penuh tantangan.


    Febby menyelesaikan pendidikan di SMKN 4 Padalarang pada tahun 2020, tepat ketika pandemi membuat banyak hal berubah. Namun, masa sulit itu justru membentuk ketahanan mentalnya. Ia merasakan betul bahwa sekolah di SMK bukan hanya soal hadir di kelas, mencatat materi, atau mengumpulkan tugas. Lebih dari itu, SMK adalah tempat untuk mempraktikkan ilmu.

    Belajarnya di jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) menjadi titik awal dirinya membangun pondasi. Dari mengelola jaringan, memperbaiki perangkat, hingga troubleshooting, semuanya ia alami langsung. Ia juga merasakan bagaimana guru-guru TKJ memberi ruang untuk mencoba, ruang untuk salah, dan ruang untuk bangkit lagi.

    “Kesempatan dan kepercayaan yang diberikan menjadi bagian penting dalam perjalanan saya hingga hari ini.”
    — Febby Syahrul Fahrurodzi

    Kebiasaan melihat masalah secara tenang dan menyelesaikannya langkah demi langkah yang ia pelajari di sekolah, ternyata menjadi bekal emas saat memasuki dunia kerja.

    Menapak Dunia Profesional: Dari Cloud Engineer hingga IT Consultant
    Hanya setahun setelah lulus, Febby sudah bergabung sebagai Cloud Engineer di PT eBdesk Teknologi (Februari 2021). Di sana ia menjaga infrastruktur cloud, memastikan keamanan sistem, dan melakukan optimalisasi layanan. Dunia cloud membuatnya terus belajar, apalagi teknologi bergerak sangat cepat.

    Kariernya berkembang cepat. Pada Januari 2023, ia bergabung sebagai IT Consultant di PT Landmark Ltd, sebuah posisi yang menuntutnya memahami kebutuhan klien, menganalisis sistem, dan merancang solusi teknologi. Di saat yang sama, sejak Maret 2022 ia juga menjadi IT Consultant di sebuah Instansi Pemerintahan, ikut berkontribusi pada transformasi digital di sektor publik.

    Setiap tempat memberinya sudut pandang baru. Dunia korporasi mengajarkan ketelitian dan kecepatan, sementara dunia pemerintahan membuatnya melihat bagaimana teknologi bisa mempermudah masyarakat.

    Hal lain yang menarik dari perjalanan Febby adalah kecintaannya untuk berbagi ilmu. Sejak Januari 2022 ia menjadi Tutor di SMK Bina Rahayu, kembali bertemu dengan dunia yang dulu membesarkannya. Januari hingga Juni 2023, ia juga menjadi Tutor di Universitas Amikom Yogyakarta. Mengajar menjadi cara Febby menata dan merapikan kembali simpanan ilmunya, sekaligus memberi dampak untuk generasi berikutnya. Di tengah semua aktivitasnya, ia terus belajar dan akhirnya meraih gelar S1 Teknik Informatika dari Universitas Budi Luhur.

    Saat diminta menyampaikan kesan tentang SMKN 4 Padalarang, Febby tidak banyak berpikir. Baginya, sekolah adalah titik awal di mana ia berkembang paling pesat. Ia merasakan bagaimana materi jurusan TKJ memberikan dasar kuat, dan bagaimana praktek langsung membuatnya paham dunia kerja lebih awal.

    “Kesempatan dan kepercayaan yang diberikan menjadi bagian penting dalam perjalanan saya hingga hari ini.”

    Itu bukan sekadar kalimat. Itu adalah rangkuman pengalaman seorang anak muda yang diberi ruang untuk tumbuh. Ketika diminta untuk memberikan pesan untuk adik-adiknya di SMK, Febby memberikan pesan yang sederhana tapi sangat kuat:


    “Tidak perlu terburu-buru. Selesaikan segala sesuatunya langkah demi langkah. Jangan takut gagal.”

    Menurutnya, perjalanan karier bukan lomba lari sprint, tapi maraton. Yang paling penting bukan seberapa cepat kamu berangkat, tetapi seberapa konsisten kamu melangkah. Febby juga memberikan beberapa catatan tentang teknologi yang berkembang saat ini yaitu Artificial Intelligence (AI). Mengikuti dinamika teknologi hari ini, Febby menyadari banyak yang takut pada perkembangan besar seperti AI. Namun ia memandangnya secara berbeda. Ia teringat pesan dari pimpinannya:


    “Siapa pun yang mampu memanfaatkan AI, dialah pemenangnya.”

    Teknologi bukan musuh. Ia adalah alat. Dan alat hanya bermanfaat bagi mereka yang mau belajar. Ia menutup pesannya dengan lima langkah sederhana bagi generasi muda:
    • Susun strategi berjangka
    • Lakukan evaluasi
    • Moratorium
    • Reorientasi
    • Restrukturisasi
    “Langkah-langkah itu membuat kita lebih siap menghadapi perubahan yang semakin cepat”ungkapnya menutup perbincangan.

    Note:
    * Disarikan dari interview Sidik Hanafiah dengan Febby Syahrul Fahrurodzi via WA

  • Untuk Para Bintang

    Untuk Para Bintang

    Pesan seorang Guru untuk Murid-Muridnya dalam Perayaan Hari Guru Nasional

    Anak-anakku yang Bapak sayangi,

    Pada perayaan Hari Guru Nasional kali ini, izinkan Bapak menyampaikan sebuah pesan tulus dari lubuk hati yang paling dalam, bukan sekadar ucapan formal yang disampaikan dalam upacara, tetapi suara kecil yang selama ini mungkin tidak pernah kalian dengar. Suara yang sering tertutup oleh kesibukan kalian belajar, oleh tugas-tugas yang menumpuk, oleh deadline waktu yang tak pernah cukup.

    Pertama-tama, izinkan Bapak mengucapkan terima kasih kepada kalian semua. Sungguh, tanpa kalian, profesi guru hanyalah pekerjaan rutin tanpa warna. Kalianlah yang membuat Bapak kembali mengingat mengapa dulu memilih jalan ini, bahkan ketika lelah fisik dan mental datang, ketika masalah pribadi menumpuk, atau ketika rutinitas terasa berat. Senyum kalian, celoteh kalian, rasa ingin tahu kalian, bahkan tingkah-tingkah “menyimpang” yang kadang membuat kepala pening, semua itu adalah warna-warni yang membuat hari-hari Bapak hidup.

    Dibalik setiap teguran, setiap peraturan, setiap tugas yang Bapak berikan kepada kalian, atau bahkan nampak kemarahan yang kalian terima, ada niat yang tidak selalu kalian pahami: keinginan agar kalian tumbuh, agar kalian kuat fisik dan mental, siap menghadapi dunia yang tidak selalu ramah. Kadang Bapak harus bersikap tegas, berteriak yang keras, dan mungkin kalian pada saat itu merasa tidak disukai. Tapi ketahuilah, tidak akan pernah Bapak merasa bahagia saat membuat kalian sedih. Jika ada ketegasan, itu semata-mata karena Bapak ingin kalian menjadi versi terbaik dari diri kalian.

    Anak-anakku,

    Bapak selalu percaya bahwa setiap dari kalian adalah Bintang bercahaya, meski mungkin ada yang masih redup, ada yang merasa belum cukup terang, ada yang merasa kalah jauh bersinar dibanding teman-temannya. Tapi kalian harus tahu satu hal: “tidak ada bintang yang tidak bersinar; yang ada hanyalah bintang yang menunggu waktunya untuk tampak di langit”. Dan disinilah tugas guru, membantu kalian menampakan cahaya itu. Kadang melalui pelajaran, kadang melalui nasihat, atau lewat perhatian kecil seperti bertanya “apakah kamu sudah makan?” atau “apakah kamu baik-baik saja hari ini?”

