Kategori: Literasi

Artikel bacaan

  • Mumpung Lagi Syantieq!

    Mumpung Lagi Syantieq!

    Ada sesuatu yang menarik ketika angka di odometer motor berhenti sejenak di 24.242,4 kilometer. Angkanya terasa unik. Empat digit “24” berbaris rapi, lalu ditutup angka “2”, sebelum akhirnya si angka “4” kecil di belakang koma ikut melengkapi formasi. Rasanya sayang kalau hanya lewat begitu saja tanpa diabadikan.

    Adzan Ashar terdengar dari Masjid Agung Bandung, saat saya terjebak macet di jalan Pasar Barat, belakang Pasar Baru Trade Center. Sebuah mobil box sedang berusaha parkir di jalan sempit tersebut untuk menurunkan muatannya. Saat itulah pemandangan ‘cantik’ seolah sengaja hadir untuk diabadikan sebelum perjalanan berlanjut. Momen seperti ini hanya datang sekali karena beberapa meter kemudian angkanya pasti berubah. Jadi, mumpung lagi cantik, memotret odometer rasanya bukan hal yang berlebihan.

    Sambil menunggu lalu-lintas kembali lancar, otak saya berpikir keras untuk membuat cocokologi dengan angka 24 ini. Ternyata saya sedang berhenti tepat di seberang toko No. 24 A. Samping kiri saya ada 2 penjual rimpang/rempah-rempah, 4 penjual pisang berderet di jalan Belakang Pasar dimana saya akan mengarah kesana sebelum masuk jalan Dulatif. Sebuah tanda apakah dengan angka 2 dan 4 ini? Dan yang mengejutkan, hari ini tanggal 8 Juli 2026 adalah hari ke-24 dalam kalender Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dihitung dari mulai pendaftaran Tahap 1 yaitu tanggal 15 Juni 2026.

    Akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah tulisan refleksi dari deretan angka 24 ini. Sesampainya di rumah, saya mulai menyalakan laptop dan membuka Microsoft Word tepat pukul 16.24 untuk memulai membuat draft tulisan tentang motor saya yang hari ini odometernya menunjukkan angka yang cantik, sebagaimana foto ilustrasi.

    Motor Yamaha Jupiter Z1 ini saya beli pada bulan Mei 2024. Saat pertama kali keluar dari dealer, angka di spedometernya masih sangat kecil. Jarum, mesin, dan ban semuanya masih baru. Bahkan mungkin baut-bautnya pun masih saling berkenalan. Tidak ada yang menyangka kalau dalam waktu sekitar dua tahun lebih, motor ini akan mencatat perjalanan sejauh 24.242,4 kilometer.

    Kalau dihitung-hitung, angka itu sebenarnya tidak terlalu fantastis bagi sebagian orang. Ada yang dalam setahun sudah menembus tiga puluh ribu kilometer. Ada pula yang motornya lebih sering tidur di garasi daripada melihat matahari pagi. Jupiter Z1 saya berada di tengah-tengah. Tidak terlalu sibuk, tapi juga tidak menganggur. Bisa dibilang, motornya bekerja sesuai jam kantor, hanya saja kadang lembur kalau ada acara sekolah, rapat, atau sekadar mencari kopi. Kadang juga antar-jemput istri ke tempat kerjanya.

    Yang menarik dari sebuah odometer adalah ia tidak pernah bercerita ke mana kita pergi. Ia hanya mencatat jaraknya. Tidak peduli apakah perjalanan itu menuju tempat yang menyenangkan, menghadiri undangan, mengantar keluarga, mencari komponen elektronik, atau bahkan hanya muter-muter karena salah belok. Baginya, semua sama: roda berputar, angka bertambah.

    Padahal, di balik setiap kilometer itu selalu ada cerita.

    Ada perjalanan yang dimulai pagi-pagi sekali ketika udara masih dingin dan jalanan belum ramai. Ada juga perjalanan pulang sore hari ketika langit mulai berubah jingga dan badan sudah lelah. Pernah pula berkendara di bawah terik matahari yang membuat jok terasa seperti baru selesai dijemur. Sesekali harus berkenalan dengan hujan yang turun tanpa permisi. Jas hujan dipakai, sepatu basah, tetapi tujuan tetap harus dicapai.

    Kalau motor ini bisa berbicara, mungkin ia akan protes.

    “Bos, kita ke toko elektronik lagi?”

    “Iya.”

    “Besok?”

    “Iya.”

    “Lusa?”

    “Iya juga.”

    Mungkin Jupiter Z1 saya diam-diam sudah hafal jalan menuju toko sparepart elektronik, sekolah, minimarket, dan warung makan favorit. Bahkan bisa jadi kalau suatu hari saya salah mengambil arah, motornya dalam hati berkata, “Kayaknya bukan lewat sini deh.”

    Selama 24.242,4 kilometer ini, motor juga mengajarkan satu hal sederhana: perjalanan yang jauh selalu tersusun dari putaran roda yang kecil-kecil.

    Tidak ada odometer yang langsung meloncat dari angka nol menjadi dua puluh empat ribu. Semua bertambah sedikit demi sedikit. Satu kilometer, lalu dua, lalu seratus, lalu seribu, sampai akhirnya tanpa terasa angkanya sudah sepanjang ini.

    Rasanya mirip dengan banyak hal dalam hidup. Keahlian bertambah sedikit demi sedikit. Pengalaman juga demikian. Bahkan sebuah proyek besar selalu dimulai dari langkah yang tampak sederhana. Sering kali kita ingin hasil yang cepat, padahal kenyataannya semua membutuhkan proses yang konsisten. Sama seperti odometer yang sabar menghitung setiap meter.

    Ada hal lain yang saya sukai dari motor ini. Mesinnya sederhana, tetapi justru itu yang membuatnya menyenangkan. Tidak banyak drama. Yang penting bensin ada, oli diganti tepat waktu, rantai dirawat, ban cukup angin, lalu jalan lagi. Hubungan kami cukup harmonis. Saya merawat dia, dia mengantar saya ke mana-mana.

    Walaupun, sesekali dia memberi kode. Misalnya ketika suara rantai mulai berbunyi halus. Atau ketika ban mulai terasa agak licin. Untungnya motor tidak bisa mengirim pesan WhatsApp. Bayangkan kalau setiap pagi muncul notifikasi:

    “Selamat pagi. Oli tinggal 18%. Mohon segera dijadwalkan spa.”

    Atau,

    “Hari ini saya kurang semangat. Boleh isi Pertamax?”

    Untung tidak begitu.

    Melihat angka 24.242,4 kilometer juga membuat saya sadar bahwa kendaraan bukan sebatas alat transportasi. Ia menjadi saksi perjalanan sehari-hari yang sering kali dianggap biasa. Padahal justru rutinitas itulah yang perlahan membentuk kehidupan.

    Sebagian besar perjalanan bukanlah perjalanan yang spektakuler. Tidak selalu menuju gunung, pantai, atau kota yang jauh. Lebih sering menuju tempat yang sama berulang kali. Tetapi dari pengulangan itulah lahir tanggung jawab, kedisiplinan, dan kebiasaan baik.

    Angka di odometer sebenarnya hanyalah angka. Namun di baliknya tersimpan ribuan momen yang tidak ikut tercetak. Tawa bersama teman di perjalanan, berhenti sejenak membeli minuman dingin, berteduh di bawah atap warung ketika hujan turun deras, sampai momen ketika harus mendorong motor beberapa meter karena lupa mengisi bensin. Ya, yang terakhir ini semoga jangan terlalu sering terjadi.

    Saya juga menyadari satu hal lucu. Ketika angka odometer masih kecil, rasanya ingin cepat-cepat bertambah. Tetapi begitu mencapai angka yang unik seperti 24.242,4, malah sibuk mencari tempat aman untuk berhenti, mengeluarkan ponsel, lalu memotret spedometer sebelum angkanya berubah lagi. Kalau terlambat sedikit saja, tidak akan ada kesempatan kedua untuk mendapatkan susunan angka yang sama persis.

    Mungkin memang begitu cara hidup mengingatkan kita. Ada momen-momen yang hanya datang sekali. Tidak perlu selalu besar, tidak harus selalu luar biasa. Kadang hanya berupa susunan angka yang menarik di spedometer motor.

    Hari ini, Jupiter Z1 saya telah mencatat 24.242,4 kilometer sejak pertama kali mengaspal pada Mei 2024. Entah berapa angka berikutnya yang akan tercapai. Yang jelas, setiap kilometer baru akan membawa cerita baru pula.

