Lebaran tanpa Cerita

bapak

Lebaran selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan kenangan. Bagi sebagian orang, ia datang dengan aroma opor ayam dan gema takbir bersahutan di langit malam. Tapi bagi saya, Lebaran tahun ini datang dengan sesuatu yang berbeda, sunyi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Pagi hari Lebaran tahun lalu, selepas shalat Ied di lapangan kampung, Bapak masih berdiri tegap di depan rumah. Mengenakan baju koko putih yang sudah agak kusam, tapi selalu disetrika rapi. Sarungnya dililit dengan khas, dan peci hitam itu tidak pernah lepas dari kepalanya. Ia menyambut tamu dengan senyum yang hangat, suara yang mantap, dan cerita-cerita yang selalu sama, tapi entah kenapa, tak pernah membosankan.

Tahun ini, Bapak masih duduk di kursi yang sama di ruang tamu. Tapi sorot matanya berbeda. Kosong, seperti sedang mencari sesuatu yang tak ia temukan.

“Pak, ini siapa?” tanya saya pelan, sambil menunjuk diri sendiri.

Bapak menatap saya lama. Lama sekali. Lalu tersenyum.

“Siapa ya?” katanya balik bertanya dengan raut bingung.

Dada saya sesak. Saya hanya bisa tersenyum kembali, meskipun rasanya seperti ada yang runtuh di dalam diri saya. Bapak saya, seorang pensiunan guru SD, orang yang paling saya kagumi, kini mulai lupa dengan dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.

*****

Bapak sering bercerita tentang masa kecilnya. Tentang bagaimana ia dulu tidak mau sekolah. Katanya, sekolah itu membosankan. Duduk diam, mendengarkan guru, menghafal pelajaran, semua itu menjadi beban baginya. Makanya, selepas lulus SMP ia lebih memilih berjualan kerupuk keliling desa.

“Dulu Bapak itu bandel,” katanya sambil tertawa. “Pagi-pagi pura-pura berangkat sekolah, tapi sebenarnya belok ke pabrik kerupuk Mang Dullah.”

Saya selalu tertawa setiap mendengar cerita itu. Sulit membayangkan seorang guru seperti Bapak dulunya suka membolos sekolah.

“Kenapa Bapak lebih pilih jualan kerupuk?” tanya saya dulu.

“Karena di jalan itu hidup,” jawabnya. “Ada banyak orang, ada cerita, ada uang juga tentunya,” tambahnya sambil mengedipkan mata.

Tapi ada satu hal yang membuat saya kagum.

Meski tidak mau melanjutkan sekolah, Bapak justru ikut kursus bahasa Inggris di kota, Seminggu dua kali, Bapak membawa kerupuk jualannya ke arah ibu kota kabupaten. Jalan sepanjang 12 kilometer ditempuhnya, bukan sekedar jualan kerupuk. Tapi tujuan akhirnya adalah sebuah lembaga kursus bahasa paling tua di kota.

“Lho, katanya tidak suka belajar?” tanya saya.

“Itu beda,” katanya. “Bahasa Inggris itu seru. Seperti punya kunci untuk membuka dunia.”

Saya tidak pernah benar-benar mengerti maksudnya waktu itu. Sampai suatu hari, saya melihat sendiri. Seorang turis asing datang ke Astana Gede, saya dan Bapak kebetulan sedang jalan-jalan di sana. Orang-orang hanya menatap bingung, tapi Bapak maju dengan percaya diri.

Can I help you?” katanya dengan logat yang tidak sempurna, tapi jelas dan berani.

Turis itu tersenyum dan mulai berbicara. Bapak melayani dengan lancar. Saya berdiri di sampingnya, terpukau. Sejak saat itu, saya tahu, Bapak memang berbeda.

*****

Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kakak tertua Bapak, yang saya panggil Wa Suryo, tidak setuju dengan pilihan hidupnya.

“Kamu itu harus sekolah!” kata Wa Suryo suatu hari, seperti yang sering diceritakan Bapak.

“Tapi saya sudah bisa cari uang,” bantah Bapak.

“Ini bukan soal uang. Masa depanmu itu penting,” jawab Uwa tegas.

Akhirnya, dengan setengah hati, Bapak dipaksa melanjutkan sekolah ke SPG, Sekolah Pendidikan Guru.

Awalnya, ia menjalani semuanya dengan ogah-ogahan. Tapi seperti yang sering terjadi, sesuatu berubah di tengah jalan.

