Penulis: kuswanda

  • SMKN 4 Padalarang Semarakkan World Cleanup Day dengan Aksi Bersih Sekolah dan Lingkungan Sekitar

    SMKN 4 Padalarang Semarakkan World Cleanup Day dengan Aksi Bersih Sekolah dan Lingkungan Sekitar

    Padalarang — Dalam rangka memperingati World Cleanup Day (WCD), SMKN 4 Padalarang melaksanakan kegiatan aksi bersih lingkungan di area sekolah dan lingkungan sekitar sekolah dengan radius hingga 300 meter. Kegiatan ini menjadi momentum bagi seluruh warga sekolah untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.

    Kegiatan World Cleanup Day di SMKN 4 Padalarang dibuka secara langsung oleh Kepala SMKN 4 Padalarang, Dr. Edi Gunawan, S.Pd., M.Pd. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Pengawas Pembina SMK dari KCD VI Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Erik Pratama, S.Pd., MT., serta diikuti oleh siswa, guru, tenaga kependidikan, dan berbagai elemen sekolah lainnya.

    Dalam kegiatan tersebut, seluruh peserta bergerak bersama membersihkan lingkungan sekolah dan area di sekitar sekolah. Kegiatan tidak hanya difokuskan pada halaman dan fasilitas sekolah, tetapi juga menyasar lingkungan sekitar dalam radius 300 meter. Para peserta melakukan pemungutan sampah, membersihkan area yang terlihat kotor, serta memilah sampah yang ditemukan agar lingkungan menjadi lebih bersih, rapi, dan nyaman.

    Kebersamaan menjadi salah satu hal yang terlihat dalam pelaksanaan kegiatan. Para siswa bersama guru dan tenaga kependidikan bekerja secara gotong royong di berbagai titik yang telah ditentukan. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik tidak hanya mendapatkan pengalaman dalam menjaga kebersihan, tetapi juga belajar mengenai pentingnya kerja sama, kepedulian terhadap lingkungan, serta tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.

    Dalam sambutannya, Pengawas Pembina SMK, Erik Pratama, S.Pd., MT., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan World Cleanup Day di SMKN 4 Padalarang. Menurutnya, kegiatan bersih lingkungan tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu, tetapi perlu dilanjutkan menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

    Beliau mengajak seluruh siswa dan elemen sekolah lainnya untuk menjadikan kegiatan menjaga kebersihan sebagai budaya yang dilakukan secara konsisten.

    Kegiatan seperti ini jangan hanya dilakukan hari ini. Mari kita teruskan menjadi sebuah kebiasaan yang konsisten, baik di sekolah maupun di rumah dan lingkungan tempat tinggal masing-masing,” demikian pesan yang disampaikan dalam sambutannya.

    Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kebersihan lingkungan membutuhkan partisipasi dan kesadaran setiap individu. Sekolah dapat menjadi tempat yang baik untuk membangun kebiasaan tersebut sebelum diterapkan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

    Sementara itu, Kepala SMKN 4 Padalarang, Dr. Edi Gunawan, S.Pd., M.Pd., dalam pembukaan kegiatannya turut mendorong seluruh warga sekolah untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga lingkungan. Pelaksanaan World Cleanup Day diharapkan tidak hanya menghasilkan lingkungan sekolah yang bersih, tetapi juga membangun karakter peserta didik yang peduli terhadap lingkungan dan memiliki rasa tanggung jawab sosial.

    Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang bersih, sehat, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran. Lingkungan yang terawat diharapkan dapat memberikan suasana yang lebih baik bagi seluruh warga SMKN 4 Padalarang.

    Pelaksanaan World Cleanup Day di SMKN 4 Padalarang menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian sekolah terhadap lingkungan. Lebih dari sekadar kegiatan membersihkan sampah, aksi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun budaya hidup bersih dan peduli lingkungan secara berkelanjutan.

    Dengan semangat gotong royong yang ditunjukkan seluruh peserta, SMKN 4 Padalarang berkomitmen untuk terus menumbuhkan kebiasaan menjaga kebersihan, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan tempat tinggal masing-masing. Lingkungan yang bersih tercipta bukan sebatas hasil dari kegiatan bersih-bersih insidental, melainkan buah dari kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten.

  • Pak Deden Abdurahman Sampaikan Filosofi Tangga dalam Amanat Pembina Upacara

    Pak Deden Abdurahman Sampaikan Filosofi Tangga dalam Amanat Pembina Upacara

    SMKN 4 Padalarang — Pelaksanaan upacara bendera di SMKN 4 Padalarang, Senin (10/8/2026), berlangsung dengan tertib dan khidmat. Pada kesempatan tersebut, Pak Deden Abdurahman, Kepala Program Keahlian Agribisnis Tanaman, bertindak sebagai pembina upacara.

    Dalam amanatnya, Pak Deden menyampaikan pesan motivasi kepada seluruh peserta didik melalui sebuah filosofi sederhana, yaitu “Filosofi Tangga.” Tangga atau Taraje (B. Sunda) menjadi simbol perjalanan seseorang dalam mencapai tujuan dan meraih keberhasilan.

    Pak Deden menjelaskan bahwa sebuah tangga memang dirancang untuk membantu seseorang mencapai tempat yang lebih tinggi. Namun, tangga tidak dapat membawa seseorang naik dengan sendirinya. Seseorang tetap harus bergerak, menginjak anak tangga pertama, kemudian melanjutkan ke anak tangga berikutnya hingga mencapai puncak.

    Filosofi tersebut menggambarkan bahwa keberhasilan dalam kehidupan tidak dapat diperoleh hanya dengan memiliki cita-cita. Diperlukan kemauan untuk memulai, usaha yang sungguh-sungguh, serta konsistensi dalam menjalani setiap tahapan.

    Untuk sampai ke atas, kita harus bergerak menuju anak tangga pertama, kemudian anak tangga kedua, ketiga, dan seterusnya,” pesan Pak Deden dalam amanatnya.

    Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan peserta didik. Setiap siswa tentu memiliki cita-cita dan tujuan yang ingin dicapai. Ada yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bekerja di dunia industri, menjadi wirausahawan, maupun mengembangkan keahlian sesuai dengan bidang yang dipelajari di sekolah.

    Namun, cita-cita tersebut tidak dapat dicapai secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui. Kehadiran di sekolah, kedisiplinan, kesungguhan mengikuti pembelajaran, menyelesaikan tugas, mengembangkan keterampilan, serta membangun karakter merupakan bagian dari “anak tangga” yang harus dilewati oleh setiap siswa.

    Dalam perjalanan tersebut, tidak semua langkah akan terasa mudah. Akan ada tantangan, kesalahan, bahkan kegagalan. Namun, setiap tantangan dapat menjadi pengalaman yang memberikan pelajaran berharga. Yang terpenting adalah tidak berhenti melangkah ketika menghadapi kesulitan.

    Filosofi tangga juga mengajarkan pentingnya menghargai proses. Seseorang tidak perlu terlalu sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain yang mungkin sudah berada lebih jauh. Setiap orang memiliki tangga dan perjalanan masing-masing. Hal yang paling penting adalah terus bergerak maju dan menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.

    Bagi peserta didik SMKN 4 Padalarang, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa sekolah merupakan salah satu tahapan penting dalam mempersiapkan masa depan. Kompetensi yang dipelajari, pengalaman yang diperoleh, serta karakter yang dibangun selama berada di sekolah merupakan bekal untuk melangkah menuju kehidupan setelah lulus.

    Melalui amanat tersebut, Pak Deden mengajak seluruh siswa untuk tidak hanya memiliki impian, tetapi juga berani mengambil langkah nyata untuk mewujudkannya.

