Kategori: Fiksi

Cerita Fiksi

  • Dibalik Meja Verifikasi

    Dibalik Meja Verifikasi

    Hari itu aku datang ke sekolah yang menjadi impianku sejak lama. Di sampingku ada Nenek yang berjalan pelan sambil membawa map plastik berisi semua berkas pendaftaran. Tangannya terlihat bergetar karena usia, tetapi beliau tetap tersenyum untuk menenangkanku.

    Sebaliknya, aku justru semakin gugup. Aku tahu nilai raporku tidak terlalu bagus. Aku juga tahu banyak calon murid lain yang mungkin lebih pintar dariku.

    Saat namaku dipanggil, jantungku berdegup semakin kencang. Aku dan Nenek duduk di depan seorang bapak yang bertugas sebagai verifikator.

    Beliau menyambut kami dengan senyum hangat.

    “Silakan duduk.”

    Entah kenapa, hanya dengan mendengar cara beliau berbicara, rasa takutku sedikit berkurang. Beliau mulai memeriksa berkas satu per satu. Sesekali beliau bertanya tentang data yang ada di formulir. Aku menjawab sebisaku. Lalu pandangannya berhenti pada kartu keluarga. Beliau terlihat memperhatikan sesuatu.

    “Dimas tinggal dengan Nenek?”

    Aku mengangguk.

    “Iya, Pak.”

    “Kalau Ayah?”

    Pertanyaan itu membuatku terdiam sesaat. Aku tidak suka menceritakan hal itu kepada orang lain. Namun wajah beliau terlihat tulus, seolah benar-benar ingin mendengarkan.

    “Ayah meninggal waktu saya masih SD, Pak.”

    Beliau langsung menghentikan aktivitasnya sejenak. Wajahnya berubah lebih lembut.

    “Oh begitu…”

    Tidak ada pertanyaan yang terdengar menghakimi. Tidak ada ekspresi kasihan yang berlebihan. Hanya sebuah tatapan yang membuatku merasa dimengerti. Beliau lalu bertanya dengan pelan.

    “Kalau Ibu?”

    Aku menunduk.

    “Ibu sudah menikah lagi, Pak. Sekarang tinggal di luar kota.”

    “Jadi sekarang tinggal berdua dengan Nenek?”

    “Iya, Pak.”

    Aku melihat beliau melirik ke arah Nenek yang duduk di sampingku. Nenek tersenyum kecil.

    Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa sangat hening. Aku tidak tahu kenapa, tetapi untuk pertama kalinya hari itu aku merasa ingin bercerita.

    Biasanya aku tidak suka membahas kehidupan pribadiku. Namun cara beliau mendengarkan membuatku nyaman. Beliau tidak memotong pembicaraan, tidak terburu-buru, benar-benar mendengarkan.

    “Lalu siapa yang membiayai sekolahmu selama ini?” tanyanya.

    “Nenek, Pak.”

    Aku melihat mata beliau sedikit membesar.

    “Nenek masih bekerja?”

    “Nenek jualan kecil-kecilan di rumah.”

    Beliau mengangguk pelan. Kemudian beliau menatapku dan mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat.

    “Kamu anak yang kuat.”

    Aku terdiam. Kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa, dadaku terasa hangat. Selama ini tidak pernah ada yang mengatakan hal seperti itu kepadaku.

    Kebanyakan orang hanya melihat kekuranganku. Anak yatim. Tinggal dengan seorang nenek tua. Nilai biasa-biasa saja.

    Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya seseorang melihat perjuanganku. Beliau kemudian bertanya tentang jurusan yang kupilih.

    Aku menjelaskan bahwa aku ingin masuk Teknik Elektronika. Aku bercerita tentang kesukaanku memperbaiki barang-barang rusak. Tentang kipas angin yang pernah berhasil kuhidupkan kembali. Tentang radio tua yang kubongkar berkali-kali sampai akhirnya berfungsi lagi.

    Beliau tersenyum mendengarkan ceritaku.