    Dan, agar cerita deretan angka 24 ini makin cantik dan unik, saya posting tulisan jam 21.24 (UTC+7/WIB)sesuai jam di laptop saya. Sementara, waktu di dashboard akun saya pada website ini menunjukkan jam 2.24 pm (UTC GMT+0)- perbedaan setingan waktu. Anda bisa tanya admin web ini, Pak Tamam Fuadi, untuk memastikan di dashboard admin kapan tulisan di-publish.

    Semoga roda terus berputar, mesin tetap sehat, jalan yang dilalui semakin bermanfaat, dan setiap perjalanan, sejauh atau sedekat apa pun, selalu menjadi bagian dari kisah yang layak dikenang. Pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah angka di odometer, melainkan cerita yang berhasil dikumpulkan dan amal yang dilakukan di sepanjang jalan.

  • Cerita Laras

    Cerita Laras

    Hari ini menjadi hari terakhir pelaksanaan Tahap 2 Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK/SLB di Jawa Barat. Di SMKN 4 Padalarang, suasana pelayanan masih tampak ramai. Sejak pagi, ruang pendaftaran dipenuhi calon peserta didik beserta orang tua yang datang untuk memastikan seluruh proses berjalan dengan baik.

    SPMB sejatinya dilaksanakan secara daring. Pendaftaran dapat dilakukan dari rumah melalui perangkat masing-masing. Sekolah hanya menyediakan fasilitas komputer, jaringan internet dan pendampingan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan.

    Namun kenyataannya, banyak orang tua tetap memilih datang ke sekolah. Mereka tampak begitu teliti memeriksa setiap data, memastikan setiap dokumen telah terunggah dengan benar, dan tidak ragu bertanya kepada panitia apabila menemui kesulitan. Dibalik kesibukan itu, terlihat begitu besar harapan yang mereka titipkan untuk masa depan anak-anaknya.

    Ada satu hal yang menarik perhatian saya selama bertugas melayani pendaftaran. Sebagian besar yang aktif mengurus proses pendaftaran justru adalah orang tua. Mereka yang mengetik data, membuka berkas, membaca persyaratan, hingga memastikan seluruh tahapan selesai. Sementara sebagian anak hanya duduk menunggu, memperhatikan dari kejauhan, bahkan ada yang lebih sibuk dengan telepon genggamnya.

    Di tengah suasana itulah, saya bertemu dengan seorang calon peserta didik yang berbeda. Sebut saja namanya Laras. Ia datang seorang diri untuk mendaftar ke Program Keahlian Kuliner. Tidak ada ayah ataupun ibu yang mendampinginya. Dengan membawa map berisi dokumen, ia berjalan dari satu meja ke meja lainnya. Beberapa kali ia menghampiri panitia untuk memastikan persyaratan yang masih membuatnya ragu.

    “Pak, apakah berkas saya sudah benar?”

    “Pak, kalau syarat yang ini bagaimana?”

    Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin memahami proses pendaftarannya sendiri.

    Setelah membantu memeriksa dokumennya, saya mengetahui bahwa Laras tinggal bersama kakek dan neneknya. Orang tuanya telah berpisah. Sejenak saya terdiam. Di usianya yang masih sangat muda, ia harus belajar mengurus banyak hal secara mandiri. Tidak ada yang mengisi formulir untuknya. Tidak ada yang memegang berkasnya. Tidak ada yang mengambil keputusan atas namanya.

    Namun ia tetap datang. Tetap berusaha. Tetap menyimpan harapan untuk bisa melanjutkan pendidikan di SMKN 4 Padalarang. Saya sangat menghargai usahanya. Tidak semua anak seusianya memiliki semangat dan kemandirian seperti yang ia tunjukkan hari ini. Sebelum berpamitan, saya hanya berpesan agar ia tetap bersabar, terus berdoa, dan menunggu hasil seleksi dengan hati yang lapang.

    Ia mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang sederhana, tetapi penuh harapan.

    Setelah pelayanan pendaftaran selesai dan suasana mulai lengang, saya membuka klasemen sementara hasil seleksi. Entah mengapa, nama Laras menjadi nama pertama yang saya cari. Saya berharap ia berada dalam daftar yang diterima. Namun harapan itu belum menjadi kenyataan. Namanya masih berada diluar batas kuota penerimaan.

    Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Bukan karena saya mengenalnya, melainkan karena saya baru saja menyaksikan sendiri bagaimana seorang anak berjuang dengan segala keterbatasannya untuk meraih kesempatan melanjutkan pendidikan.

    Peristiwa singkat hari ini kembali mengingatkan kita bahwa setiap murid datang membawa cerita yang berbeda. Ada yang ditemani kedua orang tuanya, ada yang didukung keluarga besarnya, tetapi ada pula yang harus melangkah sendiri dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

    Sebagai guru, terkadang kita hanya melihat nama, nilai, dan peringkat. Padahal, di balik setiap nama terdapat perjuangan, doa, dan harapan yang mungkin tidak pernah kita ketahui.

    Untuk Laras, semoga langkahmu tidak berhenti sampai di sini. Mungkin kesempatan yang kamu harapkan belum menjadi takdir hari ini, tetapi bukan berarti cita-citamu harus berakhir. Teruslah belajar, teruslah berusaha, dan jangan pernah kehilangan keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya.

    Kami semua mendoakan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan, kemudahan, dan jalan terbaik untuk masa depanmu. Semoga kakek dan nenek yang telah merawatmu selalu diberikan kesehatan dan keberkahan. Dan semoga suatu hari nanti, kamu dapat menggapai cita-cita yang kamu impikan, di mana pun Allah menuntun langkahmu. Keberhasilan bukan hanya terletak pada sekolah mana yang menerima kita, tetapi seberapa besar kita mampu bangkit, bertahan, dan terus melangkah ketika keadaan belum berpihak.

    — Salah satu kisah kecil yang kami temui pada hari terakhir pelayanan SPMB Tahap 2 di SMKN 4 Padalarang. Semoga menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki cerita perjuangannya masing-masing, dan setiap perjuangan layak dihargai.

  • Drama SPMB: Misteri Calon Murid Baru

    Drama SPMB: Misteri Calon Murid Baru

    Menjadi bagian dalam proses PCMB (Pemetaan Calon Murid Baru) dan SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) memberikan pengalaman yang unik. Awalnya saya mengira tugas ini hanya soal memeriksa berkas, mencocokkan data, dan memastikan semua persyaratan terpenuhi. Ternyata tidak sesederhana itu. Di balik meja pendaftaran, saya menemukan berbagai kisah yang kadang membuat geleng-geleng kepala, kadang membuat tertawa, dan sesekali membuat saya bertanya, “Sebenarnya yang mau sekolah ini siapa?”

    Salah satu fenomena yang paling sering saya temui adalah calon murid yang bahkan tidak tahu jurusan yang ia pilih. Ya, Anda tidak salah baca. Ketika saya bertanya, “Kamu daftar jurusan apa?”

    Jawaban yang muncul sering kali bukan nama jurusan, melainkan ekspresi kebingungan yang cukup panjang untuk dijadikan wallpaper.

    Ada yang menjawab, “Sebentar, Pak, saya tanya ibu dulu.”

    Ada yang membuka ponsel, lalu menelepon orang tuanya.

    Ada juga yang dengan polos berkata, “Kurang tahu, Pak. Yang daftar ibu.”

    Saat itu saya mulai berpikir bahwa mungkin yang sedang mendaftar sebenarnya bukan calon murid, melainkan orang tuanya. Anak hanya berfungsi sebagai pelengkap administrasi yang kebetulan memiliki nama di formulir.

    Fenomena ini semakin menarik ketika proses perbaikan berkas dilakukan. Seorang calon murid datang karena ada data yang perlu diperbaiki di aplikasi. Saya menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan. Ia mengangguk.

    Saya bertanya, “Sudah paham?”

    Ia mengangguk lagi.

    Lalu saya lanjut bertanya, “Nanti bisa memperbaiki sendiri?”

    Ia menjawab dengan jujur, “Tidak tahu, Pak.”

    Ternyata selama proses pendaftaran, yang membuka aplikasi adalah orang tua, kakak, tetangga, guru BK, operator sekolah, bahkan mungkin kucing peliharaan di rumah lebih paham aplikasi dibandingkan dirinya. Paradoks dengan nilai Informatika di rapornya yang tertera: 97.

    Padahal yang akan menjalani pendidikan selama tiga tahun adalah si anak, bukan rombongan pendukung yang membantunya mendaftar.

    Temuan kedua bahkan lebih menghibur sekaligus mengkhawatirkan. Dalam banyak kasus, yang paling bersemangat mengikuti proses pendaftaran justru ibunya. Sang ibu datang dengan penuh energi. Semua berkas tersusun rapi dalam map. Jadwal pendaftaran dihafal. Informasi terbaru selalu diikuti. Ranking sementara dipantau lebih sering, dengan mengesampingkan terlebih dahulu harga cabai di pasar.

    Sementara itu, calon muridnya duduk di samping. Melehoy. Wajahnya datar. Ekspresinya seperti orang yang sedang menunggu antrean tambal ban.

    Ketika ibunya sibuk bertanya tentang peluang masuk sekolah, jalur pendaftaran, kuota, dan strategi pemilihan jurusan, sang anak justru asyik melihat video pendek di ponsel.

    Kadang saya ingin memastikan.

    “Yang mau sekolah siapa, Bu?”

    Tetapi tentu pertanyaan itu hanya saya simpan dalam hati demi menjaga suasana tetap kondusif.

    Ada satu kejadian yang masih saya ingat. Seorang ibu menjelaskan panjang lebar alasan memilih suatu jurusan. Penjelasannya sangat detail. Mulai dari peluang kerja, prospek masa depan, hingga kebutuhan industri. Setelah hampir lima menit berbicara, saya menoleh kepada anaknya dan bertanya, “Kamu setuju masuk jurusan itu?”

    Anaknya menjawab singkat.

    “Terserah.”

    Saya hampir tersedak.

    Ibunya berbicara seperti sedang mempresentasikan proposal bisnis miliaran rupiah, sementara pemilik masa depan yang sedang dibahas menjawab dengan satu kata: “Terserah!”.

    Fenomena ini sebenarnya lucu, tetapi juga menyimpan pesan penting. Memilih sekolah dan jurusan bukan sekadar urusan administrasi. Ini adalah keputusan yang akan memengaruhi perjalanan belajar seorang anak selama beberapa tahun ke depan.

    Orang tua memang memiliki niat baik. Mereka ingin memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya. Namun semangat orang tua tidak bisa menggantikan motivasi dari dalam diri anak. Jurusan terbaik akan terasa berat jika dipilih tanpa minat. Sekolah favorit pun bisa terasa membosankan jika muridnya sendiri tidak memiliki tujuan.

    Karena itu, sebelum sibuk berburu informasi pendaftaran, ranking sementara, atau strategi memilih sekolah, ada satu hal yang mungkin lebih penting untuk dilakukan: mengajak anak berdiskusi. Tanyakan apa yang ia sukai. Tanyakan cita-citanya. Tanyakan bidang yang membuatnya penasaran. Dan yang paling penting, pastikan ia ikut terlibat dalam proses pendaftaran. Minimal, kalau nanti ditanya jurusan yang dipilih, ia tidak perlu menelepon ibunya terlebih dahulu.

    Sebab tujuan pendidikan bukan hanya membuat anak diterima di sekolah yang diinginkan, tetapi juga membuatnya belajar bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri. Kalau sejak proses pendaftaran saja semua keputusan diambil orang lain, jangan heran jika nanti ketika sekolah dimulai, yang tetap paling semangat berangkat adalah ibunya, sementara anaknya masih lunglai seperti sedang menjalani hukuman sosial.

    Dan percayalah, sebagai orang yang terlibat dalam proses PCMB/SPMB, saya sudah melihat cukup banyak bukti untuk mendukung teori tersebut.

  • Sapaan di Tengah Kemacetan

    Sapaan di Tengah Kemacetan

    Sore itu, langit Padalarang mulai berubah warna. Matahari yang sejak siang terasa terik perlahan meredup, menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Seperti biasa, selepas menyelesaikan tugas mengajar di sekolah, saya mengendarai motor untuk pulang ke rumah.

    Jalan Raya Padalarang sedang padat merayap. Deretan kendaraan memenuhi ruas jalan. Motor, mobil, angkutan umum, semuanya bergerak perlahan seolah sedang berbaris dalam antrean panjang yang tak kunjung usai. Di tengah kepadatan itu, pikiran saya masih dipenuhi berbagai hal tentang sekolah: tentang materi yang harus disiapkan, tugas siswa yang belum selesai diperiksa, dan rencana-rencana pembelajaran untuk esok hari.

    Saat itulah, di antara suara mesin kendaraan dan klakson yang bersahutan, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang begitu akrab.

    “Pak Kuswandaaaaa…!”

    Suara itu terdengar cukup keras, seolah sengaja diteriakkan agar mampu menembus hiruk-pikuk jalan raya.

    Saya spontan menoleh.

    Di jalur yang berlawanan, seorang perempuan muda mengendarai motor matic. Wajahnya tertutup helm, tetapi sorot matanya terasa sangat familiar. Hanya butuh beberapa detik bagi saya untuk mengenalinya.

    Nadiana.

    Teman-temannya memanggilnya Naya. Salah satu siswi angkatan pertama Jurusan Teknik Elektronika Industri di sekolah kami.

    Saya terkejut sekaligus senang. Dalam situasi seperti itu, bertemu seorang alumni tentu bukan hal yang luar biasa. Namun yang membuat hati saya tersentuh adalah kenyataan bahwa di tengah kemacetan, di tengah kesibukan masing-masing, ia masih mengenali dan menyempatkan diri untuk menyapa gurunya.

    Dengan spontan saya mengangkat tangan dan membalas,

    “Hai, Naya!”

    Mungkin sapaan itu tidak terdengar jelas olehnya karena jarak dan kebisingan kendaraan. Namun saya yakin ia melihat gerakan tangan saya.

    Arus kendaraan terus bergerak. Kami tidak mungkin berhenti. Tidak ada kesempatan untuk berbincang atau sekadar menanyakan kabar. Hanya beberapa detik yang tersedia sebelum kendaraan membawa kami ke arah yang berbeda.

    Tetapi justru dalam hitungan detik itulah saya merasakan sesuatu yang begitu hangat.

    Saat motor kami saling menjauh, saya sempat melihat melalui spion. Di sana, Naya pun melakukan hal yang sama. Tangannya terangkat, melambaikan salam perpisahan kecil.

    Saya pun membalas dengan senyum. Lalu kami benar-benar berpisah. Masing-masing kembali melanjutkan perjalanan.

    Namun entah mengapa, sepanjang perjalanan pulang, peristiwa sederhana itu terus teringat.

    Sebagai seorang guru, sering kali kita tidak menyadari seberapa jauh jejak yang telah kita tinggalkan di hati para siswa. Bertahun-tahun mengajar, ribuan nama hadir silih berganti. Ada yang masih sering berkomunikasi, ada yang sesekali memberi kabar, dan tidak sedikit yang akhirnya tenggelam dalam kesibukan kehidupan masing-masing.

    Karena itu, ketika seorang alumni masih mengingat gurunya, itu bukanlah perkara kecil. Apalagi dalam situasi seperti yang saya alami sore itu.

    Sejujurnya, Naya memiliki banyak alasan untuk berpura-pura tidak melihat. Ia bisa saja fokus pada jalan. Ia bisa saja merasa sungkan. Ia bisa saja berpikir bahwa saya tidak akan mengenalinya lagi. Atau bahkan ia bisa saja memilih diam karena terburu-buru menuju suatu tempat.

    Namun ia tidak melakukan itu. Ia memilih menyapa. Memanggil nama gurunya dengan penuh semangat.

    Dan bagi saya, tindakan sederhana itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada yang mungkin ia bayangkan.

    Saya teringat kembali masa-masa awal berdirinya Jurusan Teknik Elektronika Industri. Saat itu segala sesuatu masih serba merintis. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Kami berusaha membangun budaya belajar, membentuk karakter siswa, dan meyakinkan banyak pihak bahwa jurusan ini memiliki masa depan yang baik.

    Naya adalah bagian dari perjalanan awal itu.

    Mungkin ia tidak menyadarinya, tetapi setiap alumni angkatan pertama memiliki tempat tersendiri dalam hati para guru. Mereka adalah generasi yang ikut membangun fondasi. Mereka belajar saat segala sesuatu masih dalam proses berkembang. Mereka menjadi saksi sekaligus pelaku dari perjalanan panjang sebuah jurusan.

