{"id":1248,"date":"2026-07-08T14:24:11","date_gmt":"2026-07-08T14:24:11","guid":{"rendered":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/?p=1248"},"modified":"2026-07-08T14:43:17","modified_gmt":"2026-07-08T14:43:17","slug":"mumpung-lagi-syantieq","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/2026\/07\/08\/mumpung-lagi-syantieq\/","title":{"rendered":"Mumpung Lagi Syantieq!"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada sesuatu yang menarik ketika angka di odometer motor berhenti sejenak di <strong>24.242,4 kilometer<\/strong>. Angkanya terasa unik. Empat digit &#8220;24&#8221; berbaris rapi, lalu ditutup angka &#8220;2&#8221;, sebelum akhirnya si angka &#8220;4&#8221; kecil di belakang koma ikut melengkapi formasi. Rasanya sayang kalau hanya lewat begitu saja tanpa diabadikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adzan Ashar terdengar dari Masjid Agung Bandung, saat saya terjebak macet di jalan Pasar Barat, belakang Pasar Baru Trade Center. Sebuah mobil <em>box<\/em> sedang berusaha parkir di jalan sempit tersebut untuk menurunkan muatannya. Saat itulah pemandangan &#8216;cantik&#8217; seolah sengaja hadir untuk diabadikan sebelum perjalanan berlanjut. Momen seperti ini hanya datang sekali karena beberapa meter kemudian angkanya pasti berubah. Jadi, mumpung lagi cantik, memotret odometer rasanya bukan hal yang berlebihan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sambil menunggu lalu-lintas kembali lancar, otak saya berpikir keras untuk membuat cocokologi dengan angka 24 ini. Ternyata saya sedang berhenti tepat di seberang toko No. 24 A. Samping kiri saya ada 2 penjual rimpang\/rempah-rempah, 4 penjual pisang berderet di jalan Belakang Pasar dimana saya akan mengarah kesana sebelum masuk jalan Dulatif. Sebuah tanda apakah dengan angka 2 dan 4 ini? Dan yang mengejutkan, hari ini tanggal 8 Juli 2026 adalah hari ke-24 dalam kalender Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dihitung dari mulai pendaftaran Tahap 1 yaitu tanggal 15 Juni 2026.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah tulisan refleksi dari deretan angka 24 ini. Sesampainya di rumah, saya mulai menyalakan laptop dan membuka Microsoft Word tepat pukul 16.24 untuk memulai membuat <em>draft<\/em> tulisan tentang motor saya yang hari ini odometernya menunjukkan angka yang cantik, sebagaimana foto ilustrasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Motor <strong>Yamaha Jupiter Z1<\/strong> ini saya beli pada bulan Mei<strong> 2024<\/strong>. Saat pertama kali keluar dari dealer, angka di spedometernya masih sangat kecil. Jarum, mesin, dan ban semuanya masih baru. Bahkan mungkin baut-bautnya pun masih saling berkenalan. Tidak ada yang menyangka kalau dalam waktu sekitar dua tahun lebih, motor ini akan mencatat perjalanan sejauh 24.242,4 kilometer.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau dihitung-hitung, angka itu sebenarnya tidak terlalu fantastis bagi sebagian orang. Ada yang dalam setahun sudah menembus tiga puluh ribu kilometer. Ada pula yang motornya lebih sering tidur di garasi daripada melihat matahari pagi. Jupiter Z1 saya berada di tengah-tengah. Tidak terlalu sibuk, tapi juga tidak menganggur. Bisa dibilang, motornya bekerja sesuai jam kantor, hanya saja kadang lembur kalau ada acara sekolah, rapat, atau sekadar mencari kopi. Kadang juga antar-jemput istri ke tempat kerjanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang menarik dari sebuah odometer adalah ia tidak pernah bercerita ke mana kita pergi. Ia hanya mencatat jaraknya. Tidak peduli apakah perjalanan itu menuju tempat yang menyenangkan, menghadiri undangan, mengantar keluarga, mencari komponen elektronik, atau bahkan hanya muter-muter karena salah belok. Baginya, semua sama: roda berputar, angka bertambah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, di balik setiap kilometer itu selalu ada cerita.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada perjalanan yang dimulai pagi-pagi sekali ketika udara masih dingin dan jalanan belum ramai. Ada juga perjalanan pulang sore hari ketika langit mulai berubah jingga dan badan sudah lelah. Pernah pula berkendara di bawah terik matahari yang membuat jok terasa seperti baru selesai dijemur. Sesekali harus berkenalan dengan hujan yang turun tanpa permisi. Jas hujan dipakai, sepatu basah, tetapi tujuan tetap harus dicapai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau motor ini bisa berbicara, mungkin ia akan protes.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bos, kita ke toko elektronik lagi?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Iya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Besok?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Iya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Lusa?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Iya juga.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin Jupiter Z1 saya diam-diam sudah hafal jalan menuju toko <em>sparepart<\/em> elektronik, sekolah, minimarket, dan warung makan favorit. Bahkan bisa jadi kalau suatu hari saya salah mengambil arah, motornya dalam hati berkata, &#8220;Kayaknya bukan lewat sini deh.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama 24.242,4 kilometer ini, motor juga mengajarkan satu hal sederhana: perjalanan yang jauh selalu tersusun dari putaran roda yang kecil-kecil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada odometer yang langsung meloncat dari angka nol menjadi dua puluh empat ribu. Semua bertambah sedikit demi sedikit. Satu kilometer, lalu dua, lalu seratus, lalu seribu, sampai akhirnya tanpa terasa angkanya sudah sepanjang ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasanya mirip dengan banyak hal dalam hidup. Keahlian bertambah sedikit demi sedikit. Pengalaman juga demikian. Bahkan sebuah proyek besar selalu dimulai dari langkah yang tampak sederhana. Sering kali kita ingin hasil yang cepat, padahal kenyataannya semua membutuhkan proses yang konsisten. Sama seperti odometer yang sabar menghitung setiap meter.