    “Berarti kamu memang suka bidang ini ya, suka ngoprek….?”

    “Iya, Pak.”

    “Kalau diterima, apa yang ingin kamu lakukan?”

    Aku tidak langsung menjawab. Ada banyak hal yang ingin kukatakan.

    Namun yang keluar justru kalimat yang paling jujur dari hatiku.

    “Saya ingin cepat punya kemampuan, Pak.”

    Beliau mengangguk.

    Aku melanjutkan.

    “Supaya nanti bisa bekerja.”

    “Untuk membantu Nenek?”

    Aku tersenyum dan mengangguk.

    Saat itulah aku melihat beliau menarik napas panjang. Seolah sedang menahan sesuatu. Mungkin rasa haru. Mungkin juga rasa prihatin. Tetapi beliau tetap menjaga sikap profesionalnya.

    Beliau tidak menjanjikan apa pun, tidak mengatakan bahwa aku pasti diterima, juga tidak memberi harapan palsu. Namun sebelum kami selesai, beliau berkata,

    “Dimas, hasil seleksi nanti akan mengikuti aturan dan persaingan yang ada. Tetapi apa pun hasilnya, jangan pernah berhenti belajar.”

    Aku mengangguk.

    “Anak yang punya semangat seperti kamu akan selalu punya kesempatan untuk maju.”

    Aku hampir menangis mendengar kalimat itu. Bukan karena sedih. Tetapi karena merasa dihargai. Merasa didengarkan. Merasa ada seseorang yang benar-benar peduli terhadap ceritaku.

    Ketika proses verifikasi selesai, beliau berdiri dan menyalami kami.

    Beliau juga menyalami Nenek dengan hormat.

    “Sehat selalu ya, Nek.”

    Nenek tersenyum bahagia.

    Dalam perjalanan pulang, aku terus memikirkan pertemuan itu. Mungkin bagi beliau, aku hanya satu dari ratusan calon murid yang datang hari itu. Namun bagiku, beliau adalah orang yang membuatku percaya diri kembali.

    Beliau tidak bisa menentukan apakah aku diterima atau tidak. Tetapi beliau telah memberiku sesuatu yang lebih berharga. Keyakinan bahwa latar belakang keluargaku bukan alasan untuk menyerah. Dan sampai hari ini, aku masih mengingat wajah Pak Verifikator itu.

    Orang yang di tengah tumpukan berkas dan kesibukan pendaftaran, masih sempat melihat seorang anak yatim bukan sebagai objek angka dan nilai rapor yang harus dirangking, melainkan sebagai manusia yang sedang berjuang meraih masa depan.

  • Lebaran tanpa Cerita

    Lebaran tanpa Cerita

    Lebaran selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan kenangan. Bagi sebagian orang, ia datang dengan aroma opor ayam dan gema takbir bersahutan di langit malam. Tapi bagi saya, Lebaran tahun ini datang dengan sesuatu yang berbeda, sunyi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

    Pagi hari Lebaran tahun lalu, selepas shalat Ied di lapangan kampung, Bapak masih berdiri tegap di depan rumah. Mengenakan baju koko putih yang sudah agak kusam, tapi selalu disetrika rapi. Sarungnya dililit dengan khas, dan peci hitam itu tidak pernah lepas dari kepalanya. Ia menyambut tamu dengan senyum yang hangat, suara yang mantap, dan cerita-cerita yang selalu sama, tapi entah kenapa, tak pernah membosankan.

    Tahun ini, Bapak masih duduk di kursi yang sama di ruang tamu. Tapi sorot matanya berbeda. Kosong, seperti sedang mencari sesuatu yang tak ia temukan.

    “Pak, ini siapa?” tanya saya pelan, sambil menunjuk diri sendiri.

    Bapak menatap saya lama. Lama sekali. Lalu tersenyum.

    “Siapa ya?” katanya balik bertanya dengan raut bingung.