    Kini, melihat mereka tumbuh dewasa, bekerja, melanjutkan pendidikan, atau sekadar menjalani kehidupan dengan baik, selalu menghadirkan rasa syukur yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

    Sore itu, kemacetan Padalarang mengajarkan saya kembali tentang satu hal. Bahwa keberhasilan seorang guru tidak selalu diukur dari nilai rapor, piala kejuaraan, atau sertifikat penghargaan.

    Kadang-kadang, keberhasilan itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Sebuah sapaan tulus di jalan raya. Sebuah panggilan yang terdengar di tengah kemacetan. Sebuah lambaian tangan dari seorang alumni yang masih menyimpan rasa hormat kepada gurunya.

    Bagi sebagian orang, mungkin peristiwa itu dianggap kejadian biasa yang berlangsung beberapa detik. Tetapi bagi saya, itu adalah pengingat bahwa hubungan antara guru dan murid sesungguhnya tidak berakhir saat kelulusan tiba.

    Ada ikatan yang tetap hidup, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Ikatan yang muncul dalam sebuah senyum, sebuah sapaan, dan sebuah lambaian tangan kecil di tengah padatnya Jalan Raya Padalarang.

    Terima kasih, Naya!

    Sapaan singkatmu sore itu mungkin hanya berlangsung sesaat. Namun kehangatan yang ditinggalkannya akan saya kenang jauh lebih lama daripada kemacetan yang menjadi latar pertemuan kita hari itu.

  • Memahami Dunia SMK: Panduan untuk Orang Tua dan Calon Murid SMK

    Memahami Dunia SMK: Panduan untuk Orang Tua dan Calon Murid SMK

    Setelah lulus SMP/MTs/sederajat, banyak murid dan orang tua mulai dihadapkan pada pilihan penting: melanjutkan ke SMA (Sekolah Menengah Atas) atau SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)?. Sebagian memilih berdasarkan ikut teman, jarak sekolah, atau karena jurusan terlihat menarik. Ada juga yang memilih sekolah hanya karena berstatus negeri dan gratis. Padahal, keputusan memilih sekolah menengah sangat berpengaruh terhadap masa depan murid. Salah memilih sekolah atau jurusan bisa membuat murid kehilangan semangat belajar, merasa tertekan, bahkan ingin pindah sekolah di tengah jalan.

    Sebelum mendaftar ke SMK, penting bagi murid dan orang tua memahami terlebih dahulu seperti apa sebenarnya kehidupan di SMK. SMK bukan sekadar “sekolah biasa” yang hanya belajar teori di kelas. SMK adalah sekolah yang menyiapkan murid untuk memiliki keterampilan kerja, pengalaman praktik, dan kemampuan sesuai bidang tertentu.

    Perbedaan paling mendasar antara SMA dan SMK terletak pada fokus pembelajarannya. SMA lebih banyak mempersiapkan murid untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui pembelajaran akademik umum seperti matematika, fisika, biologi, sejarah, dan lainnya.

    Sementara itu, SMK memadukan pelajaran umum dengan pelajaran kejuruan atau keterampilan khusus sesuai jurusan yang dipilih. Di SMK, murid tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung menggunakan alat, mesin, komputer, perangkat industri, maupun simulasi pekerjaan nyata.

    Misalnya:

    • Jurusan Teknik Elektronika belajar tentang rangkaian listrik, mikrokontroler, sensor, Programmable Logic Controller (PLC), dan otomasi industri.
    • Jurusan TJKT (Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi) belajar jaringan komputer, server, kabel jaringan, konfigurasi router, dan perangkat internet.
    • Jurusan PPLG (Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim) belajar pemrograman, membuat aplikasi, website, database, dan pengembangan gim.
    • Jurusan Kimia Industri belajar pengolahan bahan kimia, pengujian laboratorium, dan proses produksi industri.
    • Jurusan Agribisnis Tanaman belajar budidaya tanaman, pembibitan, perawatan, hingga pengelolaan hasil pertanian.
    • Jurusan Bisnis Retail belajar melayani konsumen, pemasaran, penataan produk, kasir digital, dan manajemen toko.
    • Jurusan Tata Boga belajar pengolahan makanan, tata hidang, manajemen dapur, dan pelayanan kuliner.

    Artinya, ketika memilih SMK, murid sebenarnya sedang memilih bidang keterampilan yang akan dipelajari selama tiga tahun dan bisa menjadi dasar keahlian pekerjaan atau karier di masa depan.

    Jangan Memilih Jurusan Karena Ikut Teman

    Kesalahan paling sering terjadi adalah memilih jurusan hanya karena ikut teman dekat. Akibatnya, banyak murid merasa salah jurusan setelah beberapa bulan belajar. Ada yang ternyata tidak suka praktik, takut menggunakan alat, tidak nyaman bekerja di bengkel atau laboratorium, atau tidak cocok dengan tugas-tugas komputer dan proyek.

    Memilih jurusan harus berdasarkan minat, kemampuan, dan kesiapan diri. Murid perlu bertanya kepada dirinya sendiri:

    • Apa yang saya sukai?
    • Pelajaran apa yang paling saya minati?
    • Apakah saya lebih suka praktik atau teori?
    • Apakah saya nyaman bekerja menggunakan alat atau komputer?
    • Bidang pekerjaan apa yang menarik bagi saya?

    Orang tua juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki bakat berbeda. Jangan memaksa anak masuk jurusan hanya karena dianggap “mudah cari kerja” jika anak sebenarnya tidak menyukai bidang tersebut.

    Jangan Memilih Sekolah Hanya Karena Gratis

    Saat ini banyak orang tua memilih sekolah hanya karena sekolah tersebut negeri dan tidak memerlukan biaya besar. Memang, biaya pendidikan menjadi pertimbangan penting. Namun memilih sekolah tidak boleh hanya berdasarkan status negeri atau gratis saja.

    SMK memiliki kebutuhan praktik yang berbeda dengan sekolah umum. Ada jurusan yang membutuhkan alat praktik, perangkat komputer, bahan proyek, hingga kegiatan industri di luar sekolah. Karena itu, orang tua perlu melihat apakah sekolah benar-benar memiliki fasilitas, lingkungan belajar, dan jurusan yang sesuai dengan minat anak.

    Sekolah yang tepat bukan sekadar yang murah atau dekat rumah, tetapi sekolah yang mampu membantu murid berkembang dan serius membimbing keterampilannya.

    SMK Banyak Praktik dan Membutuhkan Kesiapan

    Murid yang masuk SMK harus siap dengan kegiatan praktik yang cukup padat. Di beberapa jurusan, praktik bahkan lebih banyak dibanding teori. Praktik bisa dilakukan di laboratorium, bengkel, studio, dapur praktik, lahan pertanian, maupun ruang industri sekolah.

    Karena itu, murid harus memiliki kesiapan: Disiplin waktu, Mau belajar hal baru, Tidak takut mencoba, Siap bekerja dalam tim, Bertanggung jawab terhadap alat dan tugas

    Di SMK, murid juga akan sering mendapat tugas proyek. Ada yang harus membuat alat elektronika, merancang aplikasi, membuat jaringan komputer, membuat produk makanan, melakukan penelitian sederhana, atau membuat produk usaha.

    Dalam beberapa kondisi, murid juga perlu memiliki alat atau perangkat sendiri untuk menunjang pembelajaran. Misalnya:

    • Laptop untuk jurusan TJKT dan PPLG
    • Toolkit dan alat ukur untuk Teknik Elektronika
    • Peralatan praktik memasak untuk Tata Boga
    • Bahan praktik dan perlengkapan laboratorium untuk Kimia Industri
    • Alat pertanian untuk Agribisnis Tanaman

    Biaya kebutuhan tersebut kadang cukup besar dan perlu dipersiapkan sejak awal. Karena itu, orang tua dan murid perlu memahami bahwa belajar di SMK memang membutuhkan kesiapan lebih dibanding yang dibayangkan banyak orang.

    SMK Akan Menghadapi PKL

    Salah satu bagian penting di SMK adalah PKL atau Praktik Kerja Lapangan. Dalam kegiatan ini, murid belajar langsung di dunia industri sesuai jurusannya.

    PKL bisa dilakukan di: Pabrik, Bengkel, Hotel, Restoran, Laboratorium, Perusahaan teknologi, Toko retail modern, Perusahaan pertanian, Institusi Pemerintahan atau Pendidikan.