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada hal lain yang saya sukai dari motor ini. Mesinnya sederhana, tetapi justru itu yang membuatnya menyenangkan. Tidak banyak drama. Yang penting bensin ada, oli diganti tepat waktu, rantai dirawat, ban cukup angin, lalu jalan lagi. Hubungan kami cukup harmonis. Saya merawat dia, dia mengantar saya ke mana-mana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Walaupun, sesekali dia memberi kode. Misalnya ketika suara rantai mulai berbunyi halus. Atau ketika ban mulai terasa agak licin. Untungnya motor tidak bisa mengirim pesan WhatsApp. Bayangkan kalau setiap pagi muncul notifikasi:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Selamat pagi. Oli tinggal 18%. Mohon segera dijadwalkan spa.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Atau,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>&#8220;Hari ini saya kurang semangat. Boleh isi Pertamax?&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untung tidak begitu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melihat angka 24.242,4 kilometer juga membuat saya sadar bahwa kendaraan bukan sebatas alat transportasi. Ia menjadi saksi perjalanan sehari-hari yang sering kali dianggap biasa. Padahal justru rutinitas itulah yang perlahan membentuk kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagian besar perjalanan bukanlah perjalanan yang spektakuler. Tidak selalu menuju gunung, pantai, atau kota yang jauh. Lebih sering menuju tempat yang sama berulang kali. Tetapi dari pengulangan itulah lahir tanggung jawab, kedisiplinan, dan kebiasaan baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Angka di odometer sebenarnya hanyalah angka. Namun di baliknya tersimpan ribuan momen yang tidak ikut tercetak. Tawa bersama teman di perjalanan, berhenti sejenak membeli minuman dingin, berteduh di bawah atap warung ketika hujan turun deras, sampai momen ketika harus mendorong motor beberapa meter karena lupa mengisi bensin. Ya, yang terakhir ini semoga jangan terlalu sering terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya juga menyadari satu hal lucu. Ketika angka odometer masih kecil, rasanya ingin cepat-cepat bertambah. Tetapi begitu mencapai angka yang unik seperti 24.242,4, malah sibuk mencari tempat aman untuk berhenti, mengeluarkan ponsel, lalu memotret spedometer sebelum angkanya berubah lagi. Kalau terlambat sedikit saja, tidak akan ada kesempatan kedua untuk mendapatkan susunan angka yang sama persis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin memang begitu cara hidup mengingatkan kita. Ada momen-momen yang hanya datang sekali. Tidak perlu selalu besar, tidak harus selalu luar biasa. Kadang hanya berupa susunan angka yang menarik di spedometer motor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari ini, Jupiter Z1 saya telah mencatat <strong>24.242,4 kilometer<\/strong> sejak pertama kali mengaspal pada Mei <strong>2024<\/strong>. Entah berapa angka berikutnya yang akan tercapai. Yang jelas, setiap kilometer baru akan membawa cerita baru pula.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan, agar cerita deretan angka 24 ini makin cantik dan unik, saya posting tulisan jam 21.24 (UTC+7\/WIB)sesuai jam di laptop saya. Sementara, waktu di <em>dashboard<\/em> akun saya pada website ini menunjukkan jam 2.24 pm (UTC GMT+0)- perbedaan setingan waktu. Anda bisa tanya admin web ini, Pak Tamam Fuadi, untuk memastikan di <em>dashboard<\/em> admin kapan tulisan di-<em>publish<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semoga roda terus berputar, mesin tetap sehat, jalan yang dilalui semakin bermanfaat, dan setiap perjalanan, sejauh atau sedekat apa pun, selalu menjadi bagian dari kisah yang layak dikenang. Pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah angka di odometer, melainkan cerita yang berhasil dikumpulkan dan amal yang dilakukan di sepanjang jalan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada sesuatu yang menarik ketika angka di odometer motor berhenti sejenak di 24.242,4 kilometer. Angkanya terasa unik. Empat digit &#8220;24&#8221; berbaris rapi, lalu ditutup angka &#8220;2&#8221;, sebelum akhirnya si angka &#8220;4&#8221; kecil di belakang koma ikut melengkapi formasi. Rasanya sayang kalau hanya lewat begitu saja tanpa diabadikan. Adzan Ashar terdengar dari Masjid Agung Bandung, saat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1249,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[32],"tags":[],"class_list":["post-1248","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-literasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1248","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1248"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1248\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1254,"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1248\/revisions\/1254"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1249"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1248"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1248"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn4padalarang.sch.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1248"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}