    Tangga dapat membawa kita menuju tempat yang lebih tinggi, tetapi kita sendirilah yang harus melangkah. Mulailah dari anak tangga pertama, teruslah bergerak, dan jangan berhenti sebelum mencapai tujuan.

    Upacara bendera kemudian dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan sekolah lainnya. Pesan yang disampaikan dalam amanat tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh peserta didik untuk terus belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

  • Sebuah Renungan dari Upacara Senin Pagi di SMKN 4 Padalarang

    Sebuah Renungan dari Upacara Senin Pagi di SMKN 4 Padalarang

    Upacara bendera setiap hari Senin bukan sekadar rutinitas untuk mengawali pekan. Dibalik barisan yang rapi dan pengibaran Sang Merah Putih, sering kali tersimpan pesan-pesan berharga yang dapat menjadi bahan renungan bagi seluruh warga sekolah. Demikian pula yang terjadi pada upacara Senin pagi 3 Agustus 2026 di SMKN 4 Padalarang, ketika pembina upacara, Bapak Suhana Ningrat, yang juga guru Seni Budaya, menyampaikan sebuah refleksi sederhana namun sangat bermakna mengenai tujuan siswa datang ke sekolah.

    Beliau mengungkapkan bahwa pada dasarnya terdapat tiga tipe siswa berdasarkan tujuan mereka bersekolah. Pesan ini tidak dimaksudkan untuk memberi label kepada siapa pun, melainkan sebagai bahan introspeksi agar setiap peserta didik mampu menilai dirinya sendiri dan menentukan arah yang lebih baik.

    Tipe pertama adalah siswa yang datang ke sekolah dengan tujuan untuk belajar. Inilah kelompok siswa yang memahami bahwa sekolah merupakan tempat untuk membangun masa depan. Mereka hadir bukan sekadar mengisi daftar hadir, tetapi benar-benar ingin memperoleh ilmu, mengembangkan keterampilan, membentuk karakter, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja maupun pendidikan yang lebih tinggi.

    Siswa dengan tujuan seperti ini biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka aktif bertanya ketika belum memahami materi, tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan, serta memanfaatkan berbagai kesempatan yang diberikan sekolah, mulai dari kegiatan pembelajaran di kelas, praktik di bengkel, laboratorium, organisasi, hingga berbagai perlombaan. Mereka sadar bahwa setiap pengalaman yang diperoleh di sekolah merupakan investasi yang akan sangat berharga di masa depan.

    Tipe kedua adalah siswa yang bersekolah sebatas menjalankan kewajiban atau menaati keinginan orang tua. Mereka hadir setiap hari karena merasa bahwa sekolah adalah kewajiban yang harus dijalani. Motivasi utama mereka bukan berasal dari diri sendiri, melainkan dari dorongan keluarga.

    Kelompok ini sebenarnya memiliki potensi yang besar. Namun, apabila motivasi tersebut tidak berkembang menjadi kesadaran pribadi, mereka cenderung menjalani kegiatan belajar sekadar memenuhi kewajiban. Mereka datang ke sekolah, mengikuti pelajaran, lalu pulang tanpa benar-benar memahami makna dari proses pendidikan yang sedang mereka jalani.

    Yang dibutuhkan oleh siswa dalam kategori ini adalah proses menemukan tujuan hidup dan cita-cita mereka sendiri. Ketika suatu saat mereka menyadari bahwa ilmu yang diperoleh di sekolah adalah bekal untuk masa depan mereka sendiri, maka motivasi eksternal perlahan akan berubah menjadi motivasi internal. Perubahan inilah yang akan membuat mereka belajar dengan lebih sungguh-sungguh.

    Tipe ketiga adalah siswa yang datang ke sekolah hanya untuk mendapatkan uang saku atau uang jajan. Mungkin terdengar sederhana, bahkan mengundang senyum, tetapi kenyataan ini memang dapat ditemukan di berbagai sekolah. Fokus utama mereka bukan pada pembelajaran, melainkan pada manfaat sesaat yang diperoleh dari datang ke sekolah.

    Jika kondisi ini dibiarkan, tentu akan menjadi kerugian besar bagi siswa itu sendiri. Kesempatan belajar yang seharusnya menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik justru terlewatkan. Padahal, masa sekolah adalah waktu yang tidak akan terulang kembali. Ilmu yang tidak dipelajari hari ini tidak dapat digantikan begitu saja di kemudian hari.

    Pesan yang disampaikan Bapak Suhana Ningrat mengajak seluruh siswa untuk bertanya kepada diri sendiri, “Saya datang ke sekolah untuk tujuan yang mana?” Pertanyaan sederhana ini memiliki makna yang sangat mendalam. Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan bagaimana seseorang memanfaatkan setiap harinya selama berada di sekolah.

    Sebagai sekolah kejuruan, SMKN 4 Padalarang tidak hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan, tetapi juga keterampilan, karakter, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, serta kesiapan memasuki dunia kerja, dunia usaha, maupun melanjutkan pendidikan. Seluruh fasilitas, guru, laboratorium, bengkel praktik, dan berbagai program sekolah akan memberikan manfaat maksimal apabila dimanfaatkan oleh siswa yang memiliki tujuan yang jelas.

    Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Siswa yang awalnya datang hanya karena disuruh orang tua atau sekadar mengejar uang saku tetap memiliki kesempatan untuk mengubah pola pikirnya. Perubahan besar sering kali dimulai dari kesadaran yang sederhana, yaitu menyadari bahwa masa depan ditentukan oleh pilihan yang diambil hari ini.

    Semoga pesan yang disampaikan Pembina Upacara, sekaligus staff Kesiswaaan dalam upacara Senin pagi ini menjadi pengingat bagi seluruh warga SMKN 4 Padalarang bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk hadir secara fisik, tetapi tempat untuk bertumbuh, belajar, berkarya, dan mempersiapkan masa depan. Marilah kita menjadi siswa yang datang ke sekolah dengan semangat belajar, karena ilmu, keterampilan, dan karakter yang dibangun hari ini akan menjadi bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang.

  • Membangun Prestasi, Karakter, dan Menjadi Lebih Baik Setiap Hari

    Membangun Prestasi, Karakter, dan Menjadi Lebih Baik Setiap Hari

    “Setiap murid yang berdiri di lapangan hari ini adalah murid terpilih. Masuk ke SMKN 4 Padalarang adalah prestasi, sedangkan bertahan, berkembang, dan lulus dengan karakter unggul adalah perjuangan yang sesungguhnya.”

    Suasana khidmat menyelimuti lapangan SMKN 4 Padalarang pada upacara bendera kali ini. Upacara ini menjadi momentum penting yang menandai dimulainya perjalanan belajar seluruh peserta didik, khususnya bagi murid kelas X yang baru saja menyelesaikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) serta murid kelas XI yang kini memasuki jenjang berikutnya dengan tanggung jawab yang lebih besar.

    Dalam amanatnya, Bapak Asep Ridwan selaku pembina upacara menyampaikan bahwa upacara bendera bukan sekadar kegiatan rutin setiap hari Senin, melainkan menjadi titik awal untuk menumbuhkan semangat baru, memperkuat karakter, serta membangun komitmen dalam menjalani proses pendidikan di SMKN 4 Padalarang.

    Bagi murid kelas X, upacara tersebut menjadi penanda bahwa mereka kini telah resmi menjadi bagian dari keluarga besar SMKN 4 Padalarang. Setelah beberapa hari mengikuti MPLS, mengenal lingkungan sekolah, budaya, tata tertib, serta nilai-nilai yang dijunjung tinggi, kini saatnya mereka memasuki proses belajar yang sesungguhnya.

    Namun ada satu hal yang patut disadari oleh seluruh murid baru. Mereka adalah murid-murid pilihan.

    Untuk dapat diterima di SMKN 4 Padalarang bukanlah perkara mudah. Pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini, jumlah pendaftar mencapai lebih dari 2.000 calon murid, sementara daya tampung sekolah jauh lebih terbatas. Artinya, setiap murid kelas X yang berdiri di lapangan upacara pagi ini telah berhasil melewati persaingan yang ketat dan menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi untuk menjadi bagian dari sekolah ini.

    Keberhasilan tersebut bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Prestasi saat diterima harus dibuktikan kembali melalui kedisiplinan, semangat belajar, kerja keras, dan sikap yang baik selama menempuh pendidikan.

    Sementara itu, bagi murid kelas XI, pembina upacara mengingatkan bahwa mereka juga merupakan siswa-siswa yang memiliki daya juang tinggi. Tidak semua teman seangkatan mereka mampu bertahan hingga memasuki tahun kedua pembelajaran. Dalam perjalanan selama satu tahun terakhir, ada belasan siswa yang memilih mengundurkan diri, pindah sekolah, ataupun tidak dapat melanjutkan pendidikan karena berbagai alasan, termasuk ketidakmampuan mengikuti aturan dan budaya disiplin yang diterapkan di sekolah.

    Karena itu, murid kelas XI patut bersyukur sekaligus bangga atas pencapaian tersebut. Mereka telah menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi, belajar, dan bertahan menghadapi tantangan yang ada. Kini mereka memiliki peran baru sebagai kakak kelas yang akan menjadi teladan bagi adik-adiknya.

    “Setiap perkataan, sikap, dan perilaku kalian akan diperhatikan dan bahkan ditiru oleh murid kelas X. Jadilah contoh dalam kedisiplinan, sopan santun, semangat belajar, dan tanggung jawab,” pesan pembina upacara yang juga seorang guru Pendidikan Pancasila ini.

    Lebih lanjut disampaikan bahwa kesuksesan seseorang tidak dibangun oleh satu tindakan besar, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Datang tepat waktu, menghormati guru dan teman, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, serta memiliki kejujuran merupakan kebiasaan sederhana yang akan membentuk karakter seorang pelajar.

    Sebagai sekolah kejuruan, SMKN 4 Padalarang tidak hanya mempersiapkan peserta didik agar memiliki kompetensi teknis sesuai bidang keahliannya, tetapi juga membentuk karakter profesional yang akan menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja, dunia usaha, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

    Saat ini, dunia industri tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan, tetapi juga pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, jujur, mampu bekerja sama, serta memiliki kemauan untuk terus belajar. Keterampilan dapat terus diasah, tetapi karakter yang baik harus dibangun sejak berada di bangku sekolah.

    Oleh karena itu, seluruh murid diajak membiasakan sikap-sikap sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti datang tepat waktu, bersikap jujur dalam setiap pekerjaan, bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, menghormati guru, orang tua, dan teman, serta tidak pernah berhenti belajar dan bertanya.

    Pak Asep Ridwan juga mengajak seluruh peserta didik untuk menjadikan tahun ajaran baru sebagai lembaran baru. Apa pun pencapaian maupun kekurangan pada tahun sebelumnya hendaknya dijadikan pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

    Setiap hari adalah kesempatan untuk berkembang. Setiap tugas adalah kesempatan untuk belajar. Setiap tantangan adalah kesempatan untuk menguatkan diri. Tidak perlu selalu menjadi yang terbaik dibandingkan orang lain, tetapi berusahalah menjadi lebih baik dibandingkan diri sendiri pada hari kemarin.

    Di akhir amanatnya, seluruh siswa diajak membangun komitmen sederhana namun bermakna: datang ke sekolah dengan niat untuk belajar, pulang membawa ilmu, dan meninggalkan jejak kebaikan setiap hari.

    Harapan besar pun disampaikan kepada seluruh keluarga besar SMKN 4 Padalarang agar tahun ajaran baru ini menjadi awal lahirnya semakin banyak prestasi, inovasi, dan karakter unggul dari para peserta didik.

    Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang lulusan SMK tidak hanya diukur dari ijazah atau nilai akademiknya, tetapi juga dari integritas, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, serta karakter yang melekat dalam dirinya.

    Diakhir amanatnya, beliau menyampaikan pesan kepada seluruh murid agar terus belajar, terus bertumbuh, dan membuktikan bahwa menjadi bagian dari SMKN 4 Padalarang adalah sebuah prestasi yang harus dijaga dengan kerja keras, tanggung jawab, dan semangat untuk menjadi lebih baik setiap hari.

  • Mengapa BPJS Ketenagakerjaan Penting sebelum PKL dimulai?

    Mengapa BPJS Ketenagakerjaan Penting sebelum PKL dimulai?

    “Dengan iuran mulai Rp8.400 per bulan selama program relaksasi, siswa PKL dapat memperoleh perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) melalui skema BPJS Ketenagakerjaan Bukan Penerima Upah (BPU)”.

    Juli 2026, secara bertahap siswa kelas XII SMKN 4 Padalarang mulai melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Puluhan perusahaan sudah menjadi mitra bagi 6 (enam) Program Keahlian yang ada. Targetnya, per September 2026 seluruh siswa sudah berangkat untuk PKL. Tidak serempaknya keberangkatan siswa ini bukan tanpa alasan. Hal ini menyesuaikan juga dengan kebutuhan perusahaan.

    PKL merupakan bagian penting dari proses pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Melalui PKL, siswa belajar langsung di dunia usaha dan dunia industri, mengenal budaya kerja, mengasah keterampilan, serta mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja yang profesional.

    Namun, ada satu hal yang sering terlupakan ketika siswa akan berangkat PKL, yaitu perlindungan terhadap risiko kecelakaan kerja. Selama berada di perusahaan, siswa berhadapan dengan berbagai potensi bahaya, mulai dari mesin produksi, instalasi listrik, peralatan kerja, bahan kimia, kendaraan operasional, hingga aktivitas di lapangan. Risiko tersebut mungkin kecil, tetapi bukan berarti tidak ada.

    Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap siswa yang melaksanakan PKL memiliki perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan, khususnya Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).

    Selama ini, banyak yang beranggapan bahwa kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan merupakan tanggung jawab perusahaan tempat PKL. Kenyataannya, kondisi di lapangan tidak selalu demikian.

    Berdasarkan pengalaman mendampingi pelaksanaan PKL selama beberapa tahun terakhir, hanya sebagian perusahaan besar yang mewajibkan calon peserta PKL telah terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan sebelum diterima. Perusahaan-perusahaan tersebut umumnya telah memiliki budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang kuat sehingga perlindungan tenaga kerja menjadi bagian dari standar operasional mereka.

    Sebaliknya, sebagian besar perusahaan, terutama skala kecil dan menengah, tidak pernah mempersyaratkan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang abai terhadap perlindungan tersebut. Akibatnya, banyak siswa berangkat PKL tanpa jaminan apabila sewaktu-waktu mengalami kecelakaan kerja.

    Padahal, tidak adanya persyaratan dari perusahaan bukan berarti risiko itu tidak ada. Keselamatan tidak boleh bergantung pada apakah perusahaan meminta atau tidak. Keselamatan harus menjadi kesadaran dari diri siswa, orang tua, dan sekolah.

    Kabar baiknya, siswa PKL tetap dapat memperoleh perlindungan BPJS Ketenagakerjaan melalui skema Peserta Bukan Penerima Upah (BPU). Skema ini diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak memiliki hubungan kerja tetap dengan pemberi kerja, termasuk peserta magang, siswa kerja praktik, maupun pekerja mandiri. Dengan demikian, meskipun perusahaan tidak mendaftarkan siswa, siswa tetap dapat mendaftar secara mandiri sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui kategori BPU.