    Kadang tempat PKL tidak selalu dekat dengan rumah. Ada murid yang harus menempuh perjalanan jauh atau tinggal sementara di daerah lain demi mendapatkan tempat PKL yang lebih relevan dan berkualitas.

    Hal ini penting dipahami sejak awal oleh murid maupun orang tua. Pengalaman industri yang baik sering kali menjadi bekal berharga ketika lulus nanti.

    Melalui PKL, murid belajar: Disiplin kerja, Tanggung jawab, Komunikasi professional, Budaya industri, Kerja sama tim, dan Pengalaman kerja nyata. Karena itu, murid SMK harus mulai belajar mandiri dan bertanggung jawab sejak awal masuk sekolah.

    Mental Belajar di SMK Harus Kuat

    Di SMK, murid tidak cukup hanya rajin menghafal materi. Mereka harus berani mencoba, berani salah, dan terus belajar dari praktik yang dilakukan.

    Misalnya pada jurusan teknik, murid akan melakukan praktik: Pengukuran dan perakitan, Pemrograman, Perbaikan alat, Instalasi perangkat, Penggunaan mesin dan alat industri, dan lain-lain. Sedangkan di jurusan lain murid mungkin akan melakukan praktik: Pelayanan pelanggan, Pengelolaan produk, Pengolahan makanan, Penjualan dan pemasaran, Pengujian laboratorium, dan sebagainya.

    Karena itu, murid perlu memiliki mental belajar yang kuat. Jangan mudah menyerah hanya karena praktik pertama gagal atau hasil kerja belum bagus. Di SMK, proses belajar justru banyak terjadi melalui pengalaman langsung.

    SMK Tidak Menutup Kesempatan Kuliah

    Masih ada anggapan bahwa lulusan SMK pasti langsung bekerja dan tidak bisa kuliah. Padahal sekarang banyak lulusan SMK yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, terutama pada bidang teknik, teknologi, bisnis, maupun pertanian.

    SMK memang menyiapkan murid agar siap kerja, tetapi bukan berarti menutup kesempatan kuliah. Justru murid SMK yang melanjutkan pendidikan dan mengambil jurusan yang linier, biasanya sudah memiliki dasar keterampilan sesuai bidangnya. Karena itu, murid tidak perlu takut masuk SMK jika memiliki cita-cita kuliah. Yang penting adalah tetap serius belajar dan menjaga prestasi.

    Orang Tua Perlu Terlibat

    Keberhasilan murid di SMK tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga dukungan orang tua. Orang tua perlu:

    • Mengenali minat anak
    • Mendukung pilihan jurusan yang sesuai
    • Memantau perkembangan belajar
    • Memberikan motivasi saat anak kesulitan
    • Menjalin komunikasi dengan sekolah

    Kadang ada murid yang sebenarnya berbakat di bidang tertentu, tetapi kehilangan semangat karena merasa tidak didukung.

    Penutup

    Memilih SMK bukan keputusan kecil. Ini adalah langkah awal menentukan arah keterampilan dan masa depan murid. Karena itu, murid dan orang tua perlu memahami bahwa SMK berbeda dengan SMA. Di SMK, murid akan lebih banyak belajar praktik, keterampilan, kedisiplinan, dan pengalaman kerja nyata.

    Jika memilih jurusan sesuai minat dan kesiapan diri, SMK bisa menjadi tempat yang sangat baik untuk berkembang. Namun jika memilih hanya karena ikut teman, tren, atau sekadar karena sekolah gratis, murid berisiko merasa salah jurusan dan kehilangan semangat belajar. Masa depan yang baik dimulai dari pilihan yang tepat. Kenali diri, pahami jurusan, cari informasi sekolah dengan baik, lalu pilihlah jalan pendidikan yang benar-benar sesuai dengan kemampuan dan cita-cita murid.

  • Dua Kunci Sukses di Dunia Kerja

    Dua Kunci Sukses di Dunia Kerja

    Pada pelaksanaan upacara bendera hari Senin pagi di lapangan SMKN 4 Padalarang, pembina upacara, Bapak Tamam Fuadi menyampaikan amanat yang sangat relevan bagi para siswa, khususnya di jenjang SMK, yaitu tentang pentingnya keseimbangan antara hardskill dan softskill. Pesan ini bukan sekadar teori, melainkan bekal nyata yang akan menentukan keberhasilan seseorang dalam menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.

    Hardskill dapat dipahami sebagai kemampuan teknis yang spesifik sesuai dengan konsentrasi keahlian atau jurusan yang ditekuni. Bagi siswa Teknik Elektronika, misalnya, hardskill mencakup kemampuan membaca diagram, merakit rangkaian, membuat wiring, melakukan pengukuran, hingga melakukan troubleshooting. Bagi siswa jurusan lain, bentuknya bisa berbeda, tetapi prinsipnya sama: hardskill adalah kompetensi utama yang menjadi “tiket masuk” ke dunia kerja.

    Di era industri saat ini, perusahaan mencari individu yang siap kerja. Artinya, mereka mengutamakan kandidat yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu langsung menerapkan keterampilan tersebut di lapangan. Oleh karena itu penguasaan hardskill menjadi sangat penting. Tanpa hardskill yang memadai, peluang untuk diterima bekerja akan semakin kecil, karena perusahaan tidak ingin mengeluarkan banyak biaya dan waktu untuk melatih dari nol.

    Namun, memiliki hardskill saja tidak cukup. Di sinilah peran softskill menjadi sangat penting. Softskill adalah kemampuan non-teknis yang berkaitan dengan cara seseorang berinteraksi, berpikir, dan bersikap dalam lingkungan kerja. Contohnya adalah kemampuan komunikasi, kerja sama tim, disiplin, tanggung jawab, manajemen waktu, serta kemampuan beradaptasi.

    Sering kali kita mendengar bahwa seseorang yang pintar secara teknis belum tentu berhasil dalam kariernya. Hal ini terjadi karena kurangnya softskill. Misalnya, seseorang yang sangat ahli dalam bidangnya tetapi sulit bekerja sama dengan tim, tidak disiplin, atau tidak mampu berkomunikasi dengan baik, akan mengalami kesulitan dalam bertahan di dunia kerja. Sebaliknya, seseorang dengan kemampuan teknis yang cukup, tetapi memiliki sikap yang baik, mudah beradaptasi, mau belajar, dan mampu bekerja sama, justru memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.

    Lebih lanjut, Pak Tamam yang juga guru program keahlian Pemrograman Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) ini menambahkan bahwa dunia kerja saat ini menuntut keseimbangan antara keduanya. Hardskill akan membuka pintu kesempatan, dan softskill yang akan menentukan apakah seseorang bisa bertahan, berkembang, bahkan naik ke posisi yang lebih tinggi, memiliki karir yang baik. Banyak perusahaan lebih memilih karyawan yang memiliki sikap positif dan kemauan belajar, karena keterampilan teknis masih bisa ditingkatkan seiring waktu.

    Bagi siswa, khususnya di SMK, masa belajar di sekolah adalah waktu terbaik untuk mulai membangun kedua aspek ini. Hardskill dapat diasah melalui praktik di laboratorium, proyek, tugas, maupun kegiatan ekstrakurikuler yang relevan. Sementara itu, softskill dapat dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari, seperti datang tepat waktu, menyelesaikan tugas dengan tanggung jawab, aktif dalam diskusi, serta berani menyampaikan pendapat dengan cara yang santun.

    Selain itu, kegiatan organisasi, kerja kelompok, dan pembelajaran berbasis proyek juga menjadi sarana efektif untuk melatih softskill. Di sana, siswa belajar bagaimana berkomunikasi, menyelesaikan konflik, berbagi tugas, dan bekerja menuju tujuan bersama. Pengalaman-pengalaman ini akan sangat berharga ketika nanti memasuki dunia kerja yang sesungguhnya.

    Amanat Pak Tamam hari ini menjadi pengingat penting bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar seseorang secara akademik atau teknis, tetapi juga ditentukan oleh sikap dan cara berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dunia kerja bukan hanya tentang “apa yang kamu bisa”, tetapi juga “bagaimana kamu melakukannya”.

    Oleh karena itu, mari kita mulai membiasakan diri untuk tidak hanya fokus pada nilai dan keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter dan sikap. Jadilah pribadi yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berintegritas, disiplin, dan mampu bekerja sama.