“Waktu pertama kali praktik mengajar, Bapak lihat anak-anak itu… polos,” katanya suatu malam. “Mereka butuh orang yang bisa mendidik, bukan cuma mengajarkan pelajaran, tapi juga membekali mereka cara hidup.”

Dari situlah, katanya, ia mulai menemukan makna. Bapak yang dulu sering kabur dari sekolah, justru menjadi guru. Dan bukan sekadar guru biasa. Ia dikenal sebagai guru yang sabar, yang tidak hanya mengajar dengan buku, tapi dengan hati. Ia sering mengajak murid-muridnya bermain sambil belajar, bahkan sesekali menyelipkan bahasa Inggris sederhana dalam pelajaran.

Good morning!” katanya setiap pagi di kelas, yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya dengan penuh semangat.

Saya tumbuh dengan cerita-cerita itu. Dengan sosok Bapak yang tidak sempurna, tapi penuh perjuangan. Ia bukan orang yang lahir dari keluarga berada, bukan pula yang selalu berada di jalur lurus. Tapi justru dari belokan-belokan itulah, ia menemukan jalannya. Dan saya bangga. Sangat bangga.

*****

Lebaran tahun ini, rumah Bapak tetap ramai. Saudara datang silih berganti. Tawa terdengar, makanan tersaji, anak-anak bermain berlarian di halaman yang luas.

Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang berbeda. Bapak tidak lagi menjadi pusat cerita. Ia duduk diam, sesekali tersenyum, tapi tidak benar-benar terlibat.

Seorang tamu datang, muridnya waktu SD.

“Pak Guru!” sapa pria itu dengan wajah sumringah. “Masih ingat saya? Dulu saya murid Bapak di SD Cieurih 2!”

Bapak menatapnya. Lama. Lalu tersenyum.

“Maaf, kamu siapa ya?” katanya pelan.

Pria itu terdiam. Senyumnya perlahan memudar, tapi ia berusaha tetap tegar.

“Saya… murid Bapak, Pak.”

“Oh…” jawab Bapak singkat.

Saya melihat mata pria itu berkaca-kaca. Ia menunduk, mencium tangan Bapak dengan takzim, lalu berpamitan. Saya ingin menghentikannya, ingin menjelaskan, tapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokan.

*****

Malam harinya, setelah tak ada lagi tamu berkunjung, saya duduk di samping Bapak.

“Pak,” kata saya pelan, “dulu Bapak ingin jadi apa?”

Bapak menatap saya. Kali ini, matanya sedikit lebih hidup.

“Jadi… penjual kerupuk,” jawabnya sambil tersenyum kecil.

Saya tertawa pelan.

“Terus kenapa jadi guru?”

Ia terdiam sejenak. Lalu berkata, “Karena…dipaksa sama Uwa kamu.”

Kami sama-sama tertawa.

Untuk sesaat, rasanya seperti Bapak yang dulu kembali. Saya menggenggam tangan Bapak. Tangan yang dulu kuat menggandeng saya ke sekolah. Tangan yang terampil menulis dengan kapur tulis di papan tulis, yang membimbing murid-muridnya, yang bekerja tanpa lelah.

Kini, tangan itu terasa lebih rapuh.

“Pak,” kata saya, “terima kasih ya.”

“Untuk apa?” tanyanya.

“Untuk semuanya.”

Bapak tersenyum, tanpa benar-benar mengerti.

Tapi tidak apa-apa.

Karena saya tahu, meskipun ingatannya memudar, semua yang telah ia lakukan akan tetap hidup. Di dalam diri saya, dalam diri murid-muridnya, dalam setiap cerita yang pernah ia bagikan.

Lebaran kali ini memang berbeda. Tidak ada lagi cerita panjang dari Bapak di ruang tamu. Tidak ada lagi tawa kerasnya yang memenuhi rumah. Tidak ada lagi nasihat-nasihat sederhana namun selalu tepat sasaran. Tapi ada sesuatu yang tetap tinggal.

Kenangan.

Dan mungkin, itulah makna Lebaran yang sesungguhnya, bukan hanya tentang kembali ke rumah, tapi juga kembali ke hati. Mengingat, menghargai, dan menerima perubahan yang tidak bisa kita hindari. Saya menatap Bapak yang kini terlelap di kursinya.

“Selamat Lebaran, Pak,” bisik saya pelan.

Dan untuk pertama kalinya, saya sadar, tidak semua kehilangan harus terasa pahit. Selama kita masih mengingat, mereka tidak pernah benar-benar pergi.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *