Tahun ajaran baru selalu menjadi momentum penting bagi setiap satuan pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Selain menyambut murid baru melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sekolah juga melakukan berbagai persiapan agar proses pembelajaran, penguatan karakter, hingga pelaksanaan program vokasi dapat berjalan dengan optimal sejak hari pertama.
Suasana itulah yang terasa di SMKN 4 Padalarang ketika sekolah menerima kunjungan Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (PSMK) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Edy Purwanto, M.M. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda monitoring kesiapan SMK dalam menyambut Tahun Ajaran 2026/2027 sekaligus memastikan kesiapan pelaksanaan MPLS bagi murid baru.
Namun, kunjungan tersebut tidak berhenti pada kegiatan monitoring semata. Kehadiran beliau menjadi kesempatan berharga bagi para guru untuk berdialog secara langsung mengenai berbagai isu strategis pendidikan vokasi. Dalam suasana yang hangat dan penuh semangat, diskusi berkembang menjadi sebuah Focus Group Discussion (FGD) sederhana yang berlangsung secara spontan. Pertanyaan, gagasan, dan pengalaman mengalir dari para guru, sementara Dr. H. Edy Purwanto, MM memberikan banyak pandangan yang memperkaya perspektif mengenai arah pengembangan SMK di Jawa Barat.
Dipandu oleh Kepala SMKN 4 Padalarang, Dr. Edi Gunawan, S.Pd., M.Pd.,beberapa isu penting yang mengemuka dalam diskusi antara lain mengenai: landasan pendidikan vokasi, penguatan konsep link and match antara SMK dan dunia kerja, implementasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang semakin berkualitas, PKL sebagai mata pelajaran, pengembangan SMK berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sebagai upaya meningkatkan kemandirian sekolah, pentingnya Teaching Factory (Tefa) sebagai wahana pembelajaran berbasis produksi dan jasa, peran tracer study dalam mengukur keberhasilan lulusan, hingga attitude guru yang harus menjadi contoh buat murid sebagai individu yang dipersiapkan untuk membangun masa depan sesuai potensi dan pilihannya.
Salah satu topik yang menarik perhatian dalam diskusi tersebut adalah bagaimana pelaksanaan PKL seharusnya tidak lagi dipandang sebagai sekadar pemenuhan jam kurikulum, tetapi menjadi bagian dari strategi membangun masa depan peserta didik. Gagasan inilah yang kemudian menginspirasi tulisan pertama dalam serial catatan FGD ini, yaitu mengenai PKL ber-Orientasi BMW (Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha).
PKL merupakan salah satu program penting dalam pendidikan vokasi. Selama ini, pelaksanaan PKL di banyak SMK umumnya berfokus pada penempatan siswa di dunia kerja agar memperoleh pengalaman kerja di industri. Meskipun pendekatan tersebut tetap relevan, terdapat satu aspek yang sering kali belum menjadi perhatian, yaitu kesesuaian antara tempat PKL dengan orientasi masa depan setiap peserta didik.
Dalam konsep pengembangan lulusan SMK dikenal orientasi BMW, yaitu Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha. Ketiga pilihan tersebut sama pentingnya dan menjadi indikator keberhasilan pendidikan vokasi. Oleh karena itu, pelaksanaan PKL semestinya tidak hanya bertujuan memenuhi kewajiban kurikulum, tetapi juga menjadi bagian dari strategi mempersiapkan siswa mencapai tujuan karier yang telah dipilihnya.
Setiap siswa memiliki cita-cita yang berbeda. Ada yang sejak awal ingin segera bekerja setelah lulus, ada yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan ada pula yang memiliki semangat membangun usaha sendiri. Perbedaan orientasi tersebut semestinya diakomodasi dalam proses penempatan PKL sehingga pengalaman belajar di dunia nyata benar-benar memberikan manfaat maksimal.
Pertama, bagi siswa yang memiliki orientasi Bekerja, penempatan PKL sebaiknya diarahkan pada perusahaan yang memiliki budaya industri yang kuat, sistem kerja yang profesional, serta peluang rekrutmen lulusan.
Lingkungan PKL yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan bidang keahlian masing-masing siswa. Bagi siswa Teknik Elektronika Industri dapat ditempatkan di perusahaan manufaktur, otomasi, atau maintenance industri; siswa Teknik Komputer dan Jaringan di perusahaan penyedia layanan jaringan, pusat data (data center), penyedia layanan internet (ISP), atau divisi teknologi informasi; siswa Rekayasa Perangkat Lunak di perusahaan pengembang perangkat lunak, startup digital, maupun divisi pengembangan aplikasi; siswa Kuliner di hotel, restoran, katering, atau industri pengolahan pangan; siswa Bisnis Retail dan Pemasaran di perusahaan ritel modern, distributor, maupun perusahaan yang memiliki divisi pemasaran dan penjualan; siswa Teknik Kimia Industri di laboratorium pengujian, industri kimia, industri pangan, atau perusahaan yang menerapkan pengendalian mutu (quality control); sedangkan siswa Agribisnis Tanaman dapat ditempatkan di perusahaan agribisnis, perkebunan, greenhouse, pembibitan, maupun pusat budidaya tanaman modern. Melalui lingkungan kerja yang relevan tersebut, siswa akan memperoleh pengalaman nyata mengenai standar operasional, budaya kerja profesional, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), komunikasi di tempat kerja, penyelesaian masalah, serta etos kerja yang dibutuhkan untuk memasuki dunia industri.