    Dengan menguasai hardskill sebagai kunci pembuka dan memperkuat softskill sebagai bekal bertahan, setiap siswa memiliki peluang besar untuk tidak hanya masuk ke dunia kerja, tetapi juga sukses dan berkembang di dalamnya. Inilah bekal utama yang harus dipersiapkan sejak sekarang, karena masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini.

  • Perjalanan tanpa Suara

    Perjalanan tanpa Suara

    Kereta Api Pasundan melaju perlahan meninggalkan stasiun Kiara Condong. Suara gesekan roda dengan rel menjadi irama konstan yang mengisi ruang, berpadu dengan dengung halus AC di langit-langit gerbong. Di luar jendela, pemandangan berjalan seperti lukisan panjang yang digeser perlahan: sawah, kebun, rumah-rumah kecil, dan langit yang sedikit berawan.

    Saya berada di gerbong ekonomi 3, duduk di kursi 5A, anak saya di sebelah, 5B. Hari itu kami dalam perjalanan menuju Ciamis. Ada rasa yang sulit dijelaskan—antara lega, haru, dan kehilangan kecil—karena saya akan mengantarkannya kembali ke pondok pesantren. Baru beberapa hari di rumah, rasanya terlalu cepat untuk berpisah lagi.

    Di depan kami, tepatnya di kursi 4A, 4B, 3A, dan 3B, duduk satu keluarga: sepasang suami istri dengan dua anak balita. Di sebelah kiri saya, di kursi 4C dan 4D, ada pasangan lain. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, hingga saya menyadari sesuatu yang berbeda.

    Mereka semua berbicara tanpa suara.

    Tangan-tangan mereka bergerak cepat, wajah mereka penuh ekspresi, mata mereka hidup. Namun tak satu pun kata terdengar. Saya baru mengerti: mereka adalah penyandang tunawicara, mungkin juga tunarungu. Enam orang, dua keluarga, terhubung dalam percakapan yang begitu ramai—namun sunyi.

    Sunyi, setidaknya bagi telinga saya.

    Gerbong hari itu memang sepi. Hanya belasan penumpang yang tersebar jauh di belakang. Tak ada suara riuh anak-anak lain, tak ada percakapan keras seperti biasanya. Yang terdengar hanya kereta… dan keheningan yang anehnya terasa penuh.

    Saya memperhatikan mereka lebih saksama.

    Seorang ayah di depan saya menggerakkan tangannya dengan cepat, diselingi senyum lebar. Istrinya menanggapi dengan ekspresi pura-pura marah, lalu tertawa—meski tanpa suara. Anak kecil di sampingnya menirukan gerakan tangan orang tuanya, lalu tertawa dengan cara mereka sendiri—suara yang lebih seperti hembusan napas ringan.

    Pasangan di sebelah kiri saya pun tak kalah hidup. Sang suami tampak bercerita panjang lebar, sementara istrinya sesekali menepuk lengannya, seolah menyela atau menggoda. Mereka terlihat akrab, hangat, dan… bahagia.

    Saya menoleh ke anak saya. Ia juga memperhatikan mereka.

    “Ayah,” bisiknya pelan, “mereka ngomong apa ya?”

    Saya tersenyum kecil. “Ayah juga nggak tahu.”

    Kami kembali diam. Tapi diam yang kali ini terasa berbeda. Ada rasa ingin mengerti, ingin masuk ke dalam dunia yang sedang mereka jalani.

    Dunia tanpa suara.

    Awalnya, saya merasa dunia itu sunyi. Sepi. Bahkan mungkin menyedihkan. Tapi semakin lama saya memperhatikan, persepsi itu mulai berubah.

    Sunyi, ternyata, bukan berarti kosong.

    Tangan-tangan mereka seperti kata-kata yang menari. Setiap gerakan punya arti. Setiap ekspresi punya emosi. Bahkan mungkin lebih jujur daripada kata-kata yang sering kita ucapkan tanpa berpikir.

    Saya mulai menyadari sesuatu yang selama ini luput.

    Selama ini, saya hidup di dunia yang penuh suara. Tapi sering kali, suara itu tidak benar-benar berarti. Kita berbicara, tapi tidak selalu mendengar. Kita mendengar, tapi tidak selalu memahami.

    Di depan saya, mereka tidak punya suara. Tapi mereka… saling memahami.

    Salah seorang anak tiba-tiba berdiri di kursinya, lalu menunjuk ke arah jendela. Ia menarik tangan ibunya, mengajak melihat sesuatu. Ibunya menoleh, lalu tersenyum lebar. Sang ayah ikut melihat, kemudian mengangguk-angguk.

    Mereka bertiga tertawa. Lagi-lagi tanpa suara. Namun entah mengapa, saya bisa “mendengar” tawa itu.

    Ada kehangatan yang terasa sampai ke tempat duduk saya. Ada kebahagiaan yang menular, meski tanpa satu pun kata.

    Anak saya menyenggol lengan saya pelan. “Ayah…”

    Saya menoleh.

    “Kayaknya mereka bahagia sekali, ya.”

    Saya mengangguk perlahan. “Iya.”

    Kami kembali terdiam, tapi kali ini bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan. Justru karena terlalu banyak yang sedang kami rasakan.

    Kereta terus melaju. Waktu berjalan tanpa terasa. Sesekali, salah satu dari mereka melirik ke arah saya, lalu tersenyum. Saya membalas dengan anggukan kecil. Ada rasa canggung, tapi juga ada rasa… terhubung, meski tanpa bahasa yang sama.

    Saya mulai berpikir—betapa seringnya saya mengeluh tentang hal-hal kecil. Tentang lelah, tentang pekerjaan, tentang hidup yang terasa berat. Padahal di depan saya ada orang-orang yang hidup tanpa suara, tanpa mendengar dunia seperti saya… tapi mereka tetap bisa tertawa, bercanda, dan menikmati kebersamaan.

    Mungkin, bukan suara yang membuat hidup terasa penuh. Mungkin, justru rasa yang kita bagi.

    Anak saya tiba-tiba berdiri sedikit dari kursinya. Ia melihat ke arah anak kecil di depan, lalu mengangkat tangannya dengan canggung. Ia mencoba meniru gerakan sederhana—melambaikan tangan.

    Anak kecil itu melihatnya. Sejenak mereka saling menatap.

    Lalu, anak itu tersenyum lebar dan membalas lambaian tangan anak saya.

    Sederhana. Tapi entah kenapa, hati saya terasa hangat.

    Dua anak dari dunia yang berbeda—yang satu hidup dalam dunia penuh suara, yang satu dalam dunia tanpa suara—bertemu di satu titik yang sama: senyum.

    Saya merasakan sesuatu mengganjal di dada. Perjalanan ini seharusnya tentang mengantar anak kembali ke pesantren. Tentang perpisahan kecil yang selalu terasa berat. Tapi tanpa saya sadari, perjalanan ini memberi saya pelajaran lain.

    Tentang memahami. Tentang mendengar—bukan dengan telinga, tapi dengan hati.

    Kereta mulai melambat. Stasiun Tasikmalaya sudah dekat. Saya melihat keluarga di depan mulai bersiap. Mereka merapikan barang, menggendong anak, dan saling memberi isyarat cepat.

    Sebelum turun, sang bapak menoleh ke arah saya. Ia tersenyum, lalu sedikit menundukkan kepala.

    Saya spontan membalas dengan hal yang sama. Tak ada kata terucap. Tapi saya mengerti maksudnya. Dan mungkin, ia juga mengerti apa yang ingin saya sampaikan.

    Kereta berhenti. Pintu terbuka. Mereka turun satu per satu, tetap dalam dunia mereka yang sunyi—atau mungkin justru dunia yang penuh dengan cara mereka sendiri.

    Saya memperhatikan hingga mereka menghilang di peron. Gerbong kembali terasa kosong. Namun anehnya, kali ini keheningan itu tidak terasa sepi.

    Saya menoleh ke anak saya.

    “Ayah,” katanya pelan, “kalau kita nggak bisa dengar… kita masih bisa bahagia nggak?”

    Saya tersenyum, lalu mengusap kepalanya.

    “Bisa,” jawab saya. “Selama kita masih bisa saling mengerti.”

    Kereta kembali bergerak. Suara roda kembali terdengar. Tapi di dalam hati saya, ada sesuatu yang berubah.

    Hari itu, di dalam gerbong yang sunyi, saya justru belajar arti komunikasi yang sesungguhnya. Bukan tentang suara. Tapi tentang rasa.