    Program yang sangat direkomendasikan bagi siswa PKL adalah Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). JKK memberikan perlindungan apabila peserta mengalami kecelakaan selama melaksanakan PKL maupun dalam perjalanan yang berkaitan dengan kegiatan kerja sesuai ketentuan. Sementara JKM memberikan santunan kepada ahli waris apabila peserta meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja selama masa kepesertaan.

    Banyak orang mengira biaya mengikuti BPJS Ketenagakerjaan mahal. Padahal kenyataannya tidak demikian. Untuk peserta BPU dengan dasar penghasilan terendah, iuran normal Program JKK sebesar Rp10.000 per bulan, sedangkan Program JKM sebesar Rp6.800 per bulan, sehingga totalnya hanya Rp16.800 per bulan.

    Bahkan pada tahun 2026, pemerintah memberikan relaksasi iuran sebesar 50% untuk peserta BPU pada Program JKK dan JKM selama periode tertentu. Dengan adanya kebijakan tersebut, peserta hanya membayar sekitar Rp8.400 per bulan untuk kedua program tersebut tanpa mengurangi manfaat perlindungan yang diterima.

    Penulis sendiri merasakan manfaat dari adanya kebijakan tersebut. Pada bulan Juli ini, penulis membantu sejumlah siswa mendaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan melalui skema BPU sebelum mereka berangkat PKL. Berkat program relaksasi iuran dari pemerintah, para siswa memperoleh perlindungan JKK dan JKM dengan biaya yang jauh lebih ringan dibandingkan iuran normal. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan kerja sebenarnya dapat dimiliki oleh siapa saja dengan biaya yang sangat terjangkau.

    Jika dihitung, biaya sekitar delapan hingga tujuh belas ribu rupiah per bulan mungkin setara dengan harga satu kali membeli minuman atau jajanan. Namun manfaat yang diberikan dapat mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah apabila terjadi kecelakaan kerja yang memerlukan perawatan intensif atau menimbulkan risiko yang lebih berat. Inilah alasan mengapa BPJS Ketenagakerjaan bukan sekadar kewajiban administrasi, melainkan bentuk perlindungan nyata bagi masa depan siswa.

    Bagi orang tua, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan memberikan ketenangan karena anak memperoleh perlindungan selama menjalani PKL. Bagi siswa, kepesertaan ini menjadi bentuk kesiapan memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Sedangkan bagi sekolah, semakin banyak siswa yang terlindungi berarti semakin baik upaya sekolah dalam memastikan keselamatan peserta didiknya.

    Budaya keselamatan kerja seharusnya mulai ditanamkan sejak masih duduk di bangku SMK. Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya perlindungan setelah terjadi musibah. Justru ketika semua berjalan baik, saat itulah kita harus mempersiapkan perlindungan dengan sebaik-baiknya.

    Mari kita ubah cara berpikir. Jangan menunggu perusahaan mewajibkan BPJS Ketenagakerjaan. Jangan pula menunggu adanya kejadian yang tidak diinginkan. Jadikan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebagai bagian dari persiapan wajib sebelum berangkat PKL, sama pentingnya dengan pembekalan, surat tugas, dan izin orang tua.

    Keselamatan adalah investasi, bukan beban. Dengan iuran yang sangat terjangkau, siswa memperoleh perlindungan yang sangat besar. Semoga ke depan semakin banyak siswa dan orang tua yang menyadari bahwa keberangkatan PKL tidak hanya cukup dengan membawa bekal ilmu dan semangat belajar, tetapi juga membawa perlindungan agar proses belajar di dunia industri berlangsung dengan aman, nyaman, dan penuh rasa percaya diri.

  • SMKN 4 Padalarang Terima 15 Mahasiswa GEMA JABAR, Perkuat Kolaborasi Sekolah dan Perguruan Tinggi

    SMKN 4 Padalarang Terima 15 Mahasiswa GEMA JABAR, Perkuat Kolaborasi Sekolah dan Perguruan Tinggi

    PADALARANG – SMKN 4 Padalarang secara resmi menerima 15 mahasiswa peserta Gerakan Mahasiswa Mengajar Jawa Barat (GEMA JABAR) pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan penerimaan yang berlangsung di Lobby sekolah tersebut dipimpin langsung oleh Kepala SMKN 4 Padalarang, Dr. Edi Gunawan, S.Pd., M.Pd. Kehadiran para mahasiswa menjadi bagian dari pelaksanaan Program Penguatan Profesional Bidang Kependidikan (PROBIDIK) yang diselenggarakan melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

    Sebanyak 15 mahasiswa yang ditempatkan di SMKN 4 Padalarang berasal dari empat program studi, yaitu Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Ilmu Komputer, Pendidikan Bahasa Sunda, serta Pendidikan Teknik Otomasi Industri dan Robotika. Selama menjalankan penugasan, mereka akan berkolaborasi dengan guru dalam mendukung kegiatan pembelajaran, pengembangan media ajar, pendampingan peserta didik, serta berbagai aktivitas akademik dan nonakademik di lingkungan sekolah.

    Dalam sambutannya, Kepala SMKN 4 Padalarang, Dr. Edi Gunawan, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolah sebagai salah satu lokasi pelaksanaan GEMA JABAR. Menurutnya, program ini menjadi kesempatan yang baik bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman nyata di dunia pendidikan sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah.

    “Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa GEMA JABAR di SMKN 4 Padalarang. Jadikan kesempatan ini sebagai sarana belajar dan mengembangkan kompetensi sebagai calon pendidik. Bangun komunikasi yang baik dengan guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik, serta laksanakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab. Semoga pengalaman yang diperoleh selama berada di sekolah ini menjadi bekal berharga dalam mengabdikan diri di dunia pendidikan,” ujar Dr. Edi Gunawan, S.Pd., M.Pd

    Program GEMA JABAR dirancang untuk memberikan pengalaman praktik mengajar secara langsung kepada mahasiswa kependidikan melalui pendampingan guru pamong dan dosen pembimbing. Dengan terlibat dalam berbagai aktivitas sekolah, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang dibutuhkan sebagai calon guru.

    Di SMKN 4 Padalarang, para mahasiswa tidak saja ditempatkan sesuai dengan bidang keahlian dan kompetensinya, tapi juga dilibatkan dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling. Mereka akan berpartisipasi dalam proses pembelajaran di kelas, membantu penyusunan perangkat ajar, mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi, mendampingi kegiatan proyek peserta didik, melaksanakan piket guru, serta mendukung berbagai program sekolah yang bertujuan meningkatkan mutu layanan pendidikan.

    Kehadiran mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu juga diharapkan mampu menghadirkan perspektif baru dalam proses pembelajaran. Kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan warga sekolah menjadi langkah nyata dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih inovatif, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan pendidikan.

    Melalui partisipasi dalam Program GEMA JABAR, SMKN 4 Padalarang menegaskan komitmennya untuk terus membangun kemitraan dengan perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Sinergi yang terjalin diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa sebagai calon pendidik, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi pengembangan pembelajaran serta peningkatan mutu pendidikan di SMKN 4 Padalarang.

  • PKL ber-Orientasi BMW

    PKL ber-Orientasi BMW

    Tahun ajaran baru selalu menjadi momentum penting bagi setiap satuan pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Selain menyambut murid baru melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sekolah juga melakukan berbagai persiapan agar proses pembelajaran, penguatan karakter, hingga pelaksanaan program vokasi dapat berjalan dengan optimal sejak hari pertama.