Siswa tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga memahami ekspektasi dunia kerja yang sesungguhnya. Bahkan, apabila memungkinkan, sekolah dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan yang memiliki rekam jejak merekrut peserta PKL menjadi karyawan setelah lulus. Dengan demikian, PKL benar-benar menjadi jembatan menuju dunia kerja.
Kedua, siswa yang memilih Melanjutkan pendidikan membutuhkan pengalaman PKL yang mampu memperkuat kemampuan akademik dan berpikir analitis.
Penempatan mereka tidak selalu harus berada pada perusahaan dengan ritme produksi yang tinggi. Mereka dapat ditempatkan pada institusi yang memiliki budaya penelitian dan pengembangan, laboratorium pengujian, pusat pelatihan, politeknik, balai pelatihan, atau divisi research and development (R&D) di perusahaan.
Melalui lingkungan tersebut, siswa dapat belajar melakukan observasi, pengumpulan data, analisis permasalahan, dokumentasi teknis, hingga pengembangan inovasi sederhana. Pengalaman tersebut akan menjadi bekal berharga ketika mereka memasuki pendidikan tinggi yang menuntut kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan penyusunan karya ilmiah.
Ketiga, siswa dengan orientasi Wirausaha memerlukan pengalaman PKL yang berbeda lagi.
Mereka membutuhkan lingkungan yang memperlihatkan bagaimana sebuah usaha dibangun, dijalankan, dipasarkan, dan dikembangkan. Oleh karena itu, tempat PKL tidak harus selalu perusahaan besar. Justru usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bengkel elektronika, service pc/laptop, jasa instalasi listrik, penyedia layanan CCTV, maupun startup teknologi dapat menjadi tempat belajar yang sangat efektif.
Di lingkungan tersebut siswa dapat melihat secara langsung proses mencari pelanggan, menentukan harga, mengelola stok barang, melakukan pelayanan purna jual, membangun relasi dengan konsumen, hingga mengelola arus kas usaha. Pengalaman seperti inilah yang sering kali tidak diperoleh apabila PKL hanya berfokus pada pekerjaan teknis di perusahaan besar.
Strategi PKL berbasis BMW memberikan manfaat tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi sekolah dan dunia usaha.
Sebelum penempatan PKL dilakukan, sekolah dapat melaksanakan pemetaan orientasi karier siswa melalui angket, wawancara, diskusi bersama guru BK, wali kelas, guru produktif, serta orang tua. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan tempat PKL yang paling sesuai dengan tujuan masing-masing siswa.
Dengan demikian, penempatan peserta PKL tidak lagi dilakukan secara acak, melainkan berdasarkan kebutuhan pengembangan kompetensi dan rencana masa depan peserta didik.
Pendekatan ini juga diyakini akan meningkatkan motivasi belajar siswa. Ketika mereka merasa bahwa tempat PKL selaras dengan cita-citanya, mereka akan lebih bersemangat mengikuti setiap kegiatan di industri. Mereka tidak sekadar hadir untuk memenuhi jam praktik, tetapi benar-benar belajar demi mempersiapkan masa depan yang telah direncanakan.
Pada akhirnya, keberhasilan PKL tidak hanya diukur berdasarkan jumlah hari kerja yang dijalani siswa di dunia kerja, tetapi juga dari seberapa besar pengalaman tersebut mampu mengantarkan mereka menuju tujuan setelah lulus.
Sudah saatnya paradigma pelaksanaan PKL bergeser dari pendekatan “yang penting mendapat tempat PKL” menjadi “mendapat tempat PKL yang paling tepat.” Ketika penempatan dilakukan berdasarkan orientasi masa depan siswa, maka PKL tidak hanya menghasilkan pengalaman kerja, tetapi juga menjadi investasi yang memperkuat kesiapan lulusan memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan, maupun membangun usaha secara mandiri.
Inilah salah satu gagasan menarik yang mengemuka dalam diskusi bersama Kepala Bidang PSMK Disdik Jawa Barat. Tentu masih banyak pemikiran lain yang layak untuk dibagikan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun pendidikan vokasi yang semakin adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Bersambung…
Pada tulisan berikutnya, kami akan mengulas topik lain yang juga menjadi pembahasan dalam FGD tersebut.