  • Jangan Sampai Terlewat! 5 Cara Mengisi Liburan Idulfitri yang Seru dan Bermanfaat bagi Siswa

    Jangan Sampai Terlewat! 5 Cara Mengisi Liburan Idulfitri yang Seru dan Bermanfaat bagi Siswa

    Libur Idulfitri menjadi salah satu momen yang paling ditunggu oleh para siswa, selain libur semester dan libur akhir tahun. Setelah menjalani berbagai aktivitas belajar di sekolah, mengerjakan tugas, serta mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik, seperti Pesantren Kilat, akhirnya datang juga waktu untuk beristirahat sejenak. Biasanya libur Idulfitri berlangsung cukup panjang, bahkan bisa mencapai dua minggu. Waktu yang cukup lama ini tentu menjadi kesempatan yang sangat baik bagi kita semua untuk menyegarkan pikiran, berkumpul bersama keluarga, sekaligus melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat.

    Namun demikian, liburan bukan berarti waktu untuk bermalas-malasan tanpa arah. Justru liburan yang baik adalah liburan yang tetap memberikan nilai positif bagi diri kita. Oleh karena itu, penting bagi setiap siswa untuk memanfaatkan masa libur Idulfitri ini dengan kegiatan yang bermanfaat, menyenangkan, sekaligus tetap membangun karakter yang baik.

    Pertama, gunakan waktu liburan untuk mempererat hubungan dengan keluarga. Idulfitri identik dengan kebersamaan dan silaturahmi. Setelah satu bulan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, hari raya menjadi momen untuk saling memaafkan dan mempererat hubungan kekeluargaan. Para siswa dapat memanfaatkan waktu ini untuk membantu orang tua di rumah, berkumpul bersama keluarga besar, serta menjaga hubungan baik dengan tetangga dan kerabat. Hal-hal sederhana seperti membantu membersihkan rumah, menyiapkan hidangan untuk tamu, atau sekadar menemani orang tua berbincang bisa menjadi kegiatan yang sangat berarti.

    Kedua, manfaatkan liburan untuk tetap menjaga kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan Ramadhan. Selama Ramadhan, kita terbiasa bangun lebih pagi, melaksanakan ibadah dengan lebih disiplin, serta menjaga perilaku dan ucapan. Kebiasaan baik ini seharusnya tidak berhenti setelah Ramadhan berakhir. Liburan Idulfitri bisa menjadi waktu yang tepat untuk mempertahankan kebiasaan tersebut. Misalnya dengan tetap menjaga shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, atau melakukan kegiatan positif lainnya yang dapat memperkuat nilai-nilai spiritual dalam diri kita.

    Ketiga, liburan juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan diri. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh siswa selama liburan, seperti membaca buku, mempelajari keterampilan baru, atau mencoba hal-hal kreatif. Bagi siswa yang memiliki minat di bidang teknologi, misalnya, liburan bisa digunakan untuk mencoba membuat proyek sederhana, belajar pemrograman dasar, atau mempelajari hal-hal baru yang belum sempat dipelajari di sekolah. Sementara itu, siswa yang menyukai kegiatan kreatif dapat mencoba menulis, menggambar, membuat kerajinan, atau membuat konten edukatif yang bermanfaat.

    Keempat, jangan lupa untuk menjaga kesehatan. Liburan sering kali identik dengan berbagai hidangan lezat, terutama saat Idulfitri. Makanan seperti ketupat, opor, rendang, dan berbagai kue kering tentu sangat menggoda. Namun demikian, kita tetap perlu menjaga pola makan agar kesehatan tetap terjaga. Selain itu, usahakan untuk tetap melakukan aktivitas fisik ringan seperti berolahraga, berjalan santai, atau membantu pekerjaan rumah agar tubuh tetap bugar.

    Kelima, manfaatkan liburan untuk merefleksikan diri dan mempersiapkan langkah ke depan. Liburan dua minggu merupakan waktu yang cukup baik untuk melakukan evaluasi diri. Para siswa dapat merenungkan kembali apa saja yang telah dicapai selama belajar di sekolah, serta apa yang masih perlu diperbaiki. Dengan melakukan refleksi, kita dapat menyusun rencana yang lebih baik untuk menghadapi kegiatan belajar setelah liburan berakhir.

    Selain itu, penting juga bagi siswa untuk tetap menjaga sikap dan perilaku selama masa liburan. Meskipun tidak berada di lingkungan sekolah, dan lepas dari atribut seragam sekolah, setiap siswa tetap membawa nama baik dirinya, keluarga, dan sekolah. Oleh karena itu, jagalah perilaku yang baik di masyarakat, baik dalam pergaulan langsung maupun dalam penggunaan media sosial. Gunakan media sosial secara bijak dan hindari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

    Liburan Idulfitri harus menjadi momen untuk kembali dengan semangat yang baru. Setelah menikmati waktu bersama keluarga dan melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat, para siswa diharapkan dapat kembali ke sekolah dengan pikiran yang lebih segar, semangat belajar yang lebih tinggi, serta motivasi yang lebih kuat untuk meraih prestasi.

    Mari kita jadikan liburan Idulfitri sebagai waktu yang menyenangkan dan penuh makna. Gunakan waktu dengan bijak, isi hari-hari dengan kegiatan positif, dan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

    Selamat menikmati liburan Idulfitri. Semoga kebersamaan dengan keluarga membawa kebahagiaan, dan semoga kita semua dapat kembali ke sekolah dengan semangat baru untuk belajar dan berkarya. Liburan ini menjadi kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih disiplin, dan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

    Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir & Bathin.

  • Resolusi: Jangan Cuma Janji, Tunjukkan Aksi

    Resolusi: Jangan Cuma Janji, Tunjukkan Aksi

    Setiap awal tahun, kita sering mendengar atau bahkan membuat resolusi. Ada yang ingin nilainya naik, lebih rajin belajar, lebih disiplin, atau lebih aktif di sekolah. Resolusi biasanya ditulis dengan penuh semangat di awal tahun, tapi sayangnya, banyak yang terlupakan sebelum tahun itu benar-benar berjalan jauh.
    Memasuki tahun 2026, ada satu hal penting yang perlu kita pahami bersama: resolusi bukan sekadar janji, tapi rencana yang harus dijalankan. Lebih dari itu, resolusi seharusnya diawali dengan refleksi, bukan hanya harapan.

    Mengapa Resolusi Sering Gagal?
    Banyak siswa merasa resolusinya tidak tercapai. Beberapa alasannya sederhana, tetapi sering terjadi:
    • Resolusi terlalu umum, misalnya “ingin rajin belajar”
    • Tidak punya rencana yang jelas
    • Semangat hanya di awal tahun
    • Tidak konsisten menjalankan kebiasaan kecil
    Tanpa disadari, kita sering mengulangi pola yang sama setiap tahun: menulis resolusi baru, tetapi lupa mengevaluasi yang lama.

    Langkah Awal: Evaluasi Diri
    Sebelum membuat resolusi 2026, coba luangkan waktu sejenak untuk bertanya pada diri sendiri:
    • Apa target saya tahun lalu?
    • Mana yang tercapai?
    • Mana yang belum tercapai?
    • Apa penyebabnya?
    Evaluasi bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi untuk belajar dari pengalaman. Dari sini, kita bisa membuat resolusi yang lebih masuk akal dan bisa dijalankan.

    Menentukan Resolusi yang Jelas
    Resolusi yang baik adalah resolusi yang jelas dan spesifik. Bandingkan dua contoh berikut:
    • “Saya ingin belajar lebih giat.”
    • “Saya akan belajar minimal 30 menit setiap hari setelah magrib.”
    Resolusi kedua lebih jelas dan mudah dilakukan. Agar lebih rapi, resolusi bisa dibagi ke beberapa bidang:
    • Akademik (nilai, keterampilan)
    • Sikap dan karakter (disiplin, tanggung jawab)
    • Kesehatan (istirahat, olahraga)
    • Pengembangan diri (hobi, kreativitas)
    Tidak perlu terlalu banyak. Dua atau tiga resolusi utama sudah cukup, asalkan dijalankan dengan konsisten.

    Buat Strategi Sederhana
    Setelah resolusi ditentukan, langkah berikutnya adalah memikirkan caranya. Inilah yang disebut strategi.
    Contoh:
    • Resolusi: nilai matematika meningkat
    • Strategi: Mencatat ulang materi penting, Bertanya jika tidak paham, Latihan soal sedikit tapi rutin
    Strategi tidak harus rumit. Justru strategi yang sederhana lebih mudah dijalankan.