    Suasana itulah yang terasa di SMKN 4 Padalarang ketika sekolah menerima kunjungan Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Edy Purwanto, M.M. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda monitoring kesiapan SMK dalam menyambut Tahun Ajaran 2026/2027 sekaligus memastikan kesiapan pelaksanaan MPLS bagi murid baru.

    Namun, kunjungan tersebut tidak berhenti pada kegiatan monitoring semata. Kehadiran beliau menjadi kesempatan berharga bagi para guru untuk berdialog secara langsung mengenai berbagai isu strategis pendidikan vokasi. Dalam suasana yang hangat dan penuh semangat, diskusi berkembang menjadi sebuah Focus Group Discussion (FGD) sederhana yang berlangsung secara spontan. Pertanyaan, gagasan, dan pengalaman mengalir dari para guru, sementara Dr. H. Edy Purwanto, MM memberikan banyak pandangan yang memperkaya perspektif mengenai arah pengembangan SMK di Jawa Barat.

    Dipandu oleh Kepala SMKN 4 Padalarang, Dr. Edi Gunawan, S.Pd., M.Pd.,beberapa isu penting yang mengemuka dalam diskusi antara lain mengenai: landasan pendidikan vokasi, penguatan konsep link and match antara SMK dan dunia kerja, implementasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang semakin berkualitas, PKL sebagai mata pelajaran, pengembangan SMK berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sebagai upaya meningkatkan kemandirian sekolah, pentingnya Teaching Factory (Tefa) sebagai wahana pembelajaran berbasis produksi dan jasa, peran tracer study dalam mengukur keberhasilan lulusan, hingga attitude guru yang harus menjadi contoh buat murid sebagai individu yang dipersiapkan untuk membangun masa depan sesuai potensi dan pilihannya.

    Salah satu topik yang menarik perhatian dalam diskusi tersebut adalah bagaimana pelaksanaan PKL seharusnya tidak lagi dipandang sebagai sekadar pemenuhan jam kurikulum, tetapi menjadi bagian dari strategi membangun masa depan peserta didik. Gagasan inilah yang kemudian menginspirasi tulisan pertama dalam serial catatan FGD ini, yaitu mengenai PKL ber-Orientasi BMW (Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha).

    PKL merupakan salah satu program penting dalam pendidikan vokasi. Selama ini, pelaksanaan PKL di banyak SMK umumnya berfokus pada penempatan siswa di dunia kerja agar memperoleh pengalaman kerja di industri. Meskipun pendekatan tersebut tetap relevan, terdapat satu aspek yang sering kali belum menjadi perhatian, yaitu kesesuaian antara tempat PKL dengan orientasi masa depan setiap peserta didik.

    Dalam konsep pengembangan lulusan SMK dikenal orientasi BMW, yaitu Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha. Ketiga pilihan tersebut sama pentingnya dan menjadi indikator keberhasilan pendidikan vokasi. Oleh karena itu, pelaksanaan PKL semestinya tidak hanya bertujuan memenuhi kewajiban kurikulum, tetapi juga menjadi bagian dari strategi mempersiapkan siswa mencapai tujuan karier yang telah dipilihnya.

    Setiap siswa memiliki cita-cita yang berbeda. Ada yang sejak awal ingin segera bekerja setelah lulus, ada yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan ada pula yang memiliki semangat membangun usaha sendiri. Perbedaan orientasi tersebut semestinya diakomodasi dalam proses penempatan PKL sehingga pengalaman belajar di dunia nyata benar-benar memberikan manfaat maksimal.

    Pertama, bagi siswa yang memiliki orientasi Bekerja, penempatan PKL sebaiknya diarahkan pada perusahaan yang memiliki budaya industri yang kuat, sistem kerja yang profesional, serta peluang rekrutmen lulusan.

    Lingkungan PKL yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan bidang keahlian masing-masing siswa. Bagi siswa Teknik Elektronika Industri dapat ditempatkan di perusahaan manufaktur, otomasi, atau maintenance industri; siswa Teknik Komputer dan Jaringan di perusahaan penyedia layanan jaringan, pusat data (data center), penyedia layanan internet (ISP), atau divisi teknologi informasi; siswa Rekayasa Perangkat Lunak di perusahaan pengembang perangkat lunak, startup digital, maupun divisi pengembangan aplikasi; siswa Kuliner di hotel, restoran, katering, atau industri pengolahan pangan; siswa Bisnis Retail dan Pemasaran di perusahaan ritel modern, distributor, maupun perusahaan yang memiliki divisi pemasaran dan penjualan; siswa Teknik Kimia Industri di laboratorium pengujian, industri kimia, industri pangan, atau perusahaan yang menerapkan pengendalian mutu (quality control); sedangkan siswa Agribisnis Tanaman dapat ditempatkan di perusahaan agribisnis, perkebunan, greenhouse, pembibitan, maupun pusat budidaya tanaman modern. Melalui lingkungan kerja yang relevan tersebut, siswa akan memperoleh pengalaman nyata mengenai standar operasional, budaya kerja profesional, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), komunikasi di tempat kerja, penyelesaian masalah, serta etos kerja yang dibutuhkan untuk memasuki dunia industri.

    Siswa tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga memahami ekspektasi dunia kerja yang sesungguhnya. Bahkan, apabila memungkinkan, sekolah dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan yang memiliki rekam jejak merekrut peserta PKL menjadi karyawan setelah lulus. Dengan demikian, PKL benar-benar menjadi jembatan menuju dunia kerja.

    Kedua, siswa yang memilih Melanjutkan pendidikan membutuhkan pengalaman PKL yang mampu memperkuat kemampuan akademik dan berpikir analitis.

    Penempatan mereka tidak selalu harus berada pada perusahaan dengan ritme produksi yang tinggi. Mereka dapat ditempatkan pada institusi yang memiliki budaya penelitian dan pengembangan, laboratorium pengujian, pusat pelatihan, politeknik, balai pelatihan, atau divisi research and development (R&D) di perusahaan.

    Melalui lingkungan tersebut, siswa dapat belajar melakukan observasi, pengumpulan data, analisis permasalahan, dokumentasi teknis, hingga pengembangan inovasi sederhana. Pengalaman tersebut akan menjadi bekal berharga ketika mereka memasuki pendidikan tinggi yang menuntut kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan penyusunan karya ilmiah.

    Ketiga, siswa dengan orientasi Wirausaha memerlukan pengalaman PKL yang berbeda lagi.

    Mereka membutuhkan lingkungan yang memperlihatkan bagaimana sebuah usaha dibangun, dijalankan, dipasarkan, dan dikembangkan. Oleh karena itu, tempat PKL tidak harus selalu perusahaan besar. Justru usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bengkel elektronika, service pc/laptop, jasa instalasi listrik, penyedia layanan CCTV, maupun startup teknologi dapat menjadi tempat belajar yang sangat efektif.

    Di lingkungan tersebut siswa dapat melihat secara langsung proses mencari pelanggan, menentukan harga, mengelola stok barang, melakukan pelayanan purna jual, membangun relasi dengan konsumen, hingga mengelola arus kas usaha. Pengalaman seperti inilah yang sering kali tidak diperoleh apabila PKL hanya berfokus pada pekerjaan teknis di perusahaan besar.

    Strategi PKL berbasis BMW memberikan manfaat tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi sekolah dan dunia usaha.

    Sebelum penempatan PKL dilakukan, sekolah dapat melaksanakan pemetaan orientasi karier siswa melalui angket, wawancara, diskusi bersama guru BK, wali kelas, guru produktif, serta orang tua. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan tempat PKL yang paling sesuai dengan tujuan masing-masing siswa.

    Dengan demikian, penempatan peserta PKL tidak lagi dilakukan secara acak, melainkan berdasarkan kebutuhan pengembangan kompetensi dan rencana masa depan peserta didik.

    Pendekatan ini juga diyakini akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Ketika mereka merasa bahwa tempat PKL selaras dengan cita-citanya, mereka akan lebih bersemangat mengikuti setiap kegiatan di industri. Mereka tidak sekadar hadir untuk memenuhi jam praktik, tetapi benar-benar belajar demi mempersiapkan masa depan yang telah direncanakan.

    Pada akhirnya, keberhasilan PKL tidak hanya diukur berdasarkan jumlah hari kerja yang dijalani siswa di dunia kerja, tetapi juga dari seberapa besar pengalaman tersebut mampu mengantarkan mereka menuju tujuan setelah lulus.

    Sudah saatnya paradigma pelaksanaan PKL bergeser dari pendekatan “yang penting mendapat tempat PKL” menjadi “mendapat tempat PKL yang paling tepat.” Ketika penempatan dilakukan berdasarkan orientasi masa depan siswa, maka PKL tidak hanya menghasilkan pengalaman kerja, tetapi juga menjadi investasi yang memperkuat kesiapan lulusan memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, maupun membangun usaha secara mandiri.

    Inilah salah satu gagasan menarik yang mengemuka dalam diskusi bersama Kepala Bidang PSMK Disdik Jawa Barat. Tentu masih banyak pemikiran lain yang layak untuk dibagikan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun pendidikan vokasi yang semakin adaptif terhadap kebutuhan zaman.

    Bersambung…

    Pada tulisan berikutnya, kami akan mengulas topik lain yang juga menjadi pembahasan dalam FGD tersebut.

  • Mumpung Lagi Syantieq!

    Mumpung Lagi Syantieq!

    Ada sesuatu yang menarik ketika angka di odometer motor berhenti sejenak di 24.242,4 kilometer. Angkanya terasa unik. Empat digit “24” berbaris rapi, lalu ditutup angka “2”, sebelum akhirnya si angka “4” kecil di belakang koma ikut melengkapi formasi. Rasanya sayang kalau hanya lewat begitu saja tanpa diabadikan.

    Adzan Ashar terdengar dari Masjid Agung Bandung, saat saya terjebak macet di jalan Pasar Barat, belakang Pasar Baru Trade Center. Sebuah mobil box sedang berusaha parkir di jalan sempit tersebut untuk menurunkan muatannya. Saat itulah pemandangan ‘cantik’ seolah sengaja hadir untuk diabadikan sebelum perjalanan berlanjut. Momen seperti ini hanya datang sekali karena beberapa meter kemudian angkanya pasti berubah. Jadi, mumpung lagi cantik, memotret odometer rasanya bukan hal yang berlebihan.

    Sambil menunggu lalu-lintas kembali lancar, otak saya berpikir keras untuk membuat cocokologi dengan angka 24 ini. Ternyata saya sedang berhenti tepat di seberang toko No. 24 A. Samping kiri saya ada 2 penjual rimpang/rempah-rempah, 4 penjual pisang berderet di jalan Belakang Pasar dimana saya akan mengarah kesana sebelum masuk jalan Dulatif. Sebuah tanda apakah dengan angka 2 dan 4 ini? Dan yang mengejutkan, hari ini tanggal 8 Juli 2026 adalah hari ke-24 dalam kalender Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dihitung dari mulai pendaftaran Tahap 1 yaitu tanggal 15 Juni 2026.

    Akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah tulisan refleksi dari deretan angka 24 ini. Sesampainya di rumah, saya mulai menyalakan laptop dan membuka Microsoft Word tepat pukul 16.24 untuk memulai membuat draft tulisan tentang motor saya yang hari ini odometernya menunjukkan angka yang cantik, sebagaimana foto ilustrasi.

    Motor Yamaha Jupiter Z1 ini saya beli pada bulan Mei 2024. Saat pertama kali keluar dari dealer, angka di spedometernya masih sangat kecil. Jarum, mesin, dan ban semuanya masih baru. Bahkan mungkin baut-bautnya pun masih saling berkenalan. Tidak ada yang menyangka kalau dalam waktu sekitar dua tahun lebih, motor ini akan mencatat perjalanan sejauh 24.242,4 kilometer.

    Kalau dihitung-hitung, angka itu sebenarnya tidak terlalu fantastis bagi sebagian orang. Ada yang dalam setahun sudah menembus tiga puluh ribu kilometer. Ada pula yang motornya lebih sering tidur di garasi daripada melihat matahari pagi. Jupiter Z1 saya berada di tengah-tengah. Tidak terlalu sibuk, tapi juga tidak menganggur. Bisa dibilang, motornya bekerja sesuai jam kantor, hanya saja kadang lembur kalau ada acara sekolah, rapat, atau sekadar mencari kopi. Kadang juga antar-jemput istri ke tempat kerjanya.

    Yang menarik dari sebuah odometer adalah ia tidak pernah bercerita ke mana kita pergi. Ia hanya mencatat jaraknya. Tidak peduli apakah perjalanan itu menuju tempat yang menyenangkan, menghadiri undangan, mengantar keluarga, mencari komponen elektronik, atau bahkan hanya muter-muter karena salah belok. Baginya, semua sama: roda berputar, angka bertambah.

    Padahal, di balik setiap kilometer itu selalu ada cerita.

    Ada perjalanan yang dimulai pagi-pagi sekali ketika udara masih dingin dan jalanan belum ramai. Ada juga perjalanan pulang sore hari ketika langit mulai berubah jingga dan badan sudah lelah. Pernah pula berkendara di bawah terik matahari yang membuat jok terasa seperti baru selesai dijemur. Sesekali harus berkenalan dengan hujan yang turun tanpa permisi. Jas hujan dipakai, sepatu basah, tetapi tujuan tetap harus dicapai.

    Kalau motor ini bisa berbicara, mungkin ia akan protes.

    “Bos, kita ke toko elektronik lagi?”

    “Iya.”

    “Besok?”

    “Iya.”

    “Lusa?”

    “Iya juga.”

    Mungkin Jupiter Z1 saya diam-diam sudah hafal jalan menuju toko sparepart elektronik, sekolah, minimarket, dan warung makan favorit. Bahkan bisa jadi kalau suatu hari saya salah mengambil arah, motornya dalam hati berkata, “Kayaknya bukan lewat sini deh.”

    Selama 24.242,4 kilometer ini, motor juga mengajarkan satu hal sederhana: perjalanan yang jauh selalu tersusun dari putaran roda yang kecil-kecil.

    Tidak ada odometer yang langsung meloncat dari angka nol menjadi dua puluh empat ribu. Semua bertambah sedikit demi sedikit. Satu kilometer, lalu dua, lalu seratus, lalu seribu, sampai akhirnya tanpa terasa angkanya sudah sepanjang ini.

    Rasanya mirip dengan banyak hal dalam hidup. Keahlian bertambah sedikit demi sedikit. Pengalaman juga demikian. Bahkan sebuah proyek besar selalu dimulai dari langkah yang tampak sederhana. Sering kali kita ingin hasil yang cepat, padahal kenyataannya semua membutuhkan proses yang konsisten. Sama seperti odometer yang sabar menghitung setiap meter.

    Ada hal lain yang saya sukai dari motor ini. Mesinnya sederhana, tetapi justru itu yang membuatnya menyenangkan. Tidak banyak drama. Yang penting bensin ada, oli diganti tepat waktu, rantai dirawat, ban cukup angin, lalu jalan lagi. Hubungan kami cukup harmonis. Saya merawat dia, dia mengantar saya ke mana-mana.