    Dalam perjalanan sampai sejauh ini, Bapak juga masih belajar, belajar memahami perasaan kalian, belajar menjadi pendengar yang baik, belajar menahan emosi ketika kalian sulit diatur, belajar meredam tingkah kalian yang over, belajar mencari cara agar kalian tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat menghadapi kenyataan hidup. Karena kalian, Bapak menjadi manusia yang lebih sabar, lebih mengerti, lebih paham dunia kalian, dan lebih bersyukur. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa hubungan antara guru dan murid hanya satu arah. Kita sama-sama tumbuh, sama-sama belajar, dan saling membentuk.

    Anak-anakku,

    Dunia kalian saat ini jauh berbeda dengan dunia tempat Bapak tumbuh dulu. Sekarang kalian akan banyak mendapat tekanan, menemui kesulitan, penuh tuntutan, dan banyak ketidakpastian. Jika suatu hari nanti kalian merasa lelah, merasa gagal, atau merasa tidak mampu, ingatlah bahwa guru kalian selalu percaya pada kalian. Ingatlah bahwa ada seseorang yang diam-diam mendoakan agar kalian menemukan jalan hidup terbaik yang indah. Ada seseorang yang bangga meski kalian hanya berani mencoba, bukan hanya ketika kalian berhasil.

    Jika kalian terjatuh, segera bangunlah. Jika  ada orang lain meremehkan, buktikan dengan kemampuan kalian, kalian pasti bisa. Jika kalian pernah melakukan kesalahan, jangan takut untuk memperbaikinya dan mencoba lagi. Dan jika suatu hari, hidup kalian terasa lebih berat daripada biasanya, ingatlah bahwa kalian tidak sendiri. Sekolah ini, rumah kedua kalian. Dan di rumah itu, ada guru-guru yang membuka pintu tanpa perlu diketuk, yang akan mendengar tanpa menghakimi, dan yang akan mendukung tanpa pamrih.

    Pada Hari Guru Nasional ini, Bapak tidak ingin kalian hanya mengenang apa yang sudah diajarkan. Kenang juga doa-doa yang tidak pernah diucapkan tetapi selalu dipanjatkan. Kenang perhatian yang tidak pernah diminta tetapi selalu diberikan. Kenang bahwa seorang guru adalah manusia biasa yang juga punya mimpi, dan salah satu mimpi itu adalah melihat kalian berhasil dan berperilaku baik.

    Terakhir, anak-anakku,

    Jika suatu hari nanti kalian menjadi seorang yang hebat, entah menjadi maintenance engineer, network engineer, programmer, marketer, R&D Assistant, Agripreneur, pemimpin, pengusaha, atau bahkan menjadi guru seperti Bapak, ingatlah bahwa perjalanan kalian dimulai dari kelas kecil ini. Dan jika kalian kelak menoleh kembali, Bapak hanya berharap satu hal: kalian akan tersenyum, lalu berkata, “Guru saya dulu percaya pada saya… dan saya tidak akan mengecewakannya.”

    Selamat Hari Guru Nasional.

    Terima kasih telah menjadi bagian dari hidup Bapak. Guru bukan sekedar profesi, tapi jalan hidup, keteladanan, dan pengabdian. Terima kasih telah menjadi alasan untuk Bapak terus mengajar dengan sepenuh hati. Semoga kalian tumbuh menjadi manusia yang membanggakan, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi guru dan almamater, dan terutama bagi orangtua kalian.

    Dengan kasih,

    Guru kalian

  • Penyambutan Kepala Sekolah Baru SMKN 4 Padalarang

    Penyambutan Kepala Sekolah Baru SMKN 4 Padalarang

    Padalarang — Suasana penuh kehangatan sangat terasa di Aula SMKN 4 Padalarang pada Rabu pagi (5/11/2025) saat warga sekolah menyambut kedatangan Kepala Sekolah baru, Dr. Edi Gunawan, S.Pd., M.Pd. Acara penyambutan berlangsung khidmat, dihadiri oleh seluruh guru, tenaga kependidikan, Ketua Komite Sekolah, perwakilan siswa, serta Pengawas Pembina dari Kantor Cabang Dinas Wilayah VI Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

    Dr. Edi Gunawan, atau yang akrab disapa Pak Egun, bukanlah sosok asing bagi keluarga besar SMKN 4 Padalarang. Sebelum dipercaya memimpin SMKN Pertanian Pembangunan (PP) Lembang selama lebih dari lima tahun, beliau pernah menjadi guru Bahasa Inggris di sekolah ini. Kembalinya beliau disambut dengan antusias oleh para guru dan staf yang masih mengenangnya sebagai sosok pendidik yang komunikatif, dan dekat dengan semua kalangan.

    Acara penyambutan dimulai dengan upacara singkat, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari perwakilan guru dan manajemen SMKN 4 Padalarang dan juga SMKN PP Lembang sebagai sekolah yang ditinggalkan Pak Egun. Semua perwakilan SMKN 4 Padalarang mengucapkan selamat datang kepada kepala sekolah baru. Dalam sambutannya, Pa Egun menyampaikan rasa haru dan bangganya bisa kembali ke lingkungan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

    “Saya seperti pulang ke rumah sendiri. Banyak wajah yang masih saya kenal, dan tentu banyak juga wajah baru yang siap berjuang bersama untuk membawa SMKN 4 Padalarang menjadi sekolah “TERDEPAN”yang lebih maju dan berprestasi,” ujar Pa Egun dalam sambutannya.

    Beliau menekankan pentingnya kebersamaan, komunikasi terbuka, dan ketaatan tegak lurus pada pimpinan sebagai kunci utama keberhasilan organisasi sekolah.

    “Saya mohon kepada seluruh warga sekolah—baik guru, tenaga kependidikan, maupun siswa—untuk “Sami’na wa Atho’na”, selalu mau mendengar, mau diajak berdiskusi, dan yang paling penting, taat pada pimpinan. Karena dengan satu komando, kita akan lebih mudah melangkah menuju tujuan bersama,” tambahnya.

    Sementara itu, Ketua komite Sekolah, Suhendar, S.P., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas semangat kekeluargaan di SMKN 4 Padalarang. Ia juga berharap kepemimpinan baru ini dapat membawa semangat baru bagi pengembangan mutu pendidikan vokasi di Jawa Barat pada khususnya.

    Ketua Komite Sekolah juga menyampaikan rasa optimis dengan kehadiran Pak Egun. “Beliau orangnya disiplin, tapi juga komunikatif. Kami yakin dengan kepemimpinan beliau, SMKN 4 Padalarang akan semakin berkembang,” ujarnya.

    Di akhir acara, seluruh peserta berfoto bersama sebagai simbol dimulainya babak baru kepemimpinan di SMKN 4 Padalarang. Dengan pengalaman panjang dan rekam jejak yang kuat di dunia pendidikan vokasi, Pak Egun diharapkan mampu membawa semangat baru serta memperkuat budaya kerja yang kolaboratif dan berintegritas tinggi.

    Penyambutan kepala sekolah baru ini menjadikannya bukan saja momen seremonial, melainkan juga penegasan komitmen seluruh warga sekolah untuk terus bergerak maju, mewujudkan SMKN 4 Padalarang yang “TERDEPAN” dalam membentuk generasi yang Terampil, Edukatif, Religius, dan Dedikatif dengan semangat Excellent, Peduli, Aktif, dan Nasionalis.

  • Kiprah dan Perjalanan Karier Firman Danny: Dari Pengabdian Menuju Kepemimpinan

    Kiprah dan Perjalanan Karier Firman Danny: Dari Pengabdian Menuju Kepemimpinan

    Awal November ini menjadi momen yang membahagiakan sekaligus mengharukan bagi keluarga besar SMKN 4 Padalarang. Salah satu guru terbaik dan sosok panutan di lingkungan sekolah, Bapak Firman Danny, S.Pd., M.Pd., resmi dilantik menjadi Kepala Sekolah SMKN Peternakan Lembang. Penugasan ini tentu menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi panjangnya selama lebih dari 2 (dua) dasawarsa di dunia Pendidikan. Di SMKN 4 Padalarang sendiri beliau sudah mengabdi selama 15 tahun. Tentu saja hal ini juga sekaligus permulaan babak baru dalam perjalanan kariernya sebagai pemimpin di satuan pendidikan.

    Bapak Firman Danny dikenal sebagai guru Matematika yang tidak hanya menguasai bidang keilmuannya, tetapi juga piawai dalam membimbing siswa dengan cara yang hangat dan inspiratif. Di mata siswa, beliau adalah guru yang tegas namun selalu memotivasi, mengajarkan bahwa pelajaran matematika bukan sekadar angka, tetapi juga logika berpikir dan ketekunan. Sementara bagi rekan-rekan sejawat, beliau dikenal sebagai pribadi yang humoris, rendah hati, pekerja keras, dan selalu membawa suasana positif di lingkungan pekerjaan.

    Selama bertugas di SMKN 4 Padalarang, Bapak Firman Danny tidak hanya aktif di dalam kelas. Beliau juga aktif menjadi pembina Pramuka dan pernah juga mengemban amanah penting sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, peran yang menuntut kemampuan manajerial sekaligus kepekaan terhadap dinamika permasalahan peserta didik. Dalam masa jabatannya, berbagai program pembinaan karakter, kegiatan ekstrakurikuler, dan penegakan kedisiplinan siswa berjalan dengan baik. Beliau dikenal mampu menyeimbangkan ketegasan dengan empati, dua hal yang menjadikannya figur panutan di kalangan guru maupun siswa.

    Selain kiprah di bidang kesiswaan, Bapak Firman Danny juga aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan sekolah. Ia selalu terlibat dalam perencanaan program, lomba, hingga kegiatan keagamaan dan sosial. Prinsip yang dipegangnya sederhana: “Sekolah maju karena kerja bersama.” Sikap ini pula yang menjadikan beliau sosok yang mudah diterima dan dihormati di setiap lingkungan tempat ia berada.

    Kini, amanah baru sebagai Kepala SMKN Peternakan Lembang menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi beliau untuk mengabdi dalam lingkup yang lebih luas. Dengan pengalaman panjang dan jiwa kepemimpinan yang matang, banyak yang meyakini bahwa beliau akan mampu membawa SMKN Peternakan Lembang ke arah yang lebih baik, khususnya dalam memperkuat budaya kerja, inovasi pembelajaran, dan karakter siswa.

    Dalam pesan perpisahannya di hadapan guru dan tenaga kependidikan SMKN 4 Padalarang, Bapak Firman Danny menyampaikan rasa haru dan terima kasih yang mendalam:

    “Selama lima belas tahun saya belajar banyak di sekolah ini. Dari rekan-rekan guru, dari siswa, bahkan dari setiap pengalaman kecil yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik. SMKN 4 Padalarang sudah seperti rumah kedua bagi saya. Mohon doa dan dukungan agar saya bisa menjalankan amanah baru ini dengan sebaik-baiknya.”

    Kepala SMKN 4 Padalarang pun turut menyampaikan rasa bangga atas penugasan tersebut. “Kami merasa kehilangan sosok guru dan pemimpin yang berintegritas, tetapi juga bangga karena salah satu putra terbaik sekolah ini dipercaya memimpin lembaga lain. Semoga jejak pengabdiannya menjadi inspirasi bagi kita semua,” ujarnya.