    Turunkan ke To-Do List Harian dan Mingguan
    Resolusi besar akan terasa berat jika tidak dipecah menjadi langkah kecil. Karena itu, buatlah:
    • To-do list harian, misalnya: Mengerjakan PR tepat waktu, Membaca ulang catatan 15 menit
    • To-do list mingguan, misalnya: Merangkum satu bab pelajaran, Mengulang materi yang sulit
    Langkah kecil yang dilakukan setiap hari jauh lebih efektif daripada belajar keras tapi jarang.

    Bangun Kebiasaan, Bukan Nunggu Mood
    Sering kali kita menunggu mood atau semangat untuk belajar. Padahal, kebiasaan lebih penting daripada motivasi. Motivasi bisa naik turun, tetapi kebiasaan akan tetap berjalan jika sudah terbentuk.
    Contohnya:
    • Belajar di jam yang sama setiap hari
    • Menyimpan buku di tempat yang mudah dijangkau
    • Mengurangi distraksi saat belajar
    Dengan kebiasaan yang baik, resolusi tetap berjalan meskipun sedang malas.

    Pantau dan Evaluasi Secara Berkala
    Resolusi tidak harus ditunggu sampai akhir tahun untuk dievaluasi. Coba lakukan evaluasi sederhana:
    • Setiap minggu: apa yang sudah saya lakukan?
    • Setiap bulan: apakah resolusi masih berjalan?
    • Jika belum, apa yang perlu diperbaiki?
    Evaluasi ini membantu kita tetap sadar pada tujuan dan tidak kehilangan arah.

    Gagal Itu Wajar, Menyerah Itu Pilihan
    Akan ada hari ketika kita malas, lupa, atau tidak sesuai rencana. Itu wajar. Yang penting adalah tidak berhenti hanya karena satu kegagalan. Bangkit kembali dan lanjutkan.
    Ingat, resolusi bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi lebih baik dari sebelumnya.

    Penutup
    Resolusi tahun 2026 seharusnya bukan sekadar tulisan di awal tahun, tetapi langkah nyata yang dijalani setiap hari. Dengan evaluasi, tujuan yang jelas, strategi sederhana, dan kebiasaan kecil yang konsisten, resolusi bukan lagi mimpi, melainkan proses perubahan. Tahun baru adalah kesempatan baru.
    Sekarang pertanyaannya: resolusi 2026-mu sudah siap dijalankan, atau masih sekadar rencana?

  • Febby Syahrul Fahrurodzi: Melangkah Pelan, Tumbuh Pasti di Era Teknologi

    Febby Syahrul Fahrurodzi: Melangkah Pelan, Tumbuh Pasti di Era Teknologi

    Di tengah derasnya perkembangan teknologi, selalu ada sosok-sosok muda yang tumbuh perlahan tapi pasti, menapaki jalannya sendiri. Salah satunya adalah Febby Syahrul Fahrurodzi, alumni SMKN 4 Padalarang kelahiran 11 Februari 2002. Lahir dari keluarga sederhana, dengan orang tua yang bekerja sebagai karyawan swasta, Febby tumbuh dengan nilai yang kuat: kerja keras, tekun, dan tidak cepat menyerah. Nilai-nilai itu menjadi bekal penting ketika ia memasuki dunia teknologi yang penuh tantangan.


    Febby menyelesaikan pendidikan di SMKN 4 Padalarang pada tahun 2020, tepat ketika pandemi membuat banyak hal berubah. Namun, masa sulit itu justru membentuk ketahanan mentalnya. Ia merasakan betul bahwa sekolah di SMK bukan hanya soal hadir di kelas, mencatat materi, atau mengumpulkan tugas. Lebih dari itu, SMK adalah tempat untuk mempraktikkan ilmu.

    Belajarnya di jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) menjadi titik awal dirinya membangun pondasi. Dari mengelola jaringan, memperbaiki perangkat, hingga troubleshooting, semuanya ia alami langsung. Ia juga merasakan bagaimana guru-guru TKJ memberi ruang untuk mencoba, ruang untuk salah, dan ruang untuk bangkit lagi.

    “Kesempatan dan kepercayaan yang diberikan menjadi bagian penting dalam perjalanan saya hingga hari ini.”
    — Febby Syahrul Fahrurodzi

    Kebiasaan melihat masalah secara tenang dan menyelesaikannya langkah demi langkah yang ia pelajari di sekolah, ternyata menjadi bekal emas saat memasuki dunia kerja.

    Menapak Dunia Profesional: Dari Cloud Engineer hingga IT Consultant
    Hanya setahun setelah lulus, Febby sudah bergabung sebagai Cloud Engineer di PT eBdesk Teknologi (Februari 2021). Di sana ia menjaga infrastruktur cloud, memastikan keamanan sistem, dan melakukan optimalisasi layanan. Dunia cloud membuatnya terus belajar, apalagi teknologi bergerak sangat cepat.

    Kariernya berkembang cepat. Pada Januari 2023, ia bergabung sebagai IT Consultant di PT Landmark Ltd, sebuah posisi yang menuntutnya memahami kebutuhan klien, menganalisis sistem, dan merancang solusi teknologi. Di saat yang sama, sejak Maret 2022 ia juga menjadi IT Consultant di sebuah Instansi Pemerintahan, ikut berkontribusi pada transformasi digital di sektor publik.

    Setiap tempat memberinya sudut pandang baru. Dunia korporasi mengajarkan ketelitian dan kecepatan, sementara dunia pemerintahan membuatnya melihat bagaimana teknologi bisa mempermudah masyarakat.

    Hal lain yang menarik dari perjalanan Febby adalah kecintaannya untuk berbagi ilmu. Sejak Januari 2022 ia menjadi Tutor di SMK Bina Rahayu, kembali bertemu dengan dunia yang dulu membesarkannya. Januari hingga Juni 2023, ia juga menjadi Tutor di Universitas Amikom Yogyakarta. Mengajar menjadi cara Febby menata dan merapikan kembali simpanan ilmunya, sekaligus memberi dampak untuk generasi berikutnya. Di tengah semua aktivitasnya, ia terus belajar dan akhirnya meraih gelar S1 Teknik Informatika dari Universitas Budi Luhur.

    Saat diminta menyampaikan kesan tentang SMKN 4 Padalarang, Febby tidak banyak berpikir. Baginya, sekolah adalah titik awal di mana ia berkembang paling pesat. Ia merasakan bagaimana materi jurusan TKJ memberikan dasar kuat, dan bagaimana praktek langsung membuatnya paham dunia kerja lebih awal.

    “Kesempatan dan kepercayaan yang diberikan menjadi bagian penting dalam perjalanan saya hingga hari ini.”

    Itu bukan sekadar kalimat. Itu adalah rangkuman pengalaman seorang anak muda yang diberi ruang untuk tumbuh. Ketika diminta untuk memberikan pesan untuk adik-adiknya di SMK, Febby memberikan pesan yang sederhana tapi sangat kuat:


    “Tidak perlu terburu-buru. Selesaikan segala sesuatunya langkah demi langkah. Jangan takut gagal.”

    Menurutnya, perjalanan karier bukan lomba lari sprint, tapi maraton. Yang paling penting bukan seberapa cepat kamu berangkat, tetapi seberapa konsisten kamu melangkah. Febby juga memberikan beberapa catatan tentang teknologi yang berkembang saat ini yaitu Artificial Intelligence (AI). Mengikuti dinamika teknologi hari ini, Febby menyadari banyak yang takut pada perkembangan besar seperti AI. Namun ia memandangnya secara berbeda. Ia teringat pesan dari pimpinannya:


    “Siapa pun yang mampu memanfaatkan AI, dialah pemenangnya.”

    Teknologi bukan musuh. Ia adalah alat. Dan alat hanya bermanfaat bagi mereka yang mau belajar. Ia menutup pesannya dengan lima langkah sederhana bagi generasi muda:
    • Susun strategi berjangka
    • Lakukan evaluasi
    • Moratorium
    • Reorientasi
    • Restrukturisasi
    “Langkah-langkah itu membuat kita lebih siap menghadapi perubahan yang semakin cepat”ungkapnya menutup perbincangan.

    Note:
    * Disarikan dari interview Sidik Hanafiah dengan Febby Syahrul Fahrurodzi via WA