    Walaupun, sesekali dia memberi kode. Misalnya ketika suara rantai mulai berbunyi halus. Atau ketika ban mulai terasa agak licin. Untungnya motor tidak bisa mengirim pesan WhatsApp. Bayangkan kalau setiap pagi muncul notifikasi:

    “Selamat pagi. Oli tinggal 18%. Mohon segera dijadwalkan spa.”

    Atau,

    “Hari ini saya kurang semangat. Boleh isi Pertamax?”

    Untung tidak begitu.

    Melihat angka 24.242,4 kilometer juga membuat saya sadar bahwa kendaraan bukan sebatas alat transportasi. Ia menjadi saksi perjalanan sehari-hari yang sering kali dianggap biasa. Padahal justru rutinitas itulah yang perlahan membentuk kehidupan.

    Sebagian besar perjalanan bukanlah perjalanan yang spektakuler. Tidak selalu menuju gunung, pantai, atau kota yang jauh. Lebih sering menuju tempat yang sama berulang kali. Tetapi dari pengulangan itulah lahir tanggung jawab, kedisiplinan, dan kebiasaan baik.

    Angka di odometer sebenarnya hanyalah angka. Namun di baliknya tersimpan ribuan momen yang tidak ikut tercetak. Tawa bersama teman di perjalanan, berhenti sejenak membeli minuman dingin, berteduh di bawah atap warung ketika hujan turun deras, sampai momen ketika harus mendorong motor beberapa meter karena lupa mengisi bensin. Ya, yang terakhir ini semoga jangan terlalu sering terjadi.

    Saya juga menyadari satu hal lucu. Ketika angka odometer masih kecil, rasanya ingin cepat-cepat bertambah. Tetapi begitu mencapai angka yang unik seperti 24.242,4, malah sibuk mencari tempat aman untuk berhenti, mengeluarkan ponsel, lalu memotret spedometer sebelum angkanya berubah lagi. Kalau terlambat sedikit saja, tidak akan ada kesempatan kedua untuk mendapatkan susunan angka yang sama persis.

    Mungkin memang begitu cara hidup mengingatkan kita. Ada momen-momen yang hanya datang sekali. Tidak perlu selalu besar, tidak harus selalu luar biasa. Kadang hanya berupa susunan angka yang menarik di spedometer motor.

    Hari ini, Jupiter Z1 saya telah mencatat 24.242,4 kilometer sejak pertama kali mengaspal pada Mei 2024. Entah berapa angka berikutnya yang akan tercapai. Yang jelas, setiap kilometer baru akan membawa cerita baru pula.

    Dan, agar cerita deretan angka 24 ini makin cantik dan unik, saya posting tulisan jam 21.24 (UTC+7/WIB)sesuai jam di laptop saya. Sementara, waktu di dashboard akun saya pada website ini menunjukkan jam 2.24 pm (UTC GMT+0)- perbedaan setingan waktu. Anda bisa tanya admin web ini, Pak Tamam Fuadi, untuk memastikan di dashboard admin kapan tulisan di-publish.

    Semoga roda terus berputar, mesin tetap sehat, jalan yang dilalui semakin bermanfaat, dan setiap perjalanan, sejauh atau sedekat apa pun, selalu menjadi bagian dari kisah yang layak dikenang. Pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah angka di odometer, melainkan cerita yang berhasil dikumpulkan dan amal yang dilakukan di sepanjang jalan.

  • Cerita Laras

    Cerita Laras

    Hari ini menjadi hari terakhir pelaksanaan Tahap 2 Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK/SLB di Jawa Barat. Di SMKN 4 Padalarang, suasana pelayanan masih tampak ramai. Sejak pagi, ruang pendaftaran dipenuhi calon peserta didik beserta orang tua yang datang untuk memastikan seluruh proses berjalan dengan baik.

    SPMB sejatinya dilaksanakan secara daring. Pendaftaran dapat dilakukan dari rumah melalui perangkat masing-masing. Sekolah hanya menyediakan fasilitas komputer, jaringan internet dan pendampingan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan.

    Namun kenyataannya, banyak orang tua tetap memilih datang ke sekolah. Mereka tampak begitu teliti memeriksa setiap data, memastikan setiap dokumen telah terunggah dengan benar, dan tidak ragu bertanya kepada panitia apabila menemui kesulitan. Dibalik kesibukan itu, terlihat begitu besar harapan yang mereka titipkan untuk masa depan anak-anaknya.

    Ada satu hal yang menarik perhatian saya selama bertugas melayani pendaftaran. Sebagian besar yang aktif mengurus proses pendaftaran justru adalah orang tua. Mereka yang mengetik data, membuka berkas, membaca persyaratan, hingga memastikan seluruh tahapan selesai. Sementara sebagian anak hanya duduk menunggu, memperhatikan dari kejauhan, bahkan ada yang lebih sibuk dengan telepon genggamnya.

    Di tengah suasana itulah, saya bertemu dengan seorang calon peserta didik yang berbeda. Sebut saja namanya Laras. Ia datang seorang diri untuk mendaftar ke Program Keahlian Kuliner. Tidak ada ayah ataupun ibu yang mendampinginya. Dengan membawa map berisi dokumen, ia berjalan dari satu meja ke meja lainnya. Beberapa kali ia menghampiri panitia untuk memastikan persyaratan yang masih membuatnya ragu.

    “Pak, apakah berkas saya sudah benar?”

    “Pak, kalau syarat yang ini bagaimana?”

    Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin memahami proses pendaftarannya sendiri.

    Setelah membantu memeriksa dokumennya, saya mengetahui bahwa Laras tinggal bersama kakek dan neneknya. Orang tuanya telah berpisah. Sejenak saya terdiam. Di usianya yang masih sangat muda, ia harus belajar mengurus banyak hal secara mandiri. Tidak ada yang mengisi formulir untuknya. Tidak ada yang memegang berkasnya. Tidak ada yang mengambil keputusan atas namanya.

    Namun ia tetap datang. Tetap berusaha. Tetap menyimpan harapan untuk bisa melanjutkan pendidikan di SMKN 4 Padalarang. Saya sangat menghargai usahanya. Tidak semua anak seusianya memiliki semangat dan kemandirian seperti yang ia tunjukkan hari ini. Sebelum berpamitan, saya hanya berpesan agar ia tetap bersabar, terus berdoa, dan menunggu hasil seleksi dengan hati yang lapang.

    Ia mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang sederhana, tetapi penuh harapan.

    Setelah pelayanan pendaftaran selesai dan suasana mulai lengang, saya membuka klasemen sementara hasil seleksi. Entah mengapa, nama Laras menjadi nama pertama yang saya cari. Saya berharap ia berada dalam daftar yang diterima. Namun harapan itu belum menjadi kenyataan. Namanya masih berada diluar batas kuota penerimaan.

    Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Bukan karena saya mengenalnya, melainkan karena saya baru saja menyaksikan sendiri bagaimana seorang anak berjuang dengan segala keterbatasannya untuk meraih kesempatan melanjutkan pendidikan.

    Peristiwa singkat hari ini kembali mengingatkan kita bahwa setiap murid datang membawa cerita yang berbeda. Ada yang ditemani kedua orang tuanya, ada yang didukung keluarga besarnya, tetapi ada pula yang harus melangkah sendiri dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

    Sebagai guru, terkadang kita hanya melihat nama, nilai, dan peringkat. Padahal, di balik setiap nama terdapat perjuangan, doa, dan harapan yang mungkin tidak pernah kita ketahui.

    Untuk Laras, semoga langkahmu tidak berhenti sampai di sini. Mungkin kesempatan yang kamu harapkan belum menjadi takdir hari ini, tetapi bukan berarti cita-citamu harus berakhir. Teruslah belajar, teruslah berusaha, dan jangan pernah kehilangan keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya.

    Kami semua mendoakan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan, kemudahan, dan jalan terbaik untuk masa depanmu. Semoga kakek dan nenek yang telah merawatmu selalu diberikan kesehatan dan keberkahan. Dan semoga suatu hari nanti, kamu dapat menggapai cita-cita yang kamu impikan, di mana pun Allah menuntun langkahmu. Keberhasilan bukan hanya terletak pada sekolah mana yang menerima kita, tetapi seberapa besar kita mampu bangkit, bertahan, dan terus melangkah ketika keadaan belum berpihak.

    — Salah satu kisah kecil yang kami temui pada hari terakhir pelayanan SPMB Tahap 2 di SMKN 4 Padalarang. Semoga menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cerita perjuangannya masing-masing, dan setiap perjuangan layak dihargai.

  • Bukan Akhir Perjalanan

    Bukan Akhir Perjalanan

    “Ketika belum diterima di sekolah negeri atau program keahlian impian, masih banyak jalan menuju masa depan yang gemilang.”

    Pengumuman penerimaan calon murid baru SMK Negeri selalu menjadi momen yang penuh harapan sekaligus ketegangan. Ribuan lulusan SMP dan sederajat bersaing untuk mendapatkan kursi di sekolah dan program keahlian yang diimpikan. Namun, karena keterbatasan daya tampung, tidak semua calon murid dapat diterima di sekolah tujuan atau program keahlian pilihan pertama mereka.

    Bagi sebagian keluarga, hasil pengumuman mungkin membawa kebahagiaan. Namun, ada pula yang harus menerima kenyataan bahwa putra-putrinya belum diterima di SMK Negeri yang diharapkan, atau diterima di sekolah yang sama tetapi bukan pada program keahlian pilihan utama. Kondisi ini tentu dapat menimbulkan rasa kecewa, sedih, bahkan kekhawatiran terhadap masa depan.

    Hal pertama yang perlu dipahami oleh orang tua dan calon murid adalah bahwa hasil seleksi tidak menentukan nilai diri seseorang. Banyaknya pendaftar dan terbatasnya kuota membuat proses seleksi menjadi sangat kompetitif. Tidak diterima bukan berarti kurang pintar, kurang berbakat, atau tidak memiliki masa depan yang cerah.

    Bagi orang tua yang anaknya belum diterima di SMK Negeri, tetaplah menjadi sumber dukungan dan ketenangan. Hindari menyalahkan anak, membandingkan dengan teman yang diterima, atau terus-menerus membahas kegagalan tersebut. Berikan penyemangat dengan ucapan seperti:

    “Nak, Ayah dan Ibu tahu kamu kecewa. Tidak apa-apa kalau hari ini kamu ingin sedih. Tapi ingat, kami tidak pernah menilai kamu dari diterima atau tidaknya di sekolah negeri. Bagi kami, kamu tetap anak yang kami banggakan. Yang penting sekarang, jangan berhenti belajar dan jangan menyerah. Jalanmu masih panjang.” atau,

    “Hari ini mungkin kamu merasa gagal. Tidak apa-apa. Yang penting jangan gagal untuk bangkit. Ayah dan Ibu akan selalu ada di sampingmu. Kami percaya, suatu hari nanti kamu akan melihat bahwa kejadian hari ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalananmu.”

    Sering kali ucapan seperti itu memiliki dampak yang sangat besar bagi semangat anak.

    Saat ini masih banyak jalur dan pilihan pendidikan yang dapat ditempuh. SMK swasta, sekolah negeri lain yang masih membuka kesempatan, maupun lembaga pendidikan kejuruan lainnya tetap dapat menjadi tempat yang baik untuk belajar dan berkembang. Yang menentukan keberhasilan bukan hanya nama sekolah, tetapi kesungguhan dalam belajar, kedisiplinan, serta kemauan untuk terus meningkatkan kemampuan diri.

    Bagi calon murid yang belum diterima di sekolah tujuan, izinkan diri anda untuk merasa kecewa, tetapi jangan terlalu lama terpuruk. Terimalah hasil yang ada, kemudian fokus pada langkah berikutnya. Masa depan tidak berhenti hanya karena satu hasil seleksi. Masih banyak kesempatan yang dapat diraih melalui kerja keras dan semangat belajar yang konsisten.

    Selain itu, ada juga calon murid yang diterima di SMK Negeri yang diinginkan, tetapi bukan pada program keahlian pilihan pertama. Misalnya, seseorang memilih Teknik Elektronika sebagai pilihan pertama, tetapi diterima di Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi sebagai pilihan kedua, atau memilih Pengembangan Perangkat Lunak & Game tetapi diterima di Bisnis Retail sebagai pilihan ketiga.

    Situasi ini sering menimbulkan dilema. Sebagian murid merasa kecewa karena merasa impiannya tidak tercapai. Bahkan ada yang langsung beranggapan bahwa jurusan yang diterimanya kurang baik dibandingkan pilihan pertama. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

    Setiap program keahlian di SMK memiliki peluang, tantangan, dan prospek karier masing-masing. Dunia kerja saat ini membutuhkan tenaga terampil dari berbagai bidang. Banyak lulusan yang akhirnya sukses justru dari program keahlian yang awalnya bukan menjadi pilihan utama mereka. Hal ini terjadi karena selama belajar mereka menemukan minat baru, mengembangkan kompetensi dengan serius, dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.

    Karena itu, bagi murid yang diterima pada pilihan kedua atau ketiga, cobalah memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mengenal program keahlian tersebut lebih dalam. Pelajari kompetensinya, prospek kerjanya, peluang melanjutkan pendidikan, serta keterampilan yang akan dipelajari selama tiga tahun ke depan. Sering kali rasa kecewa muncul karena kurang mengenal bidang keahlian tersebut.

    Orang tua juga perlu membantu anak melihat sisi positif dari kesempatan yang diperoleh. Daripada terus berfokus pada jurusan yang tidak didapatkan, lebih baik mendukung anak agar mampu berkembang secara maksimal di program keahlian yang telah diterima. Semangat dan dukungan keluarga akan menjadi faktor penting dalam keberhasilan belajar anak di SMK.

    Perlu diingat bahwa tujuan utama masuk SMK adalah membangun kompetensi dan keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja, berwirausaha, maupun melanjutkan pendidikan. Kunci keberhasilan bukan terletak pada pilihan program keahlian pertama, kedua, atau ketiga, melainkan pada kesungguhan dalam mengikuti proses pembelajaran dan kemauan untuk terus belajar.

    Di dunia kerja, perusahaan tidak hanya melihat nama sekolah atau jurusan, tetapi juga kompetensi, sikap kerja, kemampuan berkomunikasi, disiplin, kreativitas, dan kemauan untuk berkembang. Murid yang aktif belajar dan memanfaatkan setiap peluang akan memiliki kesempatan sukses yang besar, apa pun program keahliannya.

    Mari kita jadikan hasil pengumuman penerimaan murid baru sebagai awal perjalanan, bukan sebagai akhir harapan. Bagi yang diterima sesuai pilihan pertama, syukurilah kesempatan tersebut dan belajarlah dengan sungguh-sungguh. Bagi yang diterima di pilihan kedua atau ketiga, terimalah sebagai peluang baru yang mungkin membawa kesuksesan di masa depan. Dan bagi yang belum diterima di SMK Negeri, jangan menyerah karena masih banyak jalan untuk meraih cita-cita.

    Setiap anak memiliki potensi yang unik dan jalan suksesnya masing-masing. Sekolah hanyalah tempat untuk bertumbuh. Yang paling menentukan masa depan adalah semangat belajar, karakter yang baik, kerja keras, dan doa yang tidak pernah putus. Tetap optimis, tetap percaya diri, dan terus melangkah. Masa depan yang cerah masih menunggu di depan.