    Seluruh keluarga besar SMKN 4 Padalarang mengucapkan selamat dan sukses kepada Bapak Firman Danny, S.Pd., M.Pd., atas amanah baru sebagai Kepala SMKN Peternakan Lembang. Semoga di tempat yang baru, beliau senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, dan kebijaksanaan dalam memimpin, serta terus menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan vokasi di Jawa Barat.

    Terima kasih atas 15 tahun pengabdian, dedikasi, dan teladan yang telah diberikan untuk SMKN 4 Padalarang.

    Selamat bertugas di tempat baru, Bapak Firman Danny, semoga langkah baru ini membawa keberkahan dan kemajuan bagi dunia pendidikan.

  • Iwan Purnama: Anak Petani Penjaga Laut Indonesia

    Iwan Purnama: Anak Petani Penjaga Laut Indonesia

    Iwan Purnama adalah salah satu alumni Program Keahlian Teknik Elektronika Industri SMKN 4 Padalarang angkatan pertama yang patut menjadi inspirasi bagi adik-adiknya di sekolah. Lahir di pinggiran Bandung pada tahun 2004 dari keluarga petani, Iwan tumbuh dengan semangat kerja keras dan keinginan kuat untuk membanggakan orang tuanya.

    Sejak duduk di bangku sekolah, Iwan dikenal sebagai siswa yang disiplin dan tekun. Meski berasal dari keluarga petani, ia tidak pernah malu membantu orang tuanya di kebun setiap akhir pekan. “Dari kecil saya diajarkan untuk tidak takut bekerja keras,” ujarnya suatu ketika mengenang masa-masa itu.

    Setelah lulus dari SMKN 4 Padalarang tahun 2022, Iwan tidak langsung bekerja di dunia industri. Ia memilih menempuh jalur berbeda, yaitu mendaftar sebagai calon Bintara TNI Angkatan Darat (AD). Sayangnya, pada kesempatan pertama itu ia belum berhasil. Iwan sempat kembali ke kampung dan membantu orang tuanya di kebun sambil menata semangatnya yang sempat turun.

    Namun kegagalan sebelumnya tidak membuatnya menyerah. Iwan bertekad mencoba lagi, kali ini usahanya ia lakukan di TNI Angkatan Laut (AL). Berbekal disiplin, latihan fisik, dan tekad pantang menyerah, akhirnya pada tahun 2023 ia berhasil lulus seleksi Calon Bintara TNI AL. Cita-cita yang sempat tertunda akhirnya terwujud.

    Iwan kemudian menjalani pendidikan Bintara AL di Kodiklatal Surabaya selama delapan bulan. Mulai dari Maret hingga Desember 2023 ia ditempa dengan keras. Setelah lulus, ia lalu melanjutkan ke pendidikan kecabangan Korps Pelaut di Pusat Pendidikan Pelaut (Pusdikpel) mulai Januari hingga April 2024. Disinilah ia mempelajari berbagai keterampilan tentang kehidupan dan tugas di laut, termasuk navigasi, kedisiplinan kapal, serta kerja sama tim di lingkungan militer.

    Kini, Iwan berdinas di Puskopal Surabaya sebagai anggota aktif TNI Angkatan Laut. Ia menjalankan tugas dengan penuh semangat dan rasa bangga, menyadari bahwa setiap langkah yang ia tempuh adalah hasil dari perjuangan panjang dan doa orang tuanya.

    Kisah Iwan Purnama menjadi bukti nyata bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Dari seorang anak petani yang terbiasa bekerja di kebun, ia kini menjadi prajurit penjaga lautan nusantara. Tekad, kerja keras, dan ketulusan telah mengantarkannya sejauh ini. Bagi keluarga besar SMKN 4 Padalarang, Iwan adalah contoh nyata alumni yang berkarakter kuat, tangguh, dan pantang menyerah. Semoga kisahnya dapat menginspirasi seluruh siswa untuk terus berusaha mencapai impian masing-masing, apa pun jalan yang dipilih.