Menjadi bagian dalam proses PCMB (Pemetaan Calon Murid Baru) dan SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) memberikan pengalaman yang unik. Awalnya saya mengira tugas ini hanya soal memeriksa berkas, mencocokkan data, dan memastikan semua persyaratan terpenuhi. Ternyata tidak sesederhana itu. Di balik meja pendaftaran, saya menemukan berbagai kisah yang kadang membuat geleng-geleng kepala, kadang membuat tertawa, dan sesekali membuat saya bertanya, “Sebenarnya yang mau sekolah ini siapa?”
Salah satu fenomena yang paling sering saya temui adalah calon murid yang bahkan tidak tahu jurusan yang ia pilih. Ya, Anda tidak salah baca. Ketika saya bertanya, “Kamu daftar jurusan apa?”
Jawaban yang muncul sering kali bukan nama jurusan, melainkan ekspresi kebingungan yang cukup panjang untuk dijadikan wallpaper.
Ada yang menjawab, “Sebentar, Pak, saya tanya ibu dulu.”
Ada yang membuka ponsel, lalu menelepon orang tuanya.
Ada juga yang dengan polos berkata, “Kurang tahu, Pak. Yang daftar ibu.”
Saat itu saya mulai berpikir bahwa mungkin yang sedang mendaftar sebenarnya bukan calon murid, melainkan orang tuanya. Anak hanya berfungsi sebagai pelengkap administrasi yang kebetulan memiliki nama di formulir.
Fenomena ini semakin menarik ketika proses perbaikan berkas dilakukan. Seorang calon murid datang karena ada data yang perlu diperbaiki di aplikasi. Saya menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan. Ia mengangguk.
Saya bertanya, “Sudah paham?”
Ia mengangguk lagi.
Lalu saya lanjut bertanya, “Nanti bisa memperbaiki sendiri?”
Ia menjawab dengan jujur, “Tidak tahu, Pak.”
Ternyata selama proses pendaftaran, yang membuka aplikasi adalah orang tua, kakak, tetangga, guru BK, operator sekolah, bahkan mungkin kucing peliharaan di rumah lebih paham aplikasi dibandingkan dirinya. Paradoks dengan nilai Informatika di rapornya yang tertera: 97.
Padahal yang akan menjalani pendidikan selama tiga tahun adalah si anak, bukan rombongan pendukung yang membantunya mendaftar.
Temuan kedua bahkan lebih menghibur sekaligus mengkhawatirkan. Dalam banyak kasus, yang paling bersemangat mengikuti proses pendaftaran justru ibunya. Sang ibu datang dengan penuh energi. Semua berkas tersusun rapi dalam map. Jadwal pendaftaran dihafal. Informasi terbaru selalu diikuti. Ranking sementara dipantau lebih sering, dengan mengesampingkan terlebih dahulu harga cabai di pasar.
Sementara itu, calon muridnya duduk di samping. Melehoy. Wajahnya datar. Ekspresinya seperti orang yang sedang menunggu antrean tambal ban.
Ketika ibunya sibuk bertanya tentang peluang masuk sekolah, jalur pendaftaran, kuota, dan strategi pemilihan jurusan, sang anak justru asyik melihat video pendek di ponsel.
Kadang saya ingin memastikan.
“Yang mau sekolah siapa, Bu?”
Tetapi tentu pertanyaan itu hanya saya simpan dalam hati demi menjaga suasana tetap kondusif.
Ada satu kejadian yang masih saya ingat. Seorang ibu menjelaskan panjang lebar alasan memilih suatu jurusan. Penjelasannya sangat detail. Mulai dari peluang kerja, prospek masa depan, hingga kebutuhan industri. Setelah hampir lima menit berbicara, saya menoleh kepada anaknya dan bertanya, “Kamu setuju masuk jurusan itu?”
Anaknya menjawab singkat.
“Terserah.”
Saya hampir tersedak.
Ibunya berbicara seperti sedang mempresentasikan proposal bisnis miliaran rupiah, sementara pemilik masa depan yang sedang dibahas menjawab dengan satu kata: “Terserah!”.
Fenomena ini sebenarnya lucu, tetapi juga menyimpan pesan penting. Memilih sekolah dan jurusan bukan sekadar urusan administrasi. Ini adalah keputusan yang akan memengaruhi perjalanan belajar seorang anak selama beberapa tahun ke depan.
Orang tua memang memiliki niat baik. Mereka ingin memberikan yang terbaik untuk putra-putrinya. Namun semangat orang tua tidak bisa menggantikan motivasi dari dalam diri anak. Jurusan terbaik akan terasa berat jika dipilih tanpa minat. Sekolah favorit pun bisa terasa membosankan jika muridnya sendiri tidak memiliki tujuan.
Karena itu, sebelum sibuk berburu informasi pendaftaran, ranking sementara, atau strategi memilih sekolah, ada satu hal yang mungkin lebih penting untuk dilakukan: mengajak anak berdiskusi. Tanyakan apa yang ia sukai. Tanyakan cita-citanya. Tanyakan bidang yang membuatnya penasaran. Dan yang paling penting, pastikan ia ikut terlibat dalam proses pendaftaran. Minimal, kalau nanti ditanya jurusan yang dipilih, ia tidak perlu menelepon ibunya terlebih dahulu.
Sebab tujuan pendidikan bukan hanya membuat anak diterima di sekolah yang diinginkan, tetapi juga membuatnya belajar bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri. Kalau sejak proses pendaftaran saja semua keputusan diambil orang lain, jangan heran jika nanti ketika sekolah dimulai, yang tetap paling semangat berangkat adalah ibunya, sementara anaknya masih lunglai seperti sedang menjalani hukuman sosial.
Dan percayalah, sebagai orang yang terlibat dalam proses PCMB/SPMB, saya sudah melihat cukup banyak bukti untuk mendukung teori tersebut.