    Dada saya sesak. Saya hanya bisa tersenyum kembali, meskipun rasanya seperti ada yang runtuh di dalam diri saya. Bapak saya, seorang pensiunan guru SD, orang yang paling saya kagumi, kini mulai lupa dengan dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.

    *****

    Bapak sering bercerita tentang masa kecilnya. Tentang bagaimana ia dulu tidak mau sekolah. Katanya, sekolah itu membosankan. Duduk diam, mendengarkan guru, menghafal pelajaran, semua itu menjadi beban baginya. Makanya, selepas lulus SMP ia lebih memilih berjualan kerupuk keliling desa.

    “Dulu Bapak itu bandel,” katanya sambil tertawa. “Pagi-pagi pura-pura berangkat sekolah, tapi sebenarnya belok ke pabrik kerupuk Mang Dullah.”

    Saya selalu tertawa setiap mendengar cerita itu. Sulit membayangkan seorang guru seperti Bapak dulunya suka membolos sekolah.

    “Kenapa Bapak lebih pilih jualan kerupuk?” tanya saya dulu.

    “Karena di jalan itu hidup,” jawabnya. “Ada banyak orang, ada cerita, ada uang juga tentunya,” tambahnya sambil mengedipkan mata.

    Tapi ada satu hal yang membuat saya kagum.

    Meski tidak mau melanjutkan sekolah, Bapak justru ikut kursus bahasa Inggris di kota, Seminggu dua kali, Bapak membawa kerupuk jualannya ke arah ibu kota kabupaten. Jalan sepanjang 12 kilometer ditempuhnya, bukan sekedar jualan kerupuk. Tapi tujuan akhirnya adalah sebuah lembaga kursus bahasa paling tua di kota.

    “Lho, katanya tidak suka belajar?” tanya saya.

    “Itu beda,” katanya. “Bahasa Inggris itu seru. Seperti punya kunci untuk membuka dunia.”

    Saya tidak pernah benar-benar mengerti maksudnya waktu itu. Sampai suatu hari, saya melihat sendiri. Seorang turis asing datang ke Astana Gede, saya dan Bapak kebetulan sedang jalan-jalan di sana. Orang-orang hanya menatap bingung, tapi Bapak maju dengan percaya diri.

    Can I help you?” katanya dengan logat yang tidak sempurna, tapi jelas dan berani.

    Turis itu tersenyum dan mulai berbicara. Bapak melayani dengan lancar. Saya berdiri di sampingnya, terpukau. Sejak saat itu, saya tahu, Bapak memang berbeda.

    *****

    Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Kakak tertua Bapak, yang saya panggil Wa Suryo, tidak setuju dengan pilihan hidupnya.

    “Kamu itu harus sekolah!” kata Wa Suryo suatu hari, seperti yang sering diceritakan Bapak.

    “Tapi saya sudah bisa cari uang,” bantah Bapak.

    “Ini bukan soal uang. Masa depanmu itu penting,” jawab Uwa tegas.

    Akhirnya, dengan setengah hati, Bapak dipaksa melanjutkan sekolah ke SPG, Sekolah Pendidikan Guru.

    Awalnya, ia menjalani semuanya dengan ogah-ogahan. Tapi seperti yang sering terjadi, sesuatu berubah di tengah jalan.

    “Waktu pertama kali praktik mengajar, Bapak lihat anak-anak itu… polos,” katanya suatu malam. “Mereka butuh orang yang bisa mendidik, bukan cuma mengajarkan pelajaran, tapi juga membekali mereka cara hidup.”

    Dari situlah, katanya, ia mulai menemukan makna. Bapak yang dulu sering kabur dari sekolah, justru menjadi guru. Dan bukan sekadar guru biasa. Ia dikenal sebagai guru yang sabar, yang tidak hanya mengajar dengan buku, tapi dengan hati. Ia sering mengajak murid-muridnya bermain sambil belajar, bahkan sesekali menyelipkan bahasa Inggris sederhana dalam pelajaran.

    Good morning!” katanya setiap pagi di kelas, yang kemudian diikuti oleh murid-muridnya dengan penuh semangat.

    Saya tumbuh dengan cerita-cerita itu. Dengan sosok Bapak yang tidak sempurna, tapi penuh perjuangan. Ia bukan orang yang lahir dari keluarga berada, bukan pula yang selalu berada di jalur lurus. Tapi justru dari belokan-belokan itulah, ia menemukan jalannya. Dan saya bangga. Sangat bangga.

    *****

    Lebaran tahun ini, rumah Bapak tetap ramai. Saudara datang silih berganti. Tawa terdengar, makanan tersaji, anak-anak bermain berlarian di halaman yang luas.

    Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang berbeda. Bapak tidak lagi menjadi pusat cerita. Ia duduk diam, sesekali tersenyum, tapi tidak benar-benar terlibat.

    Seorang tamu datang, muridnya waktu SD.

    “Pak Guru!” sapa pria itu dengan wajah sumringah. “Masih ingat saya? Dulu saya murid Bapak di SD Cieurih 2!”

    Bapak menatapnya. Lama. Lalu tersenyum.

    “Maaf, kamu siapa ya?” katanya pelan.

    Pria itu terdiam. Senyumnya perlahan memudar, tapi ia berusaha tetap tegar.

    “Saya… murid Bapak, Pak.”

    “Oh…” jawab Bapak singkat.

    Saya melihat mata pria itu berkaca-kaca. Ia menunduk, mencium tangan Bapak dengan takzim, lalu berpamitan. Saya ingin menghentikannya, ingin menjelaskan, tapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokan.

    *****

    Malam harinya, setelah tak ada lagi tamu berkunjung, saya duduk di samping Bapak.

    “Pak,” kata saya pelan, “dulu Bapak ingin jadi apa?”

    Bapak menatap saya. Kali ini, matanya sedikit lebih hidup.

    “Jadi… penjual kerupuk,” jawabnya sambil tersenyum kecil.

    Saya tertawa pelan.

    “Terus kenapa jadi guru?”

    Ia terdiam sejenak. Lalu berkata, “Karena…dipaksa sama Uwa kamu.”

    Kami sama-sama tertawa.

    Untuk sesaat, rasanya seperti Bapak yang dulu kembali. Saya menggenggam tangan Bapak. Tangan yang dulu kuat menggandeng saya ke sekolah. Tangan yang terampil menulis dengan kapur tulis di papan tulis, yang membimbing murid-muridnya, yang bekerja tanpa lelah.

    Kini, tangan itu terasa lebih rapuh.

    “Pak,” kata saya, “terima kasih ya.”

    “Untuk apa?” tanyanya.

    “Untuk semuanya.”

    Bapak tersenyum, tanpa benar-benar mengerti.

    Tapi tidak apa-apa.

    Karena saya tahu, meskipun ingatannya memudar, semua yang telah ia lakukan akan tetap hidup. Di dalam diri saya, dalam diri murid-muridnya, dalam setiap cerita yang pernah ia bagikan.

    Lebaran kali ini memang berbeda. Tidak ada lagi cerita panjang dari Bapak di ruang tamu. Tidak ada lagi tawa kerasnya yang memenuhi rumah. Tidak ada lagi nasihat-nasihat sederhana namun selalu tepat sasaran. Tapi ada sesuatu yang tetap tinggal.

    Kenangan.

    Dan mungkin, itulah makna Lebaran yang sesungguhnya, bukan hanya tentang kembali ke rumah, tapi juga kembali ke hati. Mengingat, menghargai, dan menerima perubahan yang tidak bisa kita hindari. Saya menatap Bapak yang kini terlelap di kursinya.

    “Selamat Lebaran, Pak,” bisik saya pelan.

    Dan untuk pertama kalinya, saya sadar, tidak semua kehilangan harus terasa pahit. Selama kita masih mengingat, mereka tidak pernah benar-benar pergi.