Sore itu, langit Padalarang mulai berubah warna. Matahari yang sejak siang terasa terik perlahan meredup, menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Seperti biasa, selepas menyelesaikan tugas mengajar di sekolah, saya mengendarai motor untuk pulang ke rumah.
Jalan Raya Padalarang sedang padat merayap. Deretan kendaraan memenuhi ruas jalan. Motor, mobil, angkutan umum, semuanya bergerak perlahan seolah sedang berbaris dalam antrean panjang yang tak kunjung usai. Di tengah kepadatan itu, pikiran saya masih dipenuhi berbagai hal tentang sekolah: tentang materi yang harus disiapkan, tugas siswa yang belum selesai diperiksa, dan rencana-rencana pembelajaran untuk esok hari.
Saat itulah, di antara suara mesin kendaraan dan klakson yang bersahutan, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang begitu akrab.
“Pak Kuswandaaaaa…!”
Suara itu terdengar cukup keras, seolah sengaja diteriakkan agar mampu menembus hiruk-pikuk jalan raya.
Saya spontan menoleh.
Di jalur yang berlawanan, seorang perempuan muda mengendarai motor matic. Wajahnya tertutup helm, tetapi sorot matanya terasa sangat familiar. Hanya butuh beberapa detik bagi saya untuk mengenalinya.
Nadiana.
Teman-temannya memanggilnya Naya. Salah satu siswi angkatan pertama Jurusan Teknik Elektronika Industri di sekolah kami.
Saya terkejut sekaligus senang. Dalam situasi seperti itu, bertemu seorang alumni tentu bukan hal yang luar biasa. Namun yang membuat hati saya tersentuh adalah kenyataan bahwa di tengah kemacetan, di tengah kesibukan masing-masing, ia masih mengenali dan menyempatkan diri untuk menyapa gurunya.
Dengan spontan saya mengangkat tangan dan membalas,
“Hai, Naya!”
Mungkin sapaan itu tidak terdengar jelas olehnya karena jarak dan kebisingan kendaraan. Namun saya yakin ia melihat gerakan tangan saya.
Arus kendaraan terus bergerak. Kami tidak mungkin berhenti. Tidak ada kesempatan untuk berbincang atau sekadar menanyakan kabar. Hanya beberapa detik yang tersedia sebelum kendaraan membawa kami ke arah yang berbeda.
Tetapi justru dalam hitungan detik itulah saya merasakan sesuatu yang begitu hangat.
Saat motor kami saling menjauh, saya sempat melihat melalui spion. Di sana, Naya pun melakukan hal yang sama. Tangannya terangkat, melambaikan salam perpisahan kecil.
Saya pun membalas dengan senyum. Lalu kami benar-benar berpisah. Masing-masing kembali melanjutkan perjalanan.
Namun entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang, peristiwa sederhana itu terus teringat.
Sebagai seorang guru, sering kali kita tidak menyadari seberapa jauh jejak yang telah kita tinggalkan di hati para siswa. Bertahun-tahun mengajar, ribuan nama hadir silih berganti. Ada yang masih sering berkomunikasi, ada yang sesekali memberi kabar, dan tidak sedikit yang akhirnya tenggelam dalam kesibukan kehidupan masing-masing.
Karena itu, ketika seorang alumni masih mengingat gurunya, itu bukanlah perkara kecil. Apalagi dalam situasi seperti yang saya alami sore itu.
Sejujurnya, Naya memiliki banyak alasan untuk berpura-pura tidak melihat. Ia bisa saja fokus pada jalan. Ia bisa saja merasa sungkan. Ia bisa saja berpikir bahwa saya tidak akan mengenalinya lagi. Atau bahkan ia bisa saja memilih diam karena terburu-buru menuju suatu tempat.
Namun ia tidak melakukan itu. Ia memilih menyapa. Memanggil nama gurunya dengan penuh semangat.
Dan bagi saya, tindakan sederhana itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada yang mungkin ia bayangkan.
Saya teringat kembali masa-masa awal berdirinya Jurusan Teknik Elektronika Industri. Saat itu segala sesuatu masih serba merintis. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Kami berusaha membangun budaya belajar, membentuk karakter siswa, dan meyakinkan banyak pihak bahwa jurusan ini memiliki masa depan yang baik.
Naya adalah bagian dari perjalanan awal itu.
Mungkin ia tidak menyadarinya, tetapi setiap alumni angkatan pertama memiliki tempat tersendiri dalam hati para guru. Mereka adalah generasi yang ikut membangun fondasi. Mereka belajar saat segala sesuatu masih dalam proses berkembang. Mereka menjadi saksi sekaligus pelaku dari perjalanan panjang sebuah jurusan.
Kini, melihat mereka tumbuh dewasa, bekerja, melanjutkan pendidikan, atau sekadar menjalani kehidupan dengan baik, selalu menghadirkan rasa syukur yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Sore itu, kemacetan Padalarang mengajarkan saya kembali tentang satu hal. Bahwa keberhasilan seorang guru tidak selalu diukur dari nilai rapor, piala kejuaraan, atau sertifikat penghargaan.
Kadang-kadang, keberhasilan itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Sebuah sapaan tulus di jalan raya. Sebuah panggilan yang terdengar di tengah kemacetan. Sebuah lambaian tangan dari seorang alumni yang masih menyimpan rasa hormat kepada gurunya.
Bagi sebagian orang, mungkin peristiwa itu dianggap kejadian biasa yang berlangsung beberapa detik. Tetapi bagi saya, itu adalah pengingat bahwa hubungan antara guru dan murid sesungguhnya tidak berakhir saat kelulusan tiba.
Ada ikatan yang tetap hidup, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Ikatan yang muncul dalam sebuah senyum, sebuah sapaan, dan sebuah lambaian tangan kecil di tengah padatnya Jalan Raya Padalarang.
Terima kasih, Naya!
Sapaan singkatmu sore itu mungkin hanya berlangsung sesaat. Namun kehangatan yang ditinggalkannya akan saya kenang jauh lebih lama daripada kemacetan yang menjadi latar pertemuan kita hari itu.

Tinggalkan